Untaian Akidah Mukmin dan Mukminah
Bagian 7
Alhamdulillaah, kita senantiasa memuji Allah ta’ala atas limpahan karunia-Nya dan karena kesempurnaan Dzat, Nama, Sifat dan Perbuatan-perbuatan-Nya. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikut mereka dalam kebaikan. Amma ba’du. Ikhwan fid diin rahimakumullaah…pembicaraan kita pada kesempatan ini adalah tentang pelajaran ketujuh dan kedelapan dari kitab Tsalatsatul Ushul karya Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullahu ta’ala. Kita memohon kepada Allah agar pertemuan kita ini adalah pertemuan yang berbarakah dan menumbuhkan rasa takut kita kepada Allah jalla jalaaluh. Pada tulisan-tulisan sebelumnya kita mengetahui bahwa ilmu itu dibangun di atas rasa kasih sayang dan hendaknya kita pandai memanfaatkan waktu yang Allah berikan kepada kita. Selain itu kita juga sudah mengetahui tentang wajibnya berilmu, beramal dan berdakwah serta bersabar. Kini kita dengarkan penuturan Syaikh rahimahullah. Beliau mengatakan,
“Asy Syafi’i rahimahullahu ta’ala mengatakan, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini (surat Al ‘Ashr) saja niscaya ini sudah cukup bagi mereka”. Al Bukhari rahimahullahu ta’ala juga berkata, “Bab didahulukannya ilmu sebelum perkataan dan perbuatan. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala, “Ketahuilah bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah maka minta ampunlah atas dosa-dosamu” (QS. Muhammad : 19) Maka di sini Allah memulai dengan ilmu sebelum perkataan dan perbuatan” (Tsalatsatul Ushul, dinukil dari Syarh Kitab Tsalatsatul Ushul, Penerbit Daar Jamilurrahman As Salafy, hal. 3-4)
Pelajaran ketujuh
Kunci-kunci kebahagiaan
Saudaraku, sungguh negeri akhirat menanti di hadapanmu. Adapun dunia dia akan hilang dan binasa. Sehingga orang yang beruntung adalah yang bisa mengisi kehidupan dunianya dengan sebaik-baiknya. Karena orang yang tidak pandai memanfaatkan kesempatan niscaya akan menuai penyesalan di hari kemudian, ya .. bukankah demikian. Allah pun telah mengingatkan kita tentang hal ini dalam firman-Nya yang artinya, “Demi masa, sesungguhnya seluruh manusia benar-benar berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang beriman, beramal shalih, saling menasihati untuk menetapi kebenaran dan saling menasihati untuk menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr [103] : 1-3)
Seorang ulama ahli tafsir kenamaan dari negeri Arab Saudi Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah mengatakan, “Allah ta’ala bersumpah dengan masa; yaitu waktu malam dan siang yang menjadi tempat terjadinya perbuatan-perbuatan hamba dan amal-amal mereka. Allah bersumpah bahwa sesungguhnya seluruh insan mengalami kerugian. Makna rugi adalah lawan dari keberuntungan. Kerugian itu sendiri bertingkat-tingkat dan beraneka ragam. Terkadang kerugian itu bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang rugi di dunia dan di akhirat yang kehilangan nikmat surga dan berhak tinggal di dalam neraka. Dan terkadang kerugian itu bersifat parsial/sebagian saja. Karena kerugian itu mencakup dua tipe ini maka Allah pun menyatakan secara umum bahwa kerugian itu meliputi semua insan, kecuali orang yang memiliki empat ciri :
(Pertama) Mengimani segala hal yang diperintahkan Allah untuk diimani. Dan iman tidak akan bisa terbentuk tanpa adanya ilmu, karena pada hakikatnya iman adalah cabang dari ilmu. Sehingga iman tidak akan sempurna tanpa landasan ilmu.
(Kedua) Beramal shalih. Pernyataan ini sudah mencakup segala bentuk perbuatan baik lahir dan batin, baik yang terkait dengan hak Allah maupun yang berkaitan dengan hak hamba-hamba-Nya, yang hukumnya wajib maupun yang sunnah.
(Ketiga) Saling menasihati untuk menetapi kebenaran. Kebenaran yang dimaksud adalah iman dan amal shalih. Sehingga maknanya adalah : Mereka saling menasihati satu dengan yang lainnya untuk menetapi kebenaran itu dan memberikan motivasi untuk melakukannya serta berusaha memberikan dorongan semangat untuk itu (beriman dan beramal shalih).
(Keempat) Saling menasihati untuk menetapi kesabaran yaitu : sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah, bersabar dalam menahan diri dari bermaksiat kepada Allah dan bersabar ketika menghadapi takdir Allah yang terasa menyakitkan.
Dengan dua perkara yang pertama seorang insan bisa menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan dua perkara yang terakhir dia akan bisa menyempurnakan diri orang lain. Sehingga dengan menyempurnakan keempat perkara inilah manusia bisa selamat dari bahaya kerugian dan berhasil memperoleh kemenangan yang amat besar” (Taisir Karim Ar Rahman, hal. 934)
Maka pantaslah apabila Imam Syafi’i rahimahullah mengatakan, “Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah kepada makhluk-Nya kecuali surat ini niscaya ini sudah cukup bagi mereka”. Syaikh Shalih Alusy Syaikh menjelaskan alasan ucapan Imam Syafi’i tersebut, “Karena surat ini sudah mencakup keterangan yang menunjukkan bahwa setiap orang pasti akan terjerumus dalam kerugian, bencana dan kebinasaan kecuali orang-orang yang mempunyai ciri-ciri tersebut, mereka itulah kaum yang beriman. Artinya ialah apabila surat ini ditujukan kepada kita, seandainya hanya surat ini saja yang ditujukan kepada kita niscaya kita akan berusaha untuk menjadi orang-orang yang beriman, lalu beriman kepada siapa ? Pasti ada sesuatu yang harus diimani. Kemudian mereka juga beramal. Untuk apakah mereka akan beramal ? Dan dengan cara bagaimana ? Maka pasti ada jalan untuk melakukannya. Yaitu Sunnah (ajaran) Nabi ‘alaihish sholaatu was salaam. Di dalam surat itu juga ada keterangan supaya saling menasihati dalam kebenaran serta mengajak untuk melakukannya. Dan juga agar saling menasihati untuk menetapi kesabaran, yaitu bersabar untuk menempuhnya. Sehingga anda bisa saksikan sendiri bahwa surat ini sudah mencakup segala hal yang bisa menunjukkan jalan kepada makhluk tentang Rabb mereka jalla wa ‘alaa, dan juga memandu mereka untuk bisa mengikuti risalah Nabi ‘alaihish sholaatu was salaam” (Syarh kitab Tsalatsatul ushul, hal. 8)
Pelajaran kedelapan
Ilmu sebelum berkata dan berbuat
Imam Bukhari menyusun sebuah bab di dalam kitab shahihnya yang berjudul Bab Ilmu sebelum berkata dan berbuat. Beliau berdalil dengan firman Allah ta’ala yang artinya, “Ketahuilah bahwa tiada sesembahan yang hak kecuali Allah dan minta ampunlah atas dosa-dosamu” (QS. Muhammad : 19) Pembaca yang dirahmati Allah, perlu kita ketahui bersama bahwa kitab shahih Bukhari merupakan kitab paling shahih sesudah Al Qur’an. Sebagaimana hal itu dinyatakan oleh para ulama ahli hadits di dalam kitab-kitab mushthalah hadits. Kitab ini disusun oleh seorang alim yang sangat dalam ilmunya. Beliau adalah Imam Bukhari yang nama lengkapnya adalah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Bardizbah Al Bukhari. Di antara bukti yang menunjukkan kepandaian beliau ialah pernah suatu saat ketika masih muda beliau ikut mendengarkan pengajian hadits bersama teman-temannya yang lebih senior. Pelajaran itu berlangsung selama beberapa hari dan Al Bukhari sama sekali tidak pernah mencatat. Melihat kelakuannya maka para sahabat beliau yang lebih senior mempertanyakannya. Imam Bukhari pun berkata, “Ternyata kalian merasa memiliki hadits lebih banyak dariku, maka sebutkanlah hadits-hadits kalian”. Setelah itu mereka pun membacanya di hadapan beliau. Setelah mereka selesai maka Imam Bukhari menambahkan 15.000 hadits lagi yang tidak ada di dalam catatan mereka dari ingatan beliau. Masyaa Allaah. Guru beliau lebih dari 1000 orang. Ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu. Semoga Allah menggerakkan hati dan tubuh kita untuk mengikuti jejak beliau, ammiin.
Ilmu adalah kebutuhan hati kita. Karena tanpa ilmu hati akan kering kerontang bak padang tandus yang belum pernah dijamah orang. Bagaimana pendapat saudara apabila seseorang yang kehausan dan kelaparan di tengah perjalanan yang sangat melelahkan tanpa ada teman kemudian di depan matanya adalah padang tandus yang amat luas seolah tak bertepian. Tidak ada sumur, tidak ada mata air, tidak ada pohon, tidak ada tempat berteduh, tidak ada rumah dan bahkan kandang binatang pun tidak ada. Sebuah tempat yang sangat sepi sampai kicauan burung pun tidak ada. Yang ada adalah suara tiupan angin padang tandus yang membawa debu-debu. Rasa hausnya tentu akan bertambah dengan rasa kesedihan. Apa yang bisa diharapkan dari sebuah padang kerontang ? Apakah yang ingin didapatkannya kecuali seteguk air yang bisa mengobati dahaganya… . Subhanallah. Ilmu bahkan jauh lebih diperlukan, lebih daripada kebutuhan orang itu terhadap seteguk air idamannya. Maka sungguh malang orang yang telah kehilangan nikmatnya menuntut ilmu. Sehingga hatinya pun menjadi keras. Pendengarannya juga seolah-olah tuli. Mulutnya seolah-olah bisu. Matanya yang sehat seolah-olah tak bisa lagi memandang, buta tidak tahu arah mana yang harus ditempuhnya … Ya Allah, alangkah gelap dunia ini di matanya, alangkah sunyi alam ini di telinganya, alangkah menyakitkan hidup dengan hati yang lambat laun bergerak menuju ke arah kematian….Wallaahul musta’aan.
Maka bagaimana mungkin seseorang akan lurus perkataan dan perbuatannya apabila tidak dibangun di atas ilmu yang lurus pula. Dengan demikian alangkah tepat perkataan Imam Bukhari di atas, “Ilmu sebelum perkataan dan perbuatan”. Bukankah kita masih ingat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Ketahuilah sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah jantung” (HR. Bukhari dan Muslim) Demikianlah kedudukan hati bagi amalan, seperti jantung dengan badan. Orang yang hatinya baik maka amalnya akan baik pula. Sekarang marilah kita bertanya, “Bagaimanakah agar hati kita baik ?” Cobalah cari jawabannya. Apakah kita akan mengarang sendiri cara untuk membersihkan hati kita. Sementara masalah hati adalah masalah tersembunyi yang tidak tampak bagi kita. Tentu saja kita akan mencari bimbingan dari pencipta hati, yaitu Allah ta’ala. Karena pencipta sesuatu tentu lebih paham tentang barang ciptaannya. Oleh sebab itu kita harus menuntut ilmu agama. Dengan ilmu agama itulah kita akan tahu berbagai macam penyakit hati dan bagaimanakah cara menyembuhkannya. Karena Al Qur’an telah membeberkan segala sesuatu. Demikian juga As Sunnah. Tidak ada yang luput sampai cara berak dan kencing pun diatur. Lalu bagaimana mungkin masalah hati yang merupakan perkara yang terpenting kok tidak diatur oleh Allah ? Renungkanlah…
Orang-orang yang berusaha menciptakan cara-cara sendiri untuk menyucikan hati pada hakikatnya dia telah merusak hatinya sendiri. Bagaimana tidak, sedangkan pakarnya hati justru tidak dia turuti. Dia ingin menempuh cara baru yang disukainya, padahal sebenarnya cara itu bukannya menambah bersih hatinya akan tetapi sebaliknya. Apakah anda tidak percaya ? Saksikanlah orang-orang yang tenggelam dengan tarikat-tarikat shufiyah dan dzikir-dzikir bid’ah. Mereka ciptakan cara baru yang mereka sukai sehingga cara yang dituntunkan Rasul malah mereka tinggalkan. Apa akibatnya, mereka tidak sreg kalau sunnah Nabi diterapkan, mereka ingin bid’ah mereka tetap dilestarikan. Mereka tidak ridha Sunnah Nabi dibiarkan apa adanya tanpa ada tambahan. Kurang menarik menurut mereka. Subhanallah, adakah bencana yang lebih membahayakan bagi seorang hamba di atas bencana seperti ini ? Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Hendaklah takut orang-orang yang menyimpang dari perintah Rasul akan ditimpakan fitnah (bencana) kepada mereka atau siksa pedih akan menimpa mereka” (QS. An Nuur : 63) Adakah penyakit hati yang lebih parah daripada membenci sunnah Nabi ? Padahal Nabi bersabda, “Barangsiapa yang membenci sunnahku maka bukan termasuk golonganku” (HR. Bukhari dan Muslim) Wahai kaum sufi…kembalilah ke jalan Tuhanmu…jadilah saalik sejati, yang meniti ilmu pancaran Al Qur’an dan Sunnah Nabi dengan bimbingan para mursyid sejati yaitu para ulama Rabbani penempuh manhaj Salaf Ahlus Sunnah wal Jama’ah !!!
Inilah perkataan imam-imam kalian. Sahl bin Abdullah At Tusturi mengatakan, “Setiap perasaan yang tidak dipersaksikan kebenarannya oleh Al Kitab dan As Sunnah adalah kebatilan”. Abu Sulaiman Ad Darani juga mengatakan, “Tidak diperbolehkan bagi seseorang yang mendapatkan sebuah ilham kebaikan untuk melakukannya sampai dia menemukan adanya atsar (dalil). Apabila dia sudah menemukan dalilnya maka itulah cahaya di atas cahaya”. Al Juneid bin Muhammad mengatakan, “Ilmu kami ini diikat dengan Al Kitab dan As Sunnah. Maka barangsiapa yang tidak membaca Al Qur’an dan tidak menulis hadits tidak pantas baginya untuk berbicara dalam ilmu kami ini” (dinukil dari Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Free Program, by Islamspirit.com)
Kisah nyata
Ada sebuah cerita yang patut kita renungkan. Ini adalah kisah nyata yang dibawakan oleh pengarang buku "Dengarlah Wahai Sufi" (Ustadz Muhammad Arifin Baderi, M.A) : "Saya pernah mendengar penuturan salah seorang kawan saya sendiri, dan kisah ini ialah kisah yang ia alami secara langsung: Kawan saya ini berasal dari salah satu pondok pesantren di kota Jombang Jawa Timur. Pada suatu hari ia diajak oleh bibinya untuk berkunjung ke daerah Nganjuk-Jawa Timur), guna mengunjungi seorang wali. Setibanya di rumah wali itu, ia dipersilahkan masuk ke ruang tamu laki-laki, sedangkan bibinya dipersilakan masuk ke ruang tamu wanita. Sepulang dari rumah wali itu, bibinya berkata: "Wah, tadi di ruang wanita, saya menyaksikan beberapa wali, di antaranya: ada wali laki-laki yang keluar menemui kita dengan telanjang bulat dan tidak sehelai benangpun menempel di badannya. Setelah berada di tengah-tengah ruangan, wali telanjang itu disodori sebatang rokok oleh sebagian pelayannya, maka iapun mulai mengisap rokok, dan baru beberapa isapan, rokoknya itu dicampakkan ke lantai. Melihat puntung rokok wali telanjang yang telah tergeletak di lantai itu, ibu-ibu yang sedang berada di ruangan tamu itu berebut memungutnya, dan setelah seorang ibu berhasil mendapatkannya ia buru-buru memerintahkan anaknya yang masih ingusan, yang kala itu bersamanya untuk ganti mengisap puntung rokok itu, dengan alasan: agar mendapatkan keberkahan sang wali, dan menjadi anak yang pandai!!. Tatkala kawan saya mendengar kisah ini langsung dari penuturan bibinya, ia bertekad untuk tidak ikut-ikut lagi dalam acara-acara yang diadakan oleh orang-orang sufi. Dan semenjak itu pulalah ia mulai menyadari kesesatan tariqat sufi, dan Alhamdulillah yang telah mengaruniai sahabat saya ini hidayah, sehingga dapat dengan mudah mencampakkan belenggu tariqat sufi dari lehernya". (Dengarlah Wahai Sufi, karya Ust. Muhammad Arifin Baderi, MA hal: 24, dinukil dari Pembelaan Imam Syafi’i dan pengikutnya terhadap Tauhid, hal. 37 karya Ustadz Abdullah Zaen hafizhahumallah)
Pembaca yang budiman, mungkinkah kejadian semacam ini menimpa sebuah masyarakat yang kental dengan nilai-nilai tauhid yang dibangun di atas ilmu yang shahih ? Ataukah hal itu menimpa sebuah masyarakat yang jauh dan asing dengan nilai-nilai tauhid. Pembaca tentu bisa menilainya sendiri… Apakah dengan kondisi umat yang semacam ini kita akan mengajak mereka untuk “Memimpin dunia dengan syari’ah” ? Apakah dengan kondisi umat semacam ini kita akan mengajak umat untuk berjihad di Jalur Gaza ? Apakah dengan kondisi umat semacam ini kita akan menyeret mereka ke kursi-kursi parlemen dan berbicara melawan kaum Yahudi dan Nasrani ? Kallaa tsumma kallaa, sekali-kali tidak…!!! Bagaimana mungkin bisa menang, sedangkan akidah mereka masih centang perenang, syirik bertebaran di mana-mana, kuburan para wali subur dikunjungi para peziarah yang haus dengan berkah, keselamatan hidup, jodoh dan kelapangan rezkinya…Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Sadarlah wahai para da’i, kalian sedang mempertaruhkan agama, nyawa dan harta benda umat ini …
Jangan bersikap tanpa ilmu
Pembaca yang budiman, semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita. Telah jelas bagi kita pentingnya ilmu untuk membangun sebuah generasi dan masyarakat yang tangguh. Allah ta’ala sudah menegaskan di dalam firman-Nya yang artinya, “Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang tidak kau miliki pengetahuan tentangnya. Karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan dimintai pertanggungjawabnya” (QS. Al Isra’ : 36) Akankah kita pura-pura tidak tahu akan kandungan ayat ini. Sampai-sampai Allah memerintahkan kita untuk bertanya kepada para ulama apabila kita tidak memiliki barang yang satu ini, yaitu ilmu. Allah berfirman yang artinya, “Maka bertanyalah kepada ahli ilmu apabila kalian tidak mengetahui” (QS. Al Anbiyaa’ : 7) Kenapa Allah memerintahkan kita untuk bertanya. Karena kita tidak punya ilmu. Bahkan lebih tegas lagi di dalam ayat yang djadikan sebagai dalil oleh Imam Bukhari di atas, “Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah” (QS. Muhammad : 19) Di dalam ayat ini Allah memerintahkan kita untuk berilmu sebelum kita meyakini akidah tauhid. Adakah kemuliaan yang lebih daripada kemuliaan ini ? Tauhid yang menjadi tujuan penciptaan jin dan manusia, tauhid yang menjadi tujuan diutusnya para Rasul, tauhid yang menjadi tujuan diturunkannya kitab-kitab, tauhid yang menjadi sebab masuk ke dalam surga, tauhid yang dapat menyelamatkan hamba dari kekalnya siksa neraka…. Allahu akbar. Tidak ada tauhid tanpa ilmu…., inilah keutamaan yang sangat agung yang ada pada ilmu. Bahkan ilmu itu jugalah syarat laa ilaaha illallaah. Yang apabila seseorang hanya mengucapkan dengan lisannya kalimat syahadat tanpa mengetahui arti dan konsekuensinya maka batallah syahadatnya alias keluar/khuruj dari Islam….
Kiranya keterangan ini cukup bagi orang-orang yang masih memiliki hati nurani dan rasa kasih sayang kepada umat untuk kembali mengoreksi sikap dan gerakan mereka selama ini. Apakah dengan demonstrasi di jalan raya umat menjadi semakin bertambah ilmunya tentang Allah, tentang Rasul-Nya dan tentang dinul Islam. Apakah dengan mengkompori umat untuk menegakkan khilafah dalam kondisi seperti ini akan dapat menyadarkan mereka tentang syirik dan bid’ah yang selama ini mengungkung mereka. Marilah kita perbaiki diri, berilmu dulu, baru berkata dan bebuat. Wallahul muwaffiq.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar