Untaian Akidah Mukmin dan Mukminah Bagian 4

Untaian Akidah Mukmin dan Mukminah
Bagian 4
Segala puji bagi Allah, dengan sebenar-benar pujian. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang hak kecuali Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya, demi mengagungkan kemuliaan-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga shalawat beriring salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarganya dan para sahabatnya. Semoga keselamatan selalu terlimpah kepada mereka dengan sebanyak-banyaknya hingga hari kiamat.
Adapun sesudah pujian dan shalawat ini, aku memohon kepada Allah yang Maha mulia dengan perantara nama-nama-Nya yang husna (terindah) serta sifat-sifat-Nya yang tertinggi, semoga Allah menjadikan aku dan kalian termasuk orang-orang yang bergerak karena Allah, beramal karena Allah, menuntut ilmu karena Allah, berbicara dan beramal karena Allah Jalla jalaaluhu. Karena sesungguhnya nilai amalan itu tergantung pada niatnya, dan setiap orang hanya akan mendapatkan apa yang dia niatkan. Dan tidak sedikitpun kita ragu bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap muslim, sebagaimana dalil yang sah dari Al Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan hal itu (lihat Mukaddimah Syarh Arba’in An Nawawiyah Syaikh Shalih Alusy Syaikh hafizhahullah).

Saudara-saudaraku, sekarang tiba saatnya kita kembali memetik pelajaran berharga dari untaian kalimat Syaikh Al Imam Al Mujaddid Al Mushlih Muhammad bin Abdul Wahhab –semoga Allah merahmatinya dan menempatkannya di dalam surga-. Beliau mengatakan melalui goresan penanya,
“Wajib bagi kita mendalami empat masalah, yaitu :
1. Ilmu, ialah mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam
berdasarkan dalil-dalil.
2. Amal, ialah menerapkan ilmu ini.
3. Da'wah, ialah mengajak orang lain kepada ilmu dan amal.
4. Sabar, ialah tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan berda'wah kepadanya.
Dalilnya, firman Allah Ta'ala yang artinya, "Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan amal shalih dan saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar".(QS. Al 'Ashr : 1-3).” (Tsalatsatul Ushul)

Pelajaran Keempat :
Ilmu melahirkan amalan

Pada tulisan sebelumnya kita telah mengetahui kewajiban menuntut ilmu dan keutamaannya. Di sini kami ingin sedikit menambahkan lagi keutamaannya, sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah di dalam kitabnya. Beliau mengatakan, “Imam Ahmad mengatakan, “Menuntut ilmu dan mengajarkannya lebih utama daripada berjihad dan amal sunnah lainnya”. Karena memang ilmu itu adalah asas dan pokok urusan, bahkan dia merupakan ibadah paling agung serta kewajiban kolektif (fardhu kifayah) yang paling ditekankan. Bahkan dengan ilmulah Islam dan kaum muslimin tetap hidup. Adapun ibadah-ibadah sunnah hanya memberikan manfaat bagi diri pelakunya sendiri dan tidak mengenai orang lain. Ilmu itulah warisan yang ditinggalkan para Nabi dan cahaya yang akan menerangi hati. Orang yang mewarisinya adalah golongan Allah dan pembela-Nya, mereka adalah orang yang paling utama di sisi Allah, paling dekat dengan-Nya, paling takut kepada-Nya serta paling tinggi derajatnya” (lihat Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 11)

Ibarat pohon yang tak berbuah
Namun ingat, bahwa ilmu yang dimaksud di sini adalah ilmu yang membuahkan amalan, itulah ilmu yang bermanfaat. Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mengatakan, “Amal adalah buah dari ilmu. Ilmu itu ada dalam rangka mencapai sesuatu yang lainnya. Fungsi ilmu diibaratkan seperti sebuah pohon, sedangkan amalan adalah seperti buahnya. Maka setelah mengetahui ajaran agama Islam seseorang harus menyertainya dengan amalan. Sebab orang yang berilmu akan tetapi tidak beramal dengannya lebih jelek keadaannya daripada orang bodoh. Di dalam hadits disebutkan, “Orang yang paling keras siksanya adalah seorang berilmu dan tidak diberi manfaat oleh Allah dengan sebab ilmunya”. Orang semacam inilah yang termasuk satu diantara tiga orang yang dijadikan sebagai bahan bakar pertama-tama nyala api neraka. Di dalam sebuah sya’ir dikatakan,
Orang alim yang tidak mau
Mengamalkan ilmunya
Mereka akan disiksa sebelum
Disiksanya para penyembah berhala
(lihat Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)

Ancaman bagi orang yang berilmu tapi tidak beramal
Syaikh Nu’man bin Abdul Karim al Watr mengatakan, “Di dalam Al Qur’an Allah ta’ala sering sekali menyebutkan amal shalih beriringan dengan iman. Dan Allah juga mencela orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Dan Allah mengabarkan bahwa perbuatan seperti itu sangat dimurkai-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah karena kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan” (QS. Ash Shaff : 2-3) Di dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadits Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Maka penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?”. Dia menjawab, “Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya”. Oleh sebab itu ilmu harus diamalkan, shalat harus ditegakkan, zakat juga harus ditunaikan dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya Allah tidak memiliki tujuan lain dalam menciptakan makhluk kecuali supaya mereka beribadah kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyaat : 56)” (lihat Taisirul Wushul, hal. 10)

Berilmu tidak beramal menyerupai kaum Yahudi
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Maksud perkataan beliau, “Beramal dengannya” adalah beramal dengan perkara-perkara yang dituntut oleh ilmu ini, yaitu beriman kepada Allah, mentaati-Nya dengan cara melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Beramal dengan ibadah yang khusus maupun ibadah yang berdampak keluar. Ibadah yang khusus seperti sholat, puasa dan haji. Sedangkan ibadah yang berdampak keluar ialah seperti beramar ma’ruf dan nahi munkar, berjihad di jalan Allah dan lain sebagainya. Dan pada hakikatnya amal adalah buah ilmu. Barangsiapa yang beramal tanpa ilmu maka dia telah menyerupai orang Nasrani. Dan barangsiapa yang berilmu tapi tidak beramal maka dia telah menyerupai orang Yahudi” (lihat Syarhu Tsalatsatul Ushul, hal. 22)

Belum layak disebut ‘alim jika belum beramal
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Maksud perkataan beliau, “Beramal dengannya” adalah beramal dengan ilmu. Karena ilmu tidaklah dituntut melainkan supaya diamalkan. Yaitu dengan mewujudkan ilmu dalam praktek nyata, yang tampak dalam bentuk pola pikir seseorang dan perilakunya. Terdapat nash-nash syari’at yang mewajibkan untuk mengikuti ilmu dengan amalan dan agar akibat dari ilmu yang dipelajari muncul pada diri orang yang menuntut ilmu. Dan terdapat ancaman yang keras terhadap orang yang tidak beramal dengan ilmunya. Dan begitu pula bagi orang yang tidak memulai perbaikan dari dirinya sendiri sebelum memperbaiki diri orang lain. Dan dalil-dalil tentang hal itu sudah sangat populer dan dikenal. Sungguh indah ucapan Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, “Seorang ‘Aalim itu masih dianggap Jaahil (bodoh) apabila dia belum beramal dengan ilmunya. Apabila dia sudah mengamalkan ilmunya maka jadilah dia seorang yang benar-benar ‘Aalim”. Ini adalah ungkapan yang sangat tepat. Karena apabila seseorang memiliki ilmu, akan tetapi dia tidak mengamalkan ilmu ini maka dia tetap disebut jahil. Sebab tidak ada perbedaan antara keadaan dirinya dengan keadaan orang yang jahil. Apabila dia berilmu tetapi tidak mengamalkannya maka orang yang alim itu belumlah pantas disebut sebagai orang berilmu yang sesungguhnya, kecuali bila di sudah beramal dengan ilmunya.” (Hushulul Ma’mul, hal. 16)

Beramal adalah sarana mempertahankan ilmu
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Kemudian perlu dimengerti pula bahwa sebenarnya amal itu juga termasuk sebab supaya ilmu tetap ada dan bertahan. Oleh sebab itulah, dapat anda jumpai bahwa orang yang beramal dengan ilmunya akan mudah mengeluarkan ilmunya kapanpun dia mau. Adapun orang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmu yang didapatkannya sangat cepat hilang. Sebagian ulama salaf mengatakan, “Dahulu kami mencari bantuan dalam rangka menghafalkan hadits dengan cara mengamalkannya”. Selain itu, ada pula ulama lain yang mengatakan, “Barangsiapa yang mengamalkan ilmu yang diketahuinya niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu lain yang belum dia ketahui. Dan barangsiapa yang tidak beramal dengan ilmu yang sudah diketahuinya maka sangat dikhawatirkan Allah akan melenyapkan ilmu yang dimilikinya”. Perkataan ini dianggap hadits oleh sebagian orang, padahal sebenarnya itu bukan hadits. Sebab itu hanyalah ungkapan yang disebutkan oleh Syaikhul Islam rahimahullah. Makna dari kalimat ‘Allah akan mewariskan kepadanya ilmu yang belum dimilikinya’ adalah Allah akan menambahkan keimanan dan menyinari pandangan mata hatinya serta membukakan baginya berbagai jenis ilmu dan cabang-cabangnya. Oleh sebab itulah anda temukan orang alim yang senantiasa beramal terus mendapatkan peningkatan dan memperoleh limpahan barakah dari Allah dalam hal waktu dan ilmunya. Dalil pernyataan ini terdapat di dalam kitabullah. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Dan orang-orang yang mencari petunjuk maka Allah akan tambahkan kepada mereka petunjuk dan Allah anugerahkan kepada mereka ketakwaan” (QS. Muhammad : 17) Asy Syaukani mengatakan, “Artinya Allah akan menambahkan kepada mereka keimanan, dan ilmu serta bashirah dalam beragama. Sehingga maknanya, orang-orang yang mencari hidayah dengan meniti jalan kebaikan, mereka beriman kepada Allah dan mengamalkan perintah-Nya niscaya Allah akan tambahkan keimanan, ilmu dan bashirah dalam beragama kepada mereka”. Maka seorang muslim hendaknya mengenali urgensi mengamalkan ilmu.” (Hushulul Ma’mul, hal. 17)

Ilmu akan menjadi pembela atau penentangmu
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Dan hendaknya diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmunya itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkannya”. Hal ini bukan berlaku bagi para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau khutbah Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan Al Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untukmenjatuhkan dirimu” (HR. Muslim)” (Hushulul Ma’mul, hal. 18)

Hukum bila ilmu tidak diamalkan
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah berkata, “Beramal dengan ilmu itu ada yang apabila ditinggalkan menyebabkan kekafiran, adapula yang menyebabkan terjatuh dalam kemaksiatan, dan adapula yang membuat dirinya terjatuh dalam perkara yang makruh, dan ada juga yang apabila ditinggalkan boleh. Lantas bagaimanakah maksudnya ? Ilmu itu terbagi menjadi beberapa bagian. Ilmu tentang tauhid, yaitu meyakini bahwasanya Allah sajalah yang berhak diibadahi. Maka apabila seorang hamba mengetahui ilmu ini lalu tidak beramal dengan ilmu ini sehingga dia berbuat syirik kepada Allah jalla wa ‘ala maka ilmunya itu tidak akan bermanfaat baginya. Maka bagi dirinya ketika itu meninggalkan amalan menyebabkan dia kafir. Dan terkadang bisa dikategorikan maksiat yaitu misalnya apabila seseorang mengetahui bahwa khamr itu haram diminum, haram dijual, haram dibeli, haram memberikannya, haram memintanya, dan seterusnya, kemudian dia menyelisihi ilmu yang dimilikinya, dalam keadaan dia mengetahui keharamannya tetapi dia tetap nekat melakukannya maka tindakannya ini dikategorikan kemaksiatan. Artinya dia telah terjatuh dalam dosa besar. Dan dalam pembahasan ini, adapula ilmu yang apabila tidak diamalkan dihukumi sebagai hal yang makruh. Seperti contohnya apabila seseorang mengetahui bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan shalat dengan tata cara tertentu yang termasuk sunnah-sunnah shalat kemudian dia tidak mengamalkannya maka ini makruh hukumnya. Karena dia telah meninggalkan sebuah amal sunnah, bukan wajib. Sehingga hukum meninggalkannya adalah makruh saja sedangkan mengamalkannya hukumnya mustahab. Dan terkadang beramal dengan ilmu itu mubah saja begitu pula mubah meninggalkannya. Seperti perkara-perkara mubah dan adat dan semacamnya. Seperti misalnya apabila sampai kepada kita hadits bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memakai pakaian dengan model tertentu, atau cara berjalan beliau adalah demikian dan demikian. Perkara-perkara ini adalah perkara manusiawi dan kebiasaan saja, sebagaimana sudah kita pelajari bahwa hal seperti ini tidak termasuk perkara yang kita diperintahkan untuk menirunya. Sehingga tidak mengerjakannya adalah mubah sebab seorang muslim memang tidak diperintahkan untuk meniru perkara-perkara semacam ini. Yaitu perkara-perkara seperti tata cara berjalan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, suaranya, atau hal-hal lain yang termasuk perkara manusiawi dan kebiasaan saja yang dilakukan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga mengamalkan hal itu mubah saja. Dan terkadang bisa juga diberi pahala apabila disertai niat ingin meneladani beliau. Karena itulah maka meninggalkan amal dalam hal ini juga mubah. ..” (Syarh Kitab Tsalatsatul Ushul, hal. 5)

Mengamalkan ilmu adalah ciri penuntut ilmu sejati
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Ustaimin rahimahullah menyebutkan bahwa salah satu adab yang harus dimiliki oleh penuntut ilmu adalah mengamalkan ilmu yang dimiliki. Beliau mengatakan, “Sudah seyogyanya penuntut ilmu beramal dengan ilmunya, baik yang terkait dengan masalah akidah, akhlaq, adab maupun mu’amalah. Karena sesungguhnya inilah buah ilmu dan hasil yang bisa dipetik darinya. Seseorang yang membawa ilmu itu seperti orang yang membawa senjata. Bisa jadi senjata itu membelanya atau justru berbalik mengenai dirinya. Oleh sebab itulah terdapat sebuah hadits shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, “Al Qur’an adalah hujjah pembelamu atau yang menjatuhkanmu” (HR. Muslim) Al Qur’an akan membelamu jika kamu beramal dengannya. Dan dia akan berubah menjadi musuhmu apabila kamu tidak mengamalkannya…” (Kitabul ‘Ilmi, hal. 32)

Mengamalkan ilmu adalah ciri da’i sejati
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Salah satu akhlaq dan sifat yang semestinya bahkan wajib dimiliki oleh da’i adalah beramal dengan isi dakwahnya. Dan hendaknya dia bisa menjadi teladan yang baik dalam perkara yang didakwahkannya. Bukan termasuk orang yang mengajak kepada sesuatu kemudian meninggalkannya. Atau melarang sesuatu tetapi kemudian dia sendiri justru melakukannya. Ini adalah keadaan orang-orang yang merugi, kita berlindung kepada Allah darinya. Adapun keadaan orang-orang yang beriman dan beruntung adalah menjadi da’i kebenaran, mereka mengamalkan ajakannya, bersemangat melakukannya, bersegera mengerjakannya serta berusaha menjauhi perkara yang dilarangnya. Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya. Sungguh besar murka Allah atas perkataan kalian terhadap sesuatu yang kalian sendiri tidak kerjakan” (QS. Ash Shaff : 2-3) Allah Subhaanahu juga berfirman dalam konteks celaan terhadap kaum Yahudi karena mereka menyuruh orang untuk berbuat baik sementara mereka sendiri melupakan diri sendiri, “Apakah kalian menyuruh orang untuk mengerjakan kebaikan sedangkan kalian melupakan kewajiban diri kalian sendiri. Padahal kalian juga membaca Al Kitab. Tidakkah kalian memahami” (QS. Al Baqarah : 44)…” (Wujuubu Da’wah ilallaah wa Akhlaaqu Du’aat, hal. 52)

Mengamalkan ilmu adalah bagian dari Shirathal mustaqim
Setiap kali shalat kita senantiasa memohon petunjuk kepada Allah agar diberi hidayah menuju dan meniti jalan yang lurus atau shirathal mustaqim. Apakah yang dimaksud shirathal mustaqim ? Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah berkata,
“(Shirathal mustaqim) adalah jalan terang yang akan mengantarkan hamba menuju Allah dan masuk ke dalam Surga-Nya. Hakikat jalan itu adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkannya…” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39) Kemudian Allah memperjelas hakikat shirathal mustaqim di dalam ayat berikutnya, “Yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat” (Al Fatihah).

Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa’di rahimahullah berkata, “Shirathalladziina an’amta ‘alaihim adalah jalan para Nabi, orang-orang shiddiq, para syuhada’ dan orang-orang shalih. “Bukan” jalan “orang-orang yang dimurkai” yaitu orang-orang yang mengetahui kebenaran dan tidak mau mengamalkannya, seperti halnya orang Yahudi dan orang lain yang memiliki ciri seperti mereka. Bukan pula jalan “orang-orang yang sesat” yaitu orang-orang yang meninggalkan kebenaran di atas kebodohan dan kesesatan, seperti halnya orang Nasrani dan orang lain yang memiliki ciri seperti mereka” (Taisir Karimir Rahman, hal. 39) Oleh sebab itulah kita dituntunkan untuk selalu meminta hidayah kepada Allah; baik hidayah ilmu (hidayatul irsyad) maupun hidayah amal (hidayatu taufiq) minimal 17 kali sehari semalam. Bukankah seorang yang memeluk Islam berarti dia sudah mendapatkan hidayah ? Lalu kenapa dia harus meminta hidayah lagi, apakah kita akan mengatakan orang Islam berarti masih sesat, kemudian berdasarkan ini kita katakan Islam belum tentu benar, sebagaimana tafsir gaya JIL (atau lebih tepat disebut JUL alias Jaringan Umat Liberal, sebagaimana usul saudara Yusuf Anshar)

Imam Ibnu Katsir menjawab
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan, “Apabila muncul pertanyaan, “Mengapa seorang mukmin harus meminta hidayah di setiap saat baik di dalam shalat maupun di luarnya padahal dia telah memiliki sifat mendapatkan hidayah ?” Apakah permintaan ini termasuk kategori meminta sesuatu yang belum didapatkannya ataukah bukan? Maka jawaban dari pertanyaan tersebut, “Bukan termasuk kategori itu”. Seandainya bukan karena betapa besar kebutuhan hamba untuk meminta hidayah sepanjang siang dan malam tentulah Allah tidak akan menuntunnya untuk melakukan hal itu. Karena sesungguhnya seorang hamba senantiasa membutuhkan bimbingan Allah ta’ala pada setiap saat dan keadaan. Yaitu supaya dia memperoleh ketegaran di atas hidayah, mengokohkan diri di dalamnya, mendapatkan pencerahan, hidayah semakin bertambah dan terus menerus menyertai dirinya. Karena seorang hamba tidak bisa menguasai barang sedikitpun manfaat maupun mudharat bagi dirinya sendiri, kecuali sebatas yang diinginkan Allah. Sehingga Allah ta’ala pun membimbingnya agar meminta petunjuk pada setiap waktu, yang dengan sebab itu Allah akan membentangkan pertolongan, ketegaran dan taufik kepadanya. Maka orang yang berbahagia adalah orang yang diberi taufik oleh Allah ta’ala untuk selalu meminta petunjuk, karena Allah menjamin akan mengabulkan permintaan orang yang berdo’a kepada-Nya. Terlebih lagi apabila orang yang meminta sedang berada dalam keadaan terjepit dan sangat merasa butuh kepada Allah, di waktu siang maupun malam. Dan bahkan Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “…Wahai orang-orang yang beriman berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya dan Kitab yang diturunkan kepada utusan-Nya, dan juga kepada kitab yang sudah diturunkan sebelumnya” (QS. An Nisaa’ : 136) Di sini Allah memerintahkan orang-orang yang beriman supaya beriman. Dan bukanlah itu berarti termasuk kategori menuntut sesuatu yang belum ada pada diri mereka. Sebab maksud yang tersimpan di balik itu adalah arahan supaya bersikap tegar, konsisten dan terus menerus mengerjakan amal yang bisa membantu dirinya untuk tetap berjalan di atas keimanan. Wallaahu a’lam” (Tafsir Ibnu Katsir, I/37-38)

Katakanlah “Amantu billah” lalu istiqamahlah
Diriwayatkan dari Abu ‘Amr, tetapi ada juga yang menyebutnya Abu ‘Amrah yaitu Sufyan bin Abdullah, dia mengatakan, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku sebuah perkataan di dalam Islam yang tidak akan aku tanyakan selain kepada dirimu”. Maka beliau bersabda, “Katakanlah, Aku beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah” (HR. Muslim) Syaikh Al Imam Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Bukanlah maksud ucapan Nabi “Katakanlah, Aku beriman” adalah sekedar mengucapkan dengan lisan. Karena ada diantara manusia ini yang mengatakan, “Aku beriman kepada Allah dan hari akhir” padahal hakikatnya mereka bukan orang beriman. Namun yang dimaksud ialah supaya mengucapkan dengan hati dan lisan secara beriringan. Sehingga artinya adalah agar ia mengucapkannya dengan lisan setelah hatinya meyakini, dan hal itu diyakininya dengan sangat mantap tanpa menyisakan sedikitpun keraguan…”

Beliau juga mengatakan, “Dalam sabda beliau, “Aku beriman kepada Allah” tercakup keimanan kepada wujud Allah ‘azza wa jalla, rububiyah-Nya, nama-nama dan sifat-sifat-Nya, hukum-hukum-Nya dan berita-berita dari-Nya, serta perkara apapun yang bersumber dari Allah ‘azza wa jalla. Hendaknya engkau imani hal itu. Dan kemudian apabila engkau sudah beriman dengannya maka istiqamahlah di atas agama Allah. Jangan kamu menyimpang darinya, ke kanan maupun ke kiri. Jangan kamu kurang-kurangi dan jangan pula kamu tambah-tambahi. Istiqamahlah di atas syahadat laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasulullah, yaitu dengan cara ikhlas (beribadah) kepada Allah ‘azza wa jalla dan mengikuti (tuntunan) Rasul-Nya. Istiqamahlah dengan shalat, zakat, puasa dan haji serta dengan semua syari’at. Dan sabda belau, “Katakanlah, Aku beriman kepada Allah” merupakan dalil yang menunjukkan bahwa istiqamah tidak bisa dicapai tanpa beriman terlebih dulu. Ini sekaligus menunjukkan bahwasanya salah satu syarat amal shalih; yaitu syarat sah dan diterimanya adalah amal tersebut harus dibangun di atas keimanan.” (Syarh Riyadhu Shalihin, I/395-396)

Beramal dengan ikhlas dan benar
Syaikh ‘Abdul Muhsin Al ‘Abbad hafizhahullah mengatakan, “Ikhlas merupakan asas kesuksesan dan landasan untuk meraih apa yang diinginkan, di dunia maupun di akhirat. Kedudukannya bagi amal sebagaimana fungsi pondasi bagi bangunan dan seperti peranan ruh bagi jasad. Seperti sebuah bangunan yang tidak akan bisa menjadi kokoh dan tidak dapat dimanfaatkan dengan baik kecuali dengan memperkokoh dan pondasinya dan menjaganya dari celah dan cacat yang bisa menggoyahkannya. Maka demikian pula halnya amalan yang tidak dibarengi dengan keikhlasan (niscaya akan sia-sia). Sebagaimana badan yang hidup karena adanya ruh, maka begitu pula amal akan terasa hidup dan bisa membuahkan hasil yang memuaskan apabila pelakunya senantiasa memiliki keikhlasan. Allah menjelaskan hal itu di dalam kitabullah Al ‘Aziiz. Allah berfirman (yang artinya), “Apakah orang yang membuat pondasi bangunannya di atas ketakwaan kepada Allah dan mengharapkan keridhaan dari-Nya yang lebih baik ataukah orang yang membuat pondasi bangunannya di tepi jurang kehancuran, yang akan menggelincirkannya ke dalam api neraka Jahannam. Allah tidaklah memberi petunjuk kepada kaum yang zhalim”.”

Beliau melanjutkan, “Dan karena amalan yang dilakukan oleh orang-orang kafir tidak disertai dengan tauhid kepada Allah dan pengikhlasan amal untuk-Nya Yang Maha suci maka Allah pun menganggap keberadaan amal-amal tersebut sama dengan ketiadaannya. Allah berfirman (yang artinya), “Maka Kami hadapkan segala amal yang mereka perbuat, lalu Kami jadikan amal-amal itu seperti debu yang beterbangan” (Al Furqon : 23) Ikhlas adalah salah satu rukun agung yang menjadi landasan tegaknya agama Islam, yaitu :mengikhlaskan amal hanya untuk Allah dan memurnikan teladan hanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itulah ketika mengomentari firman Allah ta’ala (yang artinya), “Supaya Dia menguji kalian siapakah diantara kalian orang yang terbaik amalnya” (QS. Al Mulk : 2) Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan bahwa maknanya adalah (amal) yang paling ikhlas dan paling benar. Maka ditanyakan kepadanya, “Wahai Abu Ali apakah yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar?”. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya amalan apabila ikhlas akan tetapi tidak benar tidak akan diterima, dan apabila benar tapi tidak ikhlas maka juga tidak akan diterima, sampai amalan itu menjadi ikhlas dan benar. Adapun ikhlas artinya amal yang dikerjakan karena Allah, sedangkan benar artinya amalan yang sesuai dengan Sunnah (ajaran Nabi)”. (dari sebuah makalah beliau yang berjudul ikhlas, sumber : islamhouse.com)

Surga tidak bisa ditukar dengan amal
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kerjakanlah amal dengan sebaik mungkin dan usahakan supaya amalmu sebenar mungkin. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada seorang pun di antara kalian yang bisa selamat semata-mata karena amalnya.” Para sahabat pun bertanya, “Apakah anda juga tidak wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “Dan aku juga tidak bisa. Hanya saja Allah telah menganugerahkan kepadaku rahmat dan keutamaan dari-Nya” (HR. Muslim) Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Hadits ini menunjukkan bahwasanya istiqamah itu disesuaikan dengan kemampuan. Hal itu merupakan kandungan dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Kerjakanlah amal dengan sebaik mungkin dan usahakan supaya amalmu sebenar mungkin”. Artinya adalah dekatilah hakikat amal yang diperintahkan kepadamu, dan bersemangatlah dalam bertaqarrub kepada-Nya sepenuh kemampuan kamu. Adapun sabda beliau, “Usahakan supaya amalmu sebenar mungkin” artinya perbaikilah amalmu supaya semakin benar, bersemangatlah untuk menjadikan amalmu cocok dengan kebenaran sepenuh kemampuanmu. Karena sehebat apapun ketakwaan yang dimiliki oleh seseorang pasti pernah terjatuh dalam kekeliruan. Hal ini sebagaimana disebutkan di dalam hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Semua anak Adam pasti pernah keliru. Dan sebaik-baik orang yang keliru adalah yang bertaubat”. Beliau ‘alaihish shalatu was salam juga bersabda, “Seandainya kalian tidak melakukan dosa, niscaya Allah akan mencabut nyawa kalian dan kemudian mendatangkan suatu kaum yang mengerjakan dosa kemudian mereka meminta ampunan kepada Allah sehingga Allah pun mengampuni dosa mereka”. Oleh sebab itu manusia diperintahkan agar berusaha memperbaiki dan membenarkan amal sepenuh kemampuannya.”

Syaikh melanjutkan, “Kemudian beliau bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada seorang pun di antara kalian yang bisa selamat semata-mata karena amalnya”. Artinya tidak ada yang selamat dari siksa neraka hanya karena amalnya. Hal itu disebabkan amalan tidak akan bisa memenuhi semua hak yang wajib ditunaikan kepada Allah ‘azza wa jalla, yang berupa syukur (kepada Allah) dan semua kewajiban kepada sesama hamba. Namun Allah Yang Maha suci berkenan untuk menganugerahkan rahmat kepada hamba sehingga Allah pun mengampuninya. Kemudian tatkala Rasul selesai mengatakan hal itu para sahabat pun bertanya kepada beliau, “Apakah anda juga tidak ?”. Beliau menjawab, “Dan aku juga tidak bisa. Hanya saja Allah telah menganugerahkan kepadaku rahmat dan keutamaan dari-Nya”. Ini menunjukkan bahwa setinggi apapun martabat dan tingkatan wali yang bisa dicapai oleh seorang manusia maka sesungguhnya dia tidak bisa selamat bila mengandalkan amal saja, bahkan Nabi ‘alaihish shalatu was salaam juga demikian. Seandainya Allah tidak mengaruniakan ampunan atas semua dosa yang telah dan belum diperbuat kepada beliau maka amal beliau juga tidak akan bisa menyelamatkannya. Kalau ada orang yang mengatakan, “Bukankah ada dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah yang menunjukkan bahwa amal shalih bisa menyelamatkan pelakunya dari neraka dan memasukkan dirinya ke dalam surga, seperti firman Allah, “Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka niscaya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan pasti Kami akan memberikan balasan pahala untuk mereka dengan lebih baik daripada amal yang mereka kerjakan” (QS. An Nahl : 97) Lalu bagaimana mengkompromikan antara dalil ini dengan hadits yang baru saja disebutkan ?!”

Beliau melanjutkan, “Jawaban hal itu adalah bahwasanya kedua dalil tersebut bisa dikompromikan. Maksud penafian di dalam hadits tersebut adalah seseorang masuk surga bukan sebagai bentuk pengganti/penukar atas amalnya. Adapun dalil yang menetapkan menunjukkan bahwa amal merupakan faktor penyebab saja dan bukan sebagai pengganti sepenuhnya. Memang tidak diragukan lagi bahwa amal termasuk sebab seseorang masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka. Akan tetapi hal itu bukanlah suatu bentuk tukar menukar. Sebab amal bukan satu-satunya sebab yang membuat seseorang masuk surga, tetapi karena limpahan keutamaan dan rahmat dari Allah itulah dua faktor utama yang menyebabkan seorang hamba masuk ke dalam surga dan selamat dari neraka. Di dalam hadits ini terdapat beberapa pelajaran penting yaitu : Seseorang tidak boleh menjadi ‘ujub dengan amalnya, sebaik apapun itu. Karena amalmu itu masih terlalu sedikit apabila dibandingkan dengan hak Allah yang semestinya kau tunaikan. Selain itu, sudah semestinya seorang manusia untuk memperbanyak mengingat Allah secara terus menerus, dan senantiasa memohon agar dirinya mendapat anugerah rahmat dari Allah…” (Syarh Riyadhu Shalihin, I/397-398)

Penutup
Semoga penjelasan ini bermanfaat, menyadarkan hati yang lalai, dan mengingatkan kita semua tentang pentingnya amal shalih. Bukankah Allah telah menjadikan amal shalih adalah salah satu kunci untuk terlepas dari kerugian. Allah berfirman (yang artinya), "Demi masa. Sesungguhnya setiap manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman, melakukan amal shalih dan saling nasihat-menasihati untuk (menegakkan) yang haq, serta nasehat-menasehati untuk (berlaku) sabar".(QS. Al 'Ashr : 1-3) ‘Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu pernah berdo’a, “Allohummaj’al ‘amali kullahu shoolihan, waj’alhu li wajhika khoolishon, wa laa taj’al li ahadin fiihi syai’an” yang artinya, “Wahai Alloh, jadikanlah semua amalku menjadi sholih. Jadikanlah amal itu ikhlas untuk mengharap wajah-Mu semata. Dan janganlah Engkau jadikan ia kulakukan demi siapapun selain untuk-Mu”. Ya Allah, jadikanlah sisa umur hamba bertabur dengan segala kebaikan, dan jadikanlah kematian hamba sebagai persinggahan yang tenang dan tidak lagi bertemu dengan keburukan. Shalawat dan salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad Khalilur Rahman. Segala puji bagi Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang, Rabb penguasa seru sekalian alam.

Jogjakarta, 25 Shafar 1427

0 komentar:

Posting Komentar