Menguak Hakikat Ibadah

Menguak Hakikat Ibadah

Segala puji bagi Alloh, shalawat beriring salam semoga senantiasa tercurah kepada Rosululloh, keluarga, para sahabat dan para pengikut mereka yang setia. Amma ba’du.

Pengertian ibadah
Dalam bahasa Arab kata ibadah secara asalnya memiliki makna : merendahkan diri dan tunduk (lihat Hushulul ma’mul, hal. 42) Demikianlah yang dikatakan oleh Imam Al Qurthubi, sebagaimana dinukil dalam Fathul Majiid (hal. 17). Pemaknaan serupa juga disebutkan oleh Imam Ibnu Katsir. Beliau berkata, “Dan (makna) ibadah dalam bahasa (Arab) berasal dari kata dzullah (hina atau rendah)…” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, I/34) (silakan periksa juga dalam At Tauhid li shaffil awwal al ‘aali karya Syaikh Sholih Al Fauzan, hal. 55) Begitu pula yang dikatakan oleh penulis syarah Al Wajibat, “Ibadah secara bahasa berarti perendahan diri, ketundukan dan kepatuhan” (Tanbihaat Mukhtasharah, hal. 28)

Adapun secara istilah syari’at, para ulama memberikan beberapa definisi yang beraneka ragam. Diantara definisi terbaik dan terlengkap adalah yang disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Beliau rohimahulloh mengatakan :
“Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Alloh dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir). Maka shalat, zakat, puasa, haji, berbicara jujur, menunaikan amanah, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali kekerabatan, menepati janji, memerintahkan yang ma’ruf, melarang dari yang munkar, berjihad melawan orang-orang kafir dan munafiq, berbuat baik kepada tetangga, anak yatim, orang miskin, ibnu sabil (orang yang kehabisan bekal di perjalanan), berbuat baik kepada orang atau hewan yang dijadikan sebagai pekerja, memanjatkan do’a, berdzikir, membaca Al Qur’an dan lain sebagainya adalah termasuk bagian dari ibadah. Begitu pula rasa cinta kepada Alloh dan Rosul-Nya, takut kepada Alloh, inabah (kembali taat) kepada-Nya, memurnikan agama (ketaatan) hanya untuk-Nya, bersabar terhadap keputusan (takdir)-Nya, bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya, merasa ridha terhadap qadha-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharapkan rahmat (kasih sayang)-Nya, merasa takut dari siksa-Nya dan lain sebagainya itu semua juga termasuk bagian dari ibadah kepada Alloh” (Al ‘Ubudiyah, cet. Maktabah Daarul Balaagh hal. 6)

Dari keterangan di atas kita bisa membagi ibadah menjadi ibadah hati, ibadah lisan dan ibadah anggota badan. Dalam ibadah hati ada perkara-perkara yang hukumnya wajib, ada yang sunnah, ada yang mubah dan adapula yang makruh atau haram. Dalam ibadah lisan juga demikian, ada yang wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Begitu pula dalam ibadah anggota badan. Ada yang yang wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram. Demikian kurang lebih kandungan keterangan Imam Ibnul Qoyyim yang dinukil oleh Syaikh Abdurrohman bin Hasan dalam Fathul Majidnya.

Ibadah adalah hak Alloh murni
Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya seluruh masjid itu adalah milik Alloh, maka janganlah kalian menyeru di samping Alloh seorangpun” (QS. Al Jinn : 18). Di dalam ayat ini Alloh melarang kita menyeru (berdo’a) kepada selain Alloh. Para ulama menerangkan bahwa istilah do’a mencakup dua perkara yaitu do’a mas’alah dan do’a ibadah. Do’a mas’alah ialah perbuatan meminta kepada Alloh dengan perantara nama-nama dan sifat-sifat yang dimiliki oleh Alloh. Misalnya kita berdo’a kepada Alloh dengan mengatakan, “Ya Ghofuur ighfirlii” yang artinya “Wahai Alloh yang Maha pengampun, ampunilah hamba”. Atau seperti “Ya Razzaaq urzuqni” yang artinya “Wahai Alloh yang Maha pemberi rizki, karuniakanlah rizki kepada hamba”, dan sebagainya.

Sedangkan yang dimaksud do’a ibadah adalah beribadah kepada-Nya dengan landasan pengetahuan hamba terhadap konsekuensi kesempurnaan nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Misalnya, karena anda mengetahui bahwa Alloh Maha mendengar maka anda pun berusaha untuk mengatakan ucapan yang baik-baik saja. Sebagaimana di dalam hadits disebutkan, “Barangsiapa yang beriman kepada Alloh dan hari akhir hendaklah dia berkata yang baik atau diam” (HR. Al Bukhori dan Muslim). Contoh lain, karena anda mengetahui Alloh Maha melihat maka andapun tetap berpuasa Ramadhan meskipun tidak ada seorangpun yang melihat anda seandainya anda nekat membatalkan puasa tanpa sebab yang benar. Singkatnya, perbedaan antara do’a mas’alah dan do’a ibadah ialah sebagaimana yang diungkapkan oleh Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin, “Maka do’a mas’alah yaitu anda mengambil perantara dengan nama-nama Alloh ta’ala di dalam do’a yang anda panjatkan. Sedangkan do’a ibadah yaitu anda beribadah kepada Alloh berdasarkan konsekuensi nama-nama tesebut” (Syarh Al Qawa’id Al Mutsla, hal. 23)

Sehingga berdasarkan ayat di atas seorang hamba tidak diperbolehkan berdo’a kepada siapapun selain Alloh, baik dia itu wali, malaikat, nabi, apalagi batu dan pohon. Larangan ini juga mencakup kedua macam do’a di atas, do’a mas’alah maupun do’a ibadah. Sebab ibadah adalah hak Alloh murni. Barangsiapa menujukan salah satu bentuk ibadah kepada selain Alloh maka dia telah mempersekutukan Alloh. Inilah yang disebut dengan syirik dalam hal uluhiyah atau syirik ibadah, atau lebih sering disebut dengan istilah syirik saja. Inilah jurang pemisah antara penduduk surga dengan penduduk neraka. Barangsiapa mati dalam keadaan berbuat syirik besar maka dia termasuk penghuni neraka. Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bertemu Alloh dalam keadaan tidak mempersekutukan sesuatu dengan Alloh maka dia masuk surga. Dan barangsiapa yang bertemu Alloh dalam keadaan masih mempersekutukan sesuatu dengan-Nya maka dia masuk neraka” (HR. Al Bukhori dalam Kitabul Ilmi)

Ta’abbud dan muta’abbad bih
Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh di dalam kitabnya yang sangat bagus berjudul Al Qoul Al Mufid menjelaskan bahwa istilah ibadah bisa dimaksudkan untuk menamai salah satu diantara dua perkara berikut :
1. Ta’abbud. Yaitu menghinakan diri dan tunduk kepada Alloh ‘azza wa jalla. Hal ini dibuktikan dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan yang dilandasi kecintaan dan pengagungan kepada Dzat yang memerintah dan melarang (Alloh ta’ala).
2. Muta’abbad bihi. Yaitu sarana yang digunakan dalam menyembah Alloh. Inilah pengertian ibadah yang dimaksud dalam definisi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, “Ibadah adalah suatu istilah yang mencakup segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, baik yang tersembunyi (batin) maupun yang nampak (lahir)”.
Seperti contohnya sholat. Melaksanakan sholat disebut ibadah karena ia termasuk ta’abbud (menghinakan diri kepada Alloh). Adapun segala gerakan dan bacaan yang terdapat di dalam rangkaian sholat itulah yang disebut muta’abbad bihi. Maka apabila disebutkan kita harus mengesakan Alloh dalam beribadah itu artinya kita harus benar-benar menghamba kepada Alloh saja dengan penuh perendahan diri serta disertai rasa kecintaan dan pengagungan kepada Alloh dengan melakukan tata cara ibadah yang disyari’atkan-Nya (lihat Al Qoul Al Mufid I/7)

Keistimewaan ibadah
Syaikhul Islam membeberkan beberapa keistimewaan ibadah berdasarkan dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah. Diantara Keistimewaan tersebut ialah :

Ibadah adalah tujuan penciptaan makhluk
Beliau berkata, “Sesungguhnya ibadah itulah tujuan (penciptaan) yang menyimpan kecintaan dan keridhaan Alloh. Alloh menciptakan seluruh makhluk untuk mewujudkan tujuan ini. Hal ini sebagaimana difirmankan Alloh ta’ala, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Adz Dzariyaat : 56)

Ibadah adalah tujuan pengutusan seluruh Rosul
Beliau berkata, “Alloh mengutus semua Rosul dengan sebab hal ini (ibadah). Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Nuh kepada kaumnya, “Sembahlah Alloh, tiada sesembahan (yang benar) selain Dia” (QS. Al A’raaf : 59) Demikian pula yang diserukan oleh Hud, Shalih, Syu’aib dan nabi-nabi yang lain kepada kaum mereka. Alloh ta’ala juga berfirman, “Dan sungguh telah kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang mengajak sembahlah Alloh dan jauhilah thaghut. Maka diantara mereka ada yang diberi hidayah oleh Alloh. Dan adapula diantara mereka yang berhak mendapatkan kesesatan” (QS. An Nahl : 36). Alloh ta’ala juga berfirman, “Tidaklah Kami mengutus sebelummu seorang Rosul melainkan Kami wahyukan kepadanya Sesungguhnya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Aku, maka sembahlah Aku (saja)” (QS. Al Anbiyaa’ : 92) Sebagaimana Alloh telah berfirman dalam ayat yang lain, “Wahai para Rosul, makanlah yang baik-baik dan beramal shalihlah, sesungguhnya Aku Maha mengetahui semua yang kalian kerjakan. Sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu, dan Akulah Robbmu maka bertakwalah (beribadahlah) kepada-Ku” (QS. Al Mu’minuun : 51-52)

Ibadah adalah kewajiban sepanjang hayat dikandung badan
Beliau berkata, “Alloh membebankan kewajiban (ibadah) ini secara terus menerus kepada Rosul-Nya hingga datangnya kematian. Hal ini sebagaimana difirmankan Alloh ta’ala, “Dan sembahlah Robbmu sampai datang kematian kepadamu” (QS. Al Hijr : 99)

Ibadah adalah ciri keistimewaan para malaikat dan para Nabi
Beliau berkata, “Dengan (ketaatan beribadah) itulah Alloh menyifati para malaikat dan nabi-nabi-Nya. Alloh ta’ala berfirman, “Dan semua yang berada di langit maupun di bumi adalah milik Alloh, begitu pula para malaikat yang ada di sisi-Nya. Mereka itu tidak menyombongkan diri dari beribadah kepada-Nya, mereka juga tidak merasa bosan. Mereka bertasbih siang dan malam tanpa kenal lelah” (QS. Al Anbiyaa’ : 19-20) Alloh ta’ala juga berfirman, “Sesungguhnya para malaikat yang berada di sisi Robbmu tidak merasa sombong dari beribadah kepada-Nya, mereka senantiasa bertasbih dan bersujud kepada-Nya” (QS. Al A’raaf : 206)

Alloh mencela orang yang sombong dan tak mau tunduk beribadah kepada-Nya
Beliau berkata, “Dan Alloh mencela orang-orang yang sombong dan tak mau beribadah kepada-Nya dengan firman-Nya, “Robbmu berfirman : Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tak mau beribadah kepada-Ku pasti akan masuk ke dalam neraka dalam keadaan hina” (QS. Ghoofir : 60)

Alloh menyifati makhluk-makhluk pilihan-Nya dengan ibadah dan penghambaan
Beliau berkata, “Dan Alloh menyifati makhluk-makhluk pilihan-Nya dengan penghambaan kepada-Nya. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Mata air (di surga) itu diminum oleh hamba-hamba Alloh yang mereka dapat mengalirkannya sebaik-baiknya” (QS. Al Insaan : 6)
Alloh juga berfirman, “Dan hamba-hamba Ar-Rahman ialah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati. Apabila ada orang jahil mengajak bicara mereka maka mereka mengatakan perkataan yang baik...” (QS. Al Furqoon : 63-77)

Alloh menyifati para malaikat sebagai hamba-hamba yang dimuliakan
Beliau berkata, “Dan Alloh berfirman tatkala menyifati para malaikat dengan sifat hamba, “Mereka (orang kafir) mengatakan Ar-Rahman mengambil putera. Maha suci Dia, bahkan (mereka, yaitu malaikat) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak mendahului perkataan-Nya dan senantiasa mengerjakan perintah-Nya..” (QS. Al Anbiyaa’ : 26-27)

Seluruh ajaran agama tercakup dalam istilah ibadah
Beliau berkata, “Maka seluruh bagian agama tercakup dalam ibadah. Terdapat hadits yang tercantum dalam kitab Shahih yang menceritakan bahwa suatu saat Jibril pernah datang menemui Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam dalam rupa seorang Arab badui. Dia bertanya kepada beliau tentang makna Islam. Beliau menjawab, “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Alloh dan Muhammad adalah utusan Alloh, engkau dirikan sholat, tunaikan zakat, berpuasa Romadhon dan berhaji ke Ka’bah jika engkau mampu menempuh perjalanan ke sana”. Dia bertanya lagi, “Lalu apakah iman itu ?” Beliau menjawab, “Yaitu engkau beriman kepada Alloh, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, hari akhir dan engkau beriman kepada takdir, yang baik mupun yang buruk”. Dia bertanya lagi, “Lalu apakah yang dimaksud dengan ihsan ?”. Beliau menjawab, “Yaitu engkau beribadah kepada Alloh seolah-olah engkau melihat-Nya. Dan apabila engkau tidak bisa maka sadarilah bahwa sesungguhnya Dia Maha melihatmu”. Kemudian beliau bersabda di akhir hadits, “Inilah Jibril yang datang kepada kalian untuk mengajarkan agama kalian”. Di sini Nabi menyebut seluruh perkara yang ditanyakan Jibril termasuk dalam bagian agama” (untuk lebih lengkap silakan baca Al ‘Ubudiyah, hal. 6-11)

Macam-macam ubudiyah
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahulloh menjelaskan bahwa penghambaan (‘ubudiyah) itu ada tiga macam :
1. ‘Ubudiyah ‘aammah,
2. ‘Ubudiyah khooshshoh,
3. ‘Ubudiyah khooshshotul khooshshoh.

‘Ubudiyah ‘aammah atau penghambaan yang bersifat umum ialah penghambaan terhadap rububiyah Alloh, penghambaan ini meliputi semua makhluk. Penghambaan ini disebut juga ‘ubudiyah kauniyah. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi melainkan pasti akan datang menemui Ar-Rahman sebagai hamba” (QS. Maryam : 93). Sehingga orang-orang kafir pun termasuk hamba dalam kategori ini.

Sedangkan ‘ubudiyah khooshshoh atau penghambaan yang khusus ialah penghambaan berupa ketaatan secara umum. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Dan hamba-hamba Ar-Rahman adalah orang-orang yang berjalan di atas muka bumi dengan rendah hati” (QS. Al Furqoon : 63). Penghambaan ini meliputi semua orang yang beribadah kepada Alloh dengan mengikuti syari’at-Nya.

Adapun ‘ubudiyah khooshshotul khooshshoh atau penghambaan super istimewa ialah penghambaan para Rosul ‘alaihimush sholaatu was salaam. Hal ini sebagaimana difirmankan Alloh tentang Nuh, “Sesungguhnya dia adalah seorang hamba yang pandai bersyukur” (QS. Al Isroo’ : 3). Alloh juga berfirman tentang Muhammad, “Dan apabila kalian merasa ragu terhadap wahyu yang Kami turunkan kepada hamba Kami…” (QS. Al Baqoroh : 23). Begitu pula pujian Alloh kepada para Rosul yang lain di dalam ayat-ayat yang lain. ‘Ubudiyah jenis kedua dan ketiga ini bisa juga disebut ‘ubudiyah syar’iyah (lihat Al Qoul Al Mufid I/16, Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 38-39).

Dari ketiga macam ubudiyah ini maka yang terpuji hanyalah yang kedua dan ketiga. Karena pada ‘ubudiyah yang pertama manusia tidak melakukannya dengan sebab perbuatannya. Akan tetapi kejadian-kejadian kauni yang menimpa dirinya terkadang bisa menyebabkan pujian atasnya. Yaitu misalnya apabila ketika memperoleh kelapangan kemudian dia bersyukur. Dan apabila tertimpa musibah kemudian dia bersabar. Adapun ‘ubudiyah yang kedua dan ketiga jelas terpuji karena ia terjadi berdasarkan hasil pilihan hamba dan perbuatan-Nya, bukan karena suatu sebab yang di luar kekuasaannya, seperti datangnya musibah dan lain sebagainya (lihat Syarh Tsalatsatul Ushul, hal. 38-39).

Beberapa contoh ibadah
1. Do’a
Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Dan Tuhanmu memerintahkan, “Berdo’alah kepada-Ku niscaya Aku kabulkan permintaanmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku pasti akan masuk neraka jahannam dalam keadaan hina” (QS. Ghofir : 60). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Do’a itulah ibadah” (HR. Abu Dawud). Karena do’a adalah ibadah maka memalingkan do’a (permintaan) kepada selain Alloh dalam perkara yang hanya dikuasai Alloh adalah perbuatan syirik.
2. Istighotsah
Istighotsah adalah meminta pertolongan agar dihilangkan bahaya yang sedang menimpa seseorang. Pada hakikatnya ia juga termasuk do’a. Alloh ta’ala berfirman menceritakan keadaan orang yang beristighotsah kepada-Nya, “Ketika kalian meminta pertolongan kepada Tuhan kalian maka Allohpun mengabulkan permohonan kalian” (QS. Al Anfaal : 9). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya tidak boleh beristighotsah kepadaku. Karena sesungguhnya istighotsah itu hanya boleh ditujukan kepada Alloh” (HR. Ath Thobroni). Karena istighotsah adalah ibadah maka memalingkannya kepada selain Alloh adalah syirik.
3. Menyembelih hewan
Banyak orang yang terjerumus dalam peribadahan kepada selain Alloh dalam bentuk semacam ini, seperti menyembelih untuk sesaji atau dipersembahkan untuk jin penunggu jembatan atau untuk Nyi Roro Kidul dan lain sebagainya. Padahal menyembelih adalah ibadah. Alloh berfirman, “Katakanlah ‘Sesungguhnya sholatku dan penyembelihanku, hidup dan matiku semuanya untuk Alloh tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya” (QS. Al An’aam : 162-163). Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Alloh melaknat orang yang menyembelih untuk selain Alloh” (HR. Muslim). Karena menyembelih adalah ibadah maka memalingkannya kepada selain Alloh adalah syirik.

Poros penghambaan
Syaikhul Islam mengatakan, “Ibadah, ketaatan, istiqomah dan menetapi jalan yang lurus serta ungkapan lain semisalnya termasuk istilah-istilah yang memiliki maksud yang satu. Dan semuanya memiliki dua pokok landasan :
Pertama : Tidak boleh ada yang disembah kecuali Alloh
Kedua : Alloh diibadahi hanya dengan tata cara yang diperintahkan dan disyari’atkan-Nya, bukan dengan cara selainnya seperti bid’ah dan semacamnya.
Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang mengharapkan perjumpaan dengan Tuhannya hendaklah dia beramal sholih dan tidak mempersekutukan sesuatu dengan Alloh dalam beribadah kepada Tuhannya” (QS. Al Kahfi : 110)…” (Al ‘Ubudiyah, hal. 39)

Beliau menjelaskan bahwa makna amal sholih ialah melakukan kebaikan. Adapun kebaikan itu sendiri ialah segala sesuatu yang dicintai Alloh dan Rosul-Nya. Kebaikan itu terdapat dalam hal yang diperintahkan Alloh dan Rosul-Nya, baik yang sifatnya wajib maupun sunnah untuk dikerjakan. Sedangkan makna ‘tidak mempersekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada tuhannya’ ialah keharusan untuk memurnikan (mengikhlaskan) agama hanya untuk Alloh saja. Oleh sebab itulah diriwayatkan bahwa ‘Umar bin Khoththob rodhiyallohu ‘anhu pernah berdo’a, “Allohummaj’al ‘amali kullahu shoolihan, waj’alhu li wajhika khoolishon, wa laa taj’al li ahadin fiihi syai’an” yang artinya, “Wahai Alloh, jadikanlah semua amalku menjadi sholih. Jadikanlah amal itu ikhlas untuk mengharap wajah-Mu semata. Dan janganlah Engkau jadikan ia kulakukan demi siapapun selain untuk-Mu” (Al ‘Ubudiyah, hal. 39)

Kedua hal inilah (ikhlas dan sesuai tuntunan) yang menjadi syarat diterimanya suatu amal ibadah. Dan kedua hal ini pulalah yang menjadi konsekuensi syahadat laa ilaaha illalloh muhammadur rosululloh. Konsekuensi persaksian tiada sesembahan selain Alloh ialah kita beribadah hanya kepada Alloh, semua ibadah hanya demi meraih keridhoan dan pahala dari Alloh. Sedangkan konsekuensi persaksian Muhammad adalah utusan Alloh ialah kita hanya mengikuti syari’at Rosululloh dalam beribadah kepada Alloh, bukan dengan cara-cara bid’ah. Tidak akan diterima ibadah yang hanya bermodal ikhlas tanpa cara yang benar, sebagaimana tidak akan diterima ibadah yang caranya benar akan tetapi tidak dilandasi keikhlasan. Demikianlah kurang lebih penjelasan para ulama tentang syarat diterimanya ibadah (silakan baca Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim akhir surat Al Kahfi).

Kualitas penghambaan menentukan tingkat kesempurnaan
Setelah menjelaskan poros penghambaan di atas beserta hal-hal yang terkait dengannya Syaikhul Islam mengatakan, “Setelah hal ini jelas. Dengan demikian (dapat disimpulkan) bahwa kesempurnaan makhluk itu terletak dalam hal perealisasian ibadahnya kepada Alloh. Setiap kali seorang hamba meningkatkan kualitas penghambaannya niscaya kesempurnaannya pun akan semakin bertambah dan derajatnya pun akan semakin meninggi. Dan barangsiapa yang meyakini bahwa makhluk diperbolehkan untuk keluar dari kewajiban beribadah dengan alasan apapun atau meyakini bahwa keluar dari ibadah itu merupakan bukti kesempurnaan maka dia tergolong makhluk yang paling bodoh dan orang yang paling sesat diantara mereka” (Al ‘Ubudiyah, hal. 44)

Inilah bantahan telak bagi orang-orang sufi dan tarikat yang menganggap apabila seorang wali itu telah bisa mencapai derajat tertentu dia boleh meninggalkan ibadah seperti sholat dan lain sebagainya. Mereka mengira itu dengan meninggalkan ibadah itu menjadi bukti kesempurnaan hamba. Justru sebaliknya. Sebab kebutuhan kita sebagai makhluk terhadap ibadah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak. Syaikhul Islam berkata, “Hati sangat membutuhkan terhadap Dzat Alloh dari dua sisi : (pertama) dari sisi ibadah, inilah ‘illah al ghoo’iyah (sebab yang ingin diraih) dan (kedua) juga dari sisi pertolongan dan penyandaran diri (tawakal), inilah ‘illah al faa’iliyah (sebab yang membuat hamba bisa tunduk beribadah). Karena hati tidak akan menjadi baik, tidak akan beruntung, tidak akan merasa nikmat dan senang, tidak akan bisa mengecap kelezatan dan kebaikan, tidak akan merasakan ketenangan dan ketentraman kecuali dengan tunduk beribadah kepada Tuhannya, mencintai-Nya dan kembali mentaati-Nya (inabah)…” (Al ’Ubudiyah, hal. 73-74). Inilah rahasia dibalik ayat yang senantiasa kita panjatkan minimal tujuh belas kali dalam sehari semalam, “Iyyaaka na’budu wa iyaaka nasta’iin” Hanya kepada Engkau lah kami beribadah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan. Dari kalimat Iyyaaka na’budu kita dituntut untuk melepaskan segala bentuk ibadah dan ketergantungan hati kepada selain Alloh. Dan dalam kalimat Iyyaka nasta’iin kita dituntut untuk menggantungkan harapan kita hanya kepada Alloh dan senantiasa memohon pertolongan Alloh agar kita bisa menegakkan ibadah. Karena tanpa pertolongan Alloh tidak ada seorang pun yang bisa beribadah kepada-Nya. Semoga Alloh menyelamatkan kita dari kesesatan syubhat dan jeratan syahwat. Wa shollallohu ‘ala nabiyyina Muhammadiin wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

0 komentar:

Posting Komentar