Untaian Akidah Mukmin dan Mukminah
Bagian 5
Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Segala keberhasilan pasti akan diraih oleh orang-orang yang bertakwa. Tidak ada perseteruan kecuali melawan orang-orang zhalim. Saya bersaksi bahwa tiada sesembahan yang benar selain Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia lah sesembahan orang-orang yang pertama maupun yang terakhir hidup di alam dunia. Berkat kekuatan-Nya lah tegak langit dan bumi. Dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dia lah kekasih dan orang kepercayaan-Nya dalam mengemban wahyu. Allah mengutus beliau kepada seluruh umat manusia demi menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Beliau menjadi seorang da’i yang menyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya serta menjadi sebuah lentera yang menerangi kehidupan. Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada beliau, kepada keluarganya dan kepada para sahabatnya; orang-orang yang telah meniti jalan beliau dalam menyebarkan dakwah di jalan Allah. Mereka bersabar di dalamnya serta bersungguh-sungguh dalam meperjuangkannya. Sehingga Allah berkenan menampakkan kemenangan agama-Nya melalui jerih payah mereka dan Allah pun meninggikan kalimat-Nya, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukainya. Semoga keselamatan senantiasa terlimpah kepada mereka semua dengan sebanyak-banyaknya. (lihat Mukaddimah Wujuubu Da’wah ilallaah karya Al Imam Abdul ‘Aziz bin Baaz rahimahullah)
Amma ba’du.
Pembaca yang dirahmati Allah, tidak bosan-bosannya kita menyanjung Allah dan bersyukur kepada-Nya atas limpahan karunia yang sangat besar kepada diri kita. Nikmat Islam, nikmat iman dan amal shalih. Sungguh apabila kita cermati untaian perkataan Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah di dalam Tsalatsatul Ushul-nya niscaya tampaklah bagi kita bahwa nikmat-nikmat tersebut akan semakin bertambah sempurna apabila kita mau menyumbangkan diri kita untuk turut berdakwah menyeru manusia kepada agama Allah yang mulia ini. Beliau mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya wajib bagi setiap kita untuk mempelajari empat perkara. Yang pertama : Al Ilmu, yaitu mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal Agama Islam dengn dalil-dalil. Yang kedua : beramal dengannya. Yang ketiga : mendakwahkannya. Yang Keempat : bersabar di dalam menghadapi rintangan di dalamnya” (Tsalatsatu Ushul) Inilah pelajaran kelima yang akan kita petik dari perkataan beliau. Semoga Allah memberikan taufik-Nya kepada kami dan antum sekalian. Dengan memohon pertolongan dari Allah kami katakan :
Pelajaran Kelima
Berdakwah ilallah kunci kejayaan
Ikhwan (saudara) dan akhwat (saudari) rahimani wa rahimakumullah (semoga Allah merahmati saya dan kalian), dakwah adalah tugas yang sangat mulia. Inilah kewajiban terbesar kita setelah kita berilmu dan beramal dengan ilmu kita, yaitu ad da’wah ilallah. Menyeru umat manusia agar berilmu dan beramal, kembali kepada Allah, kembali kepada Islam, kepada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’iin. Bukan mengajak orang kepada diri pribadi, golongan, partai, yayasan, lembaga atau kebangsaan kita. Akan tetapi mengajak manusia agar meninggalkan gelapnya kekufuran menuju cahaya iman, dari gelapnya kesyirikan menuju cahaya tauhid, dari gelapnya kemaksiatan menuju cahaya ketaatan dan dari gelapnya perpecahan menuju terangnya persatuan di atas kebenaran. Inilah pelajaran berharga berikutnya yang kita gali pada kesempatan yang berbahagia kali ini. Sebagaimana telah ditegaskan Allah ta’ala di dalam firman-Nya (yang artinya), “Katakanlah (hai Muhammad). Inilah jalanku, aku menyeru manusia kepada agama Allah di atas landasan bashirah (ilmu dan keyakinan). Aku dan orang-orang yang mengikutiku pun seperti itu. Dan Maha suci Allah, aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf : 108)
Dakwah adalah jalan pengikut Rasul
Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mengatakan,
“Apabila seseorang sudah mendapatkan ilmu tentang agama Islam dengan taufik dari Allah serta sudah mampu mengamalkannya maka wajib baginya untuk berusaha menempuh dakwah kepadanya. Sebagaimana jalan yang ditempuh oleh para Rasul dan para pengikut mereka. Sedangkan tingkatan ilmu yang tertinggi adalah berdakwah kepada Al Haq, kepada jalan lurus guna menyingkirkan kesyirikan dan kerusakan. Sebab tidak ada seorang Nabipun yang diutus untuk berdakwah kepada kaumnya kecuali mereka mengajak kaumnya untuk berbuat taat kepada Allah, mengesakan-Nya dalam beribadah, melarang mereka dari segala bentuk syirik dan sarana-sarana yang menjerumuskan orang ke sana. Dia memulai dakwahnya dengan yang terpenting kemudian diikuti perkara penting lain sesudahnya yang menjadi bagian syari’at Islam” (Hasyiyah Tsalatsatul Ushul, hal. 12)
Da’i sejati adalah sebaik-baik manusia
Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkhali hafizhahullah berkata,
“Persoalan ketiga (yang wajib bagi kita, setelah ilmu dan amal) adalah : berdakwah kepadanya, yaitu mengajak orang untuk berilmu dan beramal. Sedangkan sebaik-baik manusia adalah orang yang berilmu, beramal dan berdakwah mengajak manusia untuk berilmu dan beramal. Hal ini sebagaimana tercantum dalam firman Allah ‘azza wa jalla (yang artinya), “Dan siapakah orang yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada agama Allah dan beramal shalih dan berkata, ‘Sesungguhnya kami ini adalah termasuk orang-orang muslim’ “. (QS. Fushshilat : 33) yaitu berdakwah kepada agama Allah, supaya orang-orang beramal dengan syari’at Allah serta mau tunduk dan memasrahkan dirinya kepada keputusan Allah tabaraka wa ta’ala sehingga mereka mau menerapkannya” (Thariiqul wushul ila idhaahi tsalatsatil ushul, hal. 13)
Harus Ikhlas dan ittiba’
Syaikh Nu’man bin Abdul Karim Al Watr mengatakan,
“Dengan ilmu dan amal seseorang berusaha untuk menyempurnakan dirinya sendiri. Sedangkan dengan berdakwah dia berupaya menyempurnakan orang lain. Dakwah ilallaah adalah termasuk ibadah yang paling agung dan memberikan dampak manfaat untuk orang lain. Ia adalah tugas yang diemban oleh para Nabi dan para pengikut mereka. Apabila dakwah memang seperti itu (termasuk ibadah) maka dalam berdakwah juga harus (terpenuhi syarat) ikhlas dan ittiba’ (mengikuti tuntunan). Sehingga (karena ikhlasnya) dia tidak berdakwah demi mengajak orang lain kepada dirinya pribadi, kelompoknya, pemikirannya, akan tetapi dia berdakwah kepada agama Allah. Dia tidak mengharapkan keuntungan duniawi apapun di balik dakwahnya, baik harta benda, kedudukan, popularitas ataupun tendensi-tendensi yang lain. Akan tetapi hendaknya dakwahnya hanya ditujukan agar bisa menyambung keterpautan hati antara hamba dengan penciptanya Yang Maha suci lagi Maha tinggi. Dan juga dia harus mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang Allah telah memerintahkan kita untuk meneladani beliau. Maka sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk beliau sedangkan sejelek-jelek urusan adalah yang diada-adakan (di dalam agama)..” (Taisirul wushul ila nailil ma’muul, hal. 11)
Syaikh Abdurrahman bin Muhammad bin Qasim rahimahullah berkata,
“Dakwah ilallah harus memenuhi dua syarat :
1. Harus ikhlash mengharapkan wajah Allah
2. Harus sesuai dengan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
Apabila seorang da’i kehilangan syarat pertama maka dia adalah seorang musyrik, dan apabila dia kehilangan syarat kedua maka dia adalah seorang pembuat bid’ah/mubtadi’. Sebagaimana pula seorang da’i sudah semestinya mengilmui apa yang diperintahkan dan apa yang dilarangnya, lemah lembut dalam memerintah maupun dalam melarang (dinukil dari al Jadiid, hal. 62)
Dakwah dengan ilmu bukan dengan kebodohan
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah mengatakan,
“Maksudnya ialah berdakwah kepada ajaran yang dibawa oleh Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yaitu syari’at-syari’at Allah ta’ala. Dakwah itu ditempuh melalui tiga tingkatan atau empat tingkatan sebagaimana sudah disinggung Allah ‘azza wa jalla di dalam firman-Nya (yang artinya), “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara terbaik” (QS. An Nahl :125) Dan tingkatan keempat tercantum dalam firman Allah, “Dan janganlah kamu berdebat dengan ahli kitab melainkan dengan cara terbaik, kecuali kepada orang-orang zhalim yang ada diantara mereka” (QS. Al ‘Ankabuut : 46) Dan untuk berdakwah ini sangat diperlukan ilmu pengetahuan tentang syari’at Allah ‘azza wa jalla sehingga dakwah yang dilancarkan pun berada di atas landasan ilmu dan bashirah. Hal ini sesuai dengan firman Allah ta’ala (yang artinya), “Katakanlah (hai Muhammad). Inilah jalanku, aku menyeru manusia kepada agama Allah di atas landasan bashirah (ilmu dan keyakinan). Aku dan orang-orang yang mengikutiku pun seperti itu. Dan Maha suci Allah, aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik” (QS. Yusuf : 108) Bashirah itu berkaitan dengan materi yang akan didakwahkan, artinya si da’i harus memiliki ilmu tentang hukum syari’at, tentang tata cara berdakwah serta kondisi objek yang didakwahi” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 22)
Besarnya pahala dakwah
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan,
“Dakwah ilallah ‘azza wa jalla adalah tugas yang diemban oleh para Rasul ‘alaihimush shalatu was salaam dan juga jalan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Apabila seseorang sudah mengenal sesembahannya, Nabinya dan mengenal agamanya. Dan Allah pun telah mengaruniakan kepada dirinya taufik untuk mencapai itu semua maka kewajiban dirinya kini adalah turut berupaya menyelamatkan saudara-saudaranya yaitu dengan cara mendakwahi mereka agar mengikuti tuntunan Allah ‘azza wa jalla. Dan berikanlah kabar gembira kepadanya dengan kebaikan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu pada saat peperangan Khaibar, “Berangkatlah dengan tenang sampai engkau tiba di medan pertempuran mereka. Kemudian ajaklah mereka untuk memeluk Islam dan beritahukan kepada mereka tugas kewajiban Islam yang harus mereka tunaikan kepada Allah ta’ala. Demi Allah, apabila Allah memberikan petunjuk melalui perantara dirimu kepada seorang saja itu lebih utama bagimu daripada hewan-hewan ternak yang paling mahal” (Hadits ini disepakati keshahihannya, muttafaq ‘alaih) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, “Barangsiapa menyeru kepada petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya. Dan hal itu tidaklah mengurangi sedikitpun pahala mereka. Dan barangsiapa yang menyeru kepada kesesatan maka dia akan memperoleh dosa seperti dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi sedikitpun dosa orang yang mengikuti mereka”. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits yang juga diriwayatkan oleh Muslim, “Barangsiapa yang menunjukkan kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang melakukannya” (Syarhu Tsalatsatul Ushul, hal. 23)
Agar dakwah menghasilkan buah perbaikan
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan rahimahullah mengatakan,
“Dakwah ilallah ta’ala sangat besar perkaranya dan pahalanya juga amat agung. Hal ini sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Demi Allah. Sungguh jika Allah memberikan hidayah melalui engkau kepada seorang saja itu lebih baik bagimu daripada mendapatkan hewan-hewan ternak yang paling mahal”. Sedangkan dakwah tidak akan bisa membuahkan hasil dan bisa menjadi sarana perbaikan dan pembangun kecuali apabila si da’i membekali dirinya dengan sifat-sifat yang menyebabkan dakwahnya bisa diterima dan memberikan dampak nyata. Di antara sifat-sifat tersebut adalah :
- Ketakwaan : yaitu mencakup seluruh makna yang terkandung di dalamnya. Baik itu yang berkaitan dengan pelaksanaan perintah maupun menjauhi larangan dan menghiasi dirinya dengan sifat-sifat kaum yang beriman.
- Keikhlasan : yaitu dengan dakwahnya dia berniat untuk meraih wajah Allah ta’ala dan keridhaan-Nya, berbuat kebaikan terhadap makhluk-Nya. Hendaknya dia waspada supaya tidak berniat karena ingin tampil beda dan menonjolkan diri di antara orang-orang atau ingin merendahkan orang yang didakwahi dengan membuatnya senantiasa merasa bodoh dan banyak meninggalkan kewajiban.
- Ilmu : maka seorang da’i juga harus mengetahui materi yang akan didakwahkannya, dia harus memahami kandungan ajaran yang terdapat di dalam Kitabullah ta’ala dan sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam serta perjalanan hidup salafush shalih.
- Lemah lembut dan mampu menahan diri ketika marah : karena medan dakwah yang diterjuni adalah hati dan jiwa manusia. Sementara hal itu kondisinya berbeda-beda sebagaimana perbedaan fisik dan rupa mereka.
- Memulai dengan yang terpenting kemudian perkara penting lainnya tergantung dengan lingkungan orang yang didakwahinya. Maka permasalahan akidah dan pokok-pokok agama adalah yang pertama kali harus disampaikan. Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menunjukkan kewajiban ini yaitu ketika beliau bersabda kepada Mu’adz radhiyallahu ‘anhu, “Maka hendaknya perkara yang pertama kali kamu dakwahkan adalah syahadat laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasulullah…al hadits”.
- Hendaknya dia menempuh jalan yang sudah digariskan Allah di dalam Kitab-Nya yang mulia. Allah subhaanahu berfirman (yang artinya), “Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasihat yang baik, dan debatlah mereka dengan cara terbaik” (QS. An Nahl :125) Hakikat hikmah adalah mengetahui kebenaran, mengamalkannya dan bersikap benar dalam perkataan dan perbuatan. Dan hal itu tidak akan bisa dicapai kecuali dengan cara memahami Al Qur’an, mendalami syari’at-syari’at Islam serta hakikat keimanan. Sedangkan “Nasihat yang baik” adalah perintah dan larangan yang diiringi dengan dorongan (targhib) dan penakutan (tarhib) serta melembutkan pembicaraan dan memberikan semangat kepada orang yang dinasihati. “Dan debatlah mereka dengan cara terbaik” artinya hendaknya dia mencari jalan yang paling mudah ditangkap dan diterima yaitu dengan konsisten terhadap materi yang disampaikan, menjauhi penggunaan emosi dan tidak menonjol-nonjolkan masalah-masalah kecil demi membenturkannya dengan perkara-perkara besar, hal itu dalam rangka menghemat waktu, menjaga harga diri dan kehormatan” (Hushuulul ma’mul, hal. 19-20)
Mengamalkan ilmu adalah ciri da’i sejati
Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan,
“Salah satu akhlaq dan sifat yang semestinya bahkan wajib dimiliki oleh da’i adalah beramal dengan isi dakwahnya. Dan hendaknya dia bisa menjadi teladan yang baik dalam perkara yang didakwahkannya. Bukan termasuk orang yang mengajak kepada sesuatu kemudian meninggalkannya. Atau melarang sesuatu tetapi kemudian dia sendiri justru melakukannya. Ini adalah keadaan orang-orang yang merugi, kita berlindung kepada Allah darinya. Adapun keadaan orang-orang yang beriman dan beruntung adalah menjadi da’i kebenaran, mereka mengamalkan ajakannya, bersemangat melakukannya, bersegera mengerjakannya serta berusaha menjauhi perkara yang dilarangnya. Allah jalla wa ‘ala berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang kalian sendiri tidak mengerjakannya. Sungguh besar murka Allah atas perkataan kalian terhadap sesuatu yang kalian sendiri tidak kerjakan” (QS. Ash Shaff : 2-3) Allah Subhaanahu juga berfirman dalam konteks celaan terhadap kaum Yahudi karena mereka menyuruh orang untuk berbuat baik sementara mereka sendiri melupakan diri sendiri, “Apakah kalian menyuruh orang untuk mengerjakan kebaikan sedangkan kalian melupakan kewajiban diri kalian sendiri. Padahal kalian juga membaca Al Kitab. Tidakkah kalian memahami” (QS. Al Baqarah : 44)…” (Wujuubu Da’wah ilallaah wa Akhlaaqu Du’aat, hal. 52)
Ancaman bagi da’i
Syaikh Nu’man bin Abdul Karim al Watr mengatakan,
“Di dalam Al Qur’an Allah ta’ala sering sekali menyebutkan amal shalih beriringan dengan iman. Dan Allah juga mencela orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan. Dan Allah mengabarkan bahwa perbuatan seperti itu (mengatakan sesuatu yang dia sendiri tidak mengerjakannya) adalah sangat dimurkai-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kalian mengatakan apa yang tidak kalian kerjakan. Sungguh besar kemurkaan di sisi Allah karena kalian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan” (QS. Ash Shaff : 2-3)”
Beliau melanjutkan, “Di dalam shahih Bukhari dan Muslim diriwayatkan hadits Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Maka penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?”. Dia menjawab, “Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya”. Oleh sebab itu ilmu harus diamalkan, shalat harus ditegakkan, zakat juga harus ditunaikan dan lain sebagainya. Karena sesungguhnya Allah tidak memiliki tujuan lain dalam menciptakan makhluk kecuali supaya mereka beribadah kepada-Nya. Allah berfirman (yang artinya), “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku” (QS. Adz Dzariyaat : 56)” (lihat Taisirul Wushul ila nailil ma’muul, hal. 10)
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata,
“Dan hendaknya diingat bahwa seseorang yang tidak beramal dengan ilmunya maka ilmunya itu kelak akan menjadi bukti yang menjatuhkannya. Hal ini sebagaimana terdapat dalam hadits Abu Barzah radhiyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai dia akan ditanya tentang empat perkara, diantaranya adalah tentang ilmunya, apa yang sudah diamalkannya”. Hal ini bukan berlaku bagi para ulama saja, sebagaimana anggapan sebagian orang. Akan tetapi semua orang yang mengetahui suatu perkara agama maka itu berarti telah tegak padanya hujjah. Apabila seseorang memperoleh suatu pelajaran dari sebuah pengajian atau khutbah Jum’at yang di dalamnya dia mendapatkan peringatan dari suatu kemaksiatan yang dikerjakannya sehingga dia pun mengetahui bahwa kemaksiatan yang dilakukannya itu adalah haram maka ini juga ilmu. Sehingga hujjah juga sudah tegak dengan apa yang didengarnya tersebut. Dan terdapat hadits yang sah dari Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan Al Qur’an itu adalah hujjah bagimu atau hujjah untuk menjatuhkan dirimu” (HR. Muslim)” (Hushulul Ma’mul, hal. 18)
Kedudukan dakwah tauhid
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi (penulis syarah Aqidah Thahawiyah) rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah. Tauhid merupakan seruan pertama dakwah para Rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang hamba yang menempuh jalan menuju Allah ‘azza wa jalla. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia’”(QS. Al A’raaf : 59). Huud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, “Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia” (QS. Al A’raaf : 65). Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, “Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia” (QS. Al A’raaf : 73). Allah ta’ala juga berfirman, “Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja” (QS. Al Anbiyaa’ : 25). Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah” (hadits riwayat Al Bukhari (25) dan Muslim (22) dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Di dalam pembahasan ini terdapat juga hadits serupa yang diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah, Anas bin Malik, An Nu’man bin Basyir, Thariq bin Asyim Al Asyja’i dan Mu’adz bin Jabal. Semoga Allah meridhai mereka semua).”
Beliau melanjutkan, “Oleh sebab itulah maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi laa ilaaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan dia juga menjadi kewajiban terakhir yang harus ditanggung. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang perkataan terakhirnya laa ilaaha illallah pasti masuk surga” (hadits riwayat Abu Dawud (3116) Ahmad (5/233,247) Al Haakim (1/351,500) dari hadits Mu’adz bin Jabal. Al Haakim menilainya shahih dan Adz Dzahabi menyetujuinya. Al Albani menilainya hasan di dalam Irwa’ul Ghalil (3/150)). (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, hal. 35)
Kenalilah sumber kerusakan umat manusia
Syaikh Doktor Muhammad bin Musa Nashr hafizhahullah mengatakan,
“Sumber kerusakan umat manusia di alam semesta seluruhnya bersumber dari perbuatan syirik yang mereka lakukan kepada Allah tuhan mereka dan karena mereka tidak menerapkan hukum (atas segala hal, pent) dengan syari’at Allah. Yang demikian itu dikarenakan syari’at ini ditegakkan di atas dua pondasi dasar yang sangat agung yaitu :
Pertama : Beribadah kepada Allah saja dan tidak boleh ada sekutu bagi-Nya
Kedua : Beribadah kepada Allah dengan menerapkan syari’at yang digariskan-Nya melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Inilah kandungan dari laa ilaaha illallaah dan Muhammadar Rasulullah. Makna dari laa ilaaha illallaah ialah tidak ada yang disembah dengan benar di dalam realita kecuali Allah. Sdangkan makna dari (persaksian) Muhammad Rasulullah adalah tidak ada yang harus senantiasa diikuti kecuali Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebagaimana Allah yang hak untuk disembah maka begitu juga Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah yang hak untuk diikuti” (Min Ma’aalim Manhaj Nabawi fi da’wah ilallah, hal. 12)
Tujuan yang ingin diraih
Di akhir tulisan ini kami ingin mengingatkan kepada saudara-saudara kami yang sangat merindukan tersebarnya dakwah salafiyah di tanah air ini tentang tujuan dakwah yang selama ini didengung-dengungkan. Sebagaimana ditulis oleh seorang Ustadz di sebuah makalahnya, semoga Allah merahmatinya. Beliau mengatakan,
“Tujuan Dakwah Salafiyyah
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz hafizhahullah (sekarang beliau sudah wafat, red) berkata dalam bukunya Fadhlud Da'wah ilallah hal. 32:
"Tujuan dakwah adalah mengeluarkan manusia dari gelapnya kekufuran dan keragu-raguan kepada cahaya kebenaran yang jelas dan murni. Di samping itu, juga membimbing mereka kepada kebenaran sehingga mereka mengetahuinya dan mengamalkannya. Pada akhirnya, mereka selamat dari api neraka dan kemurkaan Allah. Tujuan dakwah juga mengeluarkan orang kafir dari gelapnya kekufuran kepada cahaya iman dan petunjuk; mengeluarkan orang jahil dari kegelapan kebodohannya kepada cahaya ilmu, dan mengeluarkan ahli maksiat dari kegelapan kemaksiatannya kepada cahaya ketaatan. Inilah seluruh tujuan dakwah, sebagaimana yang difirmankan Allah:
اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ﴿البقرة: ٢٥٧﴾
"Allah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman)..." (Al-Baqarah: 257)” (dikutip dari artikel Metode Berdakwah yang diridloi Allah ta’ala, penulis Al Ustadz Muhammad Afifuddin, http://www.salafy.or.id)
Subhaanallah, sungguh indah tujuan yang ingin dicapai. Namun apakah cara yang kita tempuh selama ini sudah diridloi oleh Allah ta’ala. Marilah kita berintrospeksi diri. Apakah dakwah kita sudah benar, apakah sikap kita terhadap saudara kita sesama muslim, atau bahkan sesama da’i sudah benar ?? Jangan sampai kita termasuk kelompok orang-orang yang disinyalir oleh salah satu Imam dakwah salafiyah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah tatkala beliau berbicara tentang pemboikotan (hajr), “Barangsiapa yang menerapkan hajr karena hawa nafsunya, atau menerapkan hajr yang tidak diperintahkan untuk dilakukan, maka dia telah keluar dari hajr yang syar’i. Betapa banyak manusia melakukan apa yang diinginkan hawa nafsunya, tetapi mereka mengira bahwa mereka melakukannya karena Allah” (Majmu’ Fatawa, XXVIII/203-210) (dinukil dari Lerai Pertikaian Sudahi Pemusuhan, penulis Al Ustadz Abu ‘Abdil Muhsin Ibnu Abidin, hal. 30)
Ya Allah Rabb pemilik ‘Arsy yang Agung, Yang Maha hidup lagi Maha berdiri sendiri, Yang Maha perkasa lagi Maha bijaksana, Yang Maha pengampun lagi Maha penyayang, kami ini adalah hamba-Mu, tidak ada sesembahan yang hak selain Engkau. Engkau lah yang menciptakan kami. Kami berlindung dari kejelekan perbuatan kami. Kami mengakui nikmat-nikmat yang telah Engkau limpahkan kepada kami. Dan kami mengakui dosa-dosa kami. Maka ampunilah kami. Karena sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Subhaanakallahumma wa bihamdika asyhadu anlaa ilaaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik. Wa shallallahu ‘ala nabiyyinaa Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam.
Ditulis oleh seorang pemuda
yang merindukan keharmonisan dakwah salafiyah
Jogjakarta, 5 Rabi’ul Awwal 1427 Hijriyah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar