Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah ta’ala

Untaian Faidah dari Kitab Aqidah Thahawiyah
Bagian 2

Tiada sesuatupun yang menyerupai Allah ta’ala

Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Muhammad Nabi terakhir dan teladan umat Islam. Amma ba’du.
Al Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah mengatakan,
“Dan tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya”

Al Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Ahlu sunnah sepakat bahwasanya Allah tiada sesuatupun yang menyerupai-Nya, baik dalam hal Dzat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya” (Syarh Ath Thahawiyah, hal. 40)

Menetapkan tanpa penyerupaan dan Menyucikan tanpa penolakan
Allah ta’ala berfirman di dalam kitab-Nya yang mulia menetapkan sebuah kaidah yang sangat agung dalam masalah asma’ wa shifat, yaitu dalam firman-Nya yang artinya, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat” (QS. Asy Syuura : 11) Dari ayat inilah bersumber keyakinan ahlu sunnah wal jama’ah dalam beriman terhadap nama-nama dan sifat-sifat Allah ta’ala. Mereka menetapkan seluruh nama dan sifat Allah yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya di dalam Al Qur’an maupun As Sunnah sebagaimana apa adanya, tanpa menyimpangkan maknanya maupun menolaknya; baik sebagian apalagi seluruhnya. Di sinilah letak keistimewaan ahlu sunnah wal jama’ah dibandingkan firqah-firqah sesat yang bertebaran di tengah umat. Ahlus Sunnah menggabungkan ayat-ayat dan hadits-hadits yang ada tanpa mengesampingkan salah satunya. Inilah keadilan, inilah kebijaksanaan yang dianugerahkan Allah kepada para ulama yang mendalam ilmunya (ar raasikhuuna fil ‘ilmi).

Mereka tidak mendahulukan akal dan perasaannya di atas ketetapan Allah dan Rasul-Nya demi melaksanakan firman Allah ta’ala yang artinya, “Maka sekali-kali tidak, Demi Tuhanmu pada hakikatnya mereka belum sempurna keimanannya sampai mereka menjadikanmu (wahai Muhammad) sebagai pemutus perkara dalam segala perselisihan yang ada di antara mereka kemudian mereka tidak mendapatkan di dalam diri mereka perasaan sempit terhadap apa yang sudah engkau putuskan dan bersikap pasrah sepenuhnya” (QS. An Nisaa’ : 65)

Di dalam kalimat “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya” terkandung beberapa faedah penting yaitu :
1. Tidak ada satu makhlukpun yang menyerupai Allah ta’ala, baik dalam hal dzat, nama, sifat maupun perbuatan-Nya
2. Ini menjadi bantahan bagi kaum yang menyerupakan Allah dengan makhluk, mereka inilah yang disebut dengan nama kaum mumatstsilah atau musyabbihah. Sehingga apabila Allah menyebutkan diri-Nya memiliki tangan maka merekapun mengira tangan Allah sebagaimana tangan makhluk, Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.
3. Di sini juga terkandung penyucian Allah dari tandingan dan penyerupaan
4. Ini menunjukkan bahwa salah satu kesempurnaan dan kemuliaan tauhid ialah menempatkan Allah dalam posisi tertinggi sehingga tiada sesuatupun yang menandinginya
5. Maka orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya pada hakikatnya sedang menghina dan melecehkan Dzat Yang Maha sempurna dengan makhluk yang penuh dengan kekurangan dan cela. Duhai, tidakkah mereka itu menyadarinya ?

Di dalam kalimat, “Dan Dia Maha mendengar lagi Maha melihat” terkandung beberapa faidah penting yaitu :
1. Allah memiliki nama As Samii’ artinya Maha mendengar
2. Allah memiliki nama Al Bashiir artinya Maha melihat
3. Allah memiliki sifat As Sam’u artinya berpendengaran
4. Allah memiliki sifat Al Bashar artinya berpenglihatan
5. Ini merupakan bantahan bagi kaum yang menolak sifat-sifat Allah atau bahkan menolak nama-nama-Nya. Mereka inilah yang disebut dengan kaum mu’aththilah. Sehingga apabila disebutkan Allah melihat atau mendengar mereka langsung menolaknya karena mereka mengira kalau kita menetapkan sifat-sifat tersebut kita telah terjerumus dalam penyerupaan Allah dengan makhluk. Padahal Allah menyatakan tiada sesuatupun yang serupa dengan-Nya. Ini semua timbul karena anggapan mereka bahwa makna yang diinginkan apabila kita menetapkan nama atausifat sebagaimana adanya maka yang terjadi adalah penyerupaan. Ini jelas salah karena bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah serta pemahaman salaful ummah.
6. Di sini terkandung penetapan nama-nama dan sifat-sifat Allah, ini menunjukkan kesempurnaan Allah baik dalam hal pendengaran maupun penglihatan
7. Pendengaran dan penglihatan Allah tidak sebagaimana pendengaran dan penglihatan yang ada pada makhluk
8. Maka orang yang menolak nama maupun sifat-sifat Allah pada hakikatnya dia sedang menentang ketentuan Allah, Allah menetapkan punya sifat mendegar dan melihat tetapi mereka justru menolaknya, bukankah ini artinya mereka memprotes Allah, padahal Allah lah yang lebih tahu daripada mereka.

Dari ayat inilah muncul sebuah kaidah dalam masalah asma’ wa shifat yang diyakini oleh para ulama salaf yaitu itsbaatun bi laa tasybiihin wa tanziihun bi laa ta’thiilin, mereka menetapkan tanpa menyerupakan dan menyucikan tanpa melakukan penolakan (sebuah faidah yang kami dapatkan dari ceramah Al Ustadz Afifi Abdul Wadud hafizhahullah)

Kaidah penting !!!
Dalam menyikapi nash-nash Al Kitab dan As Sunnah kita wajib membiarkan penunjukannya sebagaimana zhahir nash tanpa perlu menyimpangkan maksudnya. Ini adalah kaidah yang sangat penting. Penetapan Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah termasuk perkara ghaib sehingga hal itu tidak bisa dijangkau dengan akal dan rasio semata. Makna zhahir dari Nama dan Sifat tersebut hanya bisa dipahami melalui bahasa Arab, karena Al Qur’an turun dengan bahasa ini. Begitu pula Rasul yang kepada beliau diturunkan Al Qur’an adalah orang yang berbahasa Arab. Orang-orang yang diajak bicara oleh beliau di masa itu juga orang-orang yang berbahasa Arab. Mereka bisa memahami Al Qur’an dengan bahasa tersebut.

Allah Ta’ala berfirman, “Dia (Al Qur’an) dibawa turun oleh Ar Ruh Al Amin (Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan dengan bahasa Arab yang jelas” (QS. Asy Syu’araa’ 193-195). Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menjadikan Al Qur’an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)” (QS. Az Zukhruf 3). Maka setiap muslim wajib memahami nash-nash sesuai dengan makna zhahirnya yaitu menurut bahasa Arab selama tidak ada dalil dari syar’i yang menghalanginya.

Yang dimaksud dengan makna zhahir dari pembicaraan adalah makna yang bisa langsung tergambar di dalam benak pikiran ketika mendengarnya. Dengan demikian makna zhahir itu bisa berbeda-beda tergantung kepada susunan kalimat dan menyesuaikan konteks pembicaraan serta kepada siapa ucapan tersebut disandarkan. Contoh penerapannya adalah dalam firman Allah Ta’ala, “Tak ada suatu negeripun/qoryah (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya…” (QS. Al Israa’ 58). Bandingkan dengan firman Allah yang berikut ini, “Sesungguhnya Kami akan menghancurkan penduduk (Sodom)/ahlul qoryah ini” (QS. Al Ankabuut 31). Di dalam kedua ayat ini kata ‘qoryah’ memiliki perbedaan maksud.

Begitu pula firman Allah Ta’ala, “Dan supaya kamu (Musa) diasuh dibawah pengawasan-Ku (‘alaa ‘ainy)” (QS. Thahaa 39). Orang yang berakal tentu tidak akan mengatakan bahwa makna zhahir yang bisa langsung ditangkap dari ayat ini adalah Nabi Musa diciptakan di atas Mata Allah Ta’ala, tetapi makna zhahir yang pasti benar adalah Musa ‘alaihi salam dipelihara dan diciptakan Allah sementara Mata Allah senantiasa mengawasi dan melindunginya. Begitu pula apabila ada orang yang berkata, ‘Si Fulan ‘alaa ‘ainy (di mataku)’ atau mengatakan ‘Dia tahta ‘ainy (di bawah penglihatanku)’. Maka tidak pernah anda dapatkan ada orang yang memahaminya dengan arti si fulan itu masuk di dalam matanya atau dibawah bola matanya.

Orang-orang yang mensikapi kaidah ini terbagi menjadi beberapa golongan :

Golongan pertama :
Ahlu Sunnah wal Jama’ah As Salafiyyuun (pengikut Salaf). Mereka bersikap sebagaimana kaidah yang telah diterangkan.

Golongan kedua :
Orang-orang yang memahami makna nash-nash Nama dan Sifat Allah mengarah kepada tamtsil (penyerupaan Allah dengan makhluk-pent). Sehingga apabila dia membaca firman Allah Ta’ala, “Bahkan kedua Tangan Allah terbentang” (QS. Al Maa’idah 64). Maka dia akan berkata, “Saya tidak memahami makna ‘Tangan’ kecuali dengan bentuk sebagaimana tangan saya ini, karena yang dinamai sama” (yaitu tangan-pent). Namun alasan ini terbantahkan oleh firman Allah Ta’ala, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” (QS. Asy Syuura 11).

Sebagaimana diketahui bahwa terkadang sesuatu yang namanya sama akan tetapi bentuk/kaifiyahnya bisa jadi berbeda-beda. Seperti contohnya apabila anda menyebut ‘tangan manusia, tangan tikus, tangan gajah dan lain sebagainya…’ bukankah sesuatu yang dinamai sama (yaitu tangan-pent) sedangkan kaifiyahnya jelas berbeda-beda, sebagaimana hal itu bisa kita saksikan. Perbedaan semacam ini amat jelas terbukti ada pada sesama makhluk, lalu bagaimana pula dengan perbedaan yang ada antara Al Khaaliq (Pencipta) dengan makhluk ?.

Oleh karena itu Imam Ibnul Qayyim bersya’ir tentang permasalahan ini,
Kami (Ahlu Sunnah) tidaklah menyerupakan
antara sifat Allah dan sifat ciptaan
Adapun orang yang menyerupakan
sebenarnya merekalah penyembah berhala pujaan

Golongan ketiga :
Orang-orang yang memahami makna nash-nash Nama dan Sifat Allah merupakan bentuk penyerupaan/tamtsil. Pemahaman seperti ini mendorong mereka untuk melakukan penolakan/ta’thil. Kemudian mereka berusaha menentukan makna lain yang bisa diterima oleh akal mereka, dan mereka pun berselisih dalam menentukannya. Mereka menyebut tindakan ini sebagai ta’wil/tafsir, padahal sesungguhnya mereka telah melakukan tahrif/penyimpangan. Alangkah benar ungkapan orang yang mengomentari tingkah mereka ini, Mereka itu bukan menolong Islam, tapi menghancurkan filsafat juga tidak.

Golongan ketiga ini telah mensifati Allah dengan sifat-sifat yang Dia sendiri tidak mensifati Diri-Nya dengannya, mereka juga mensifati Allah dengan sifat-sifat yang maknanya sama sekali tidak ditunjukkan oleh bahasa Arab. Ambil contoh firman Allah Ta’ala, “(yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah yang bersemayam/istiwa’ di atas ‘arsy” (QS. Thahaa 5). Orang-orang yang melakukan ta’thil itu mengatakan, Istawa itu maksudnya istaula (berkuasa setelah berhasil menaklukkan lawan-pent). Mereka menolak makna yang benar dari lafazh istiwa’ yaitu : tinggi dan menetap dan inilah sifat yang pantas bagi Allah Ta’ala kemudian mereka justru menetapkan makna baru yang tidak benar dinisbatkan kepada Allah Ta’ala. Ini termasuk perkataan tentang Allah tanpa ilmu. Padahal Allah Ta’ala telah berfirman, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya” (QS. Al Israa’ 36). Allah Ta’ala juga berfirman, “Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah ?”(QS. Al Baqarah 140).

Golongan keempat :
Orang-orang yang menyatakan dirinya jahil/tidak mengetahui keinginan Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada lafazh, makna maupun kaifiyah Nama dan Sifat Allah. Mereka mengatakan, Saya menyerahkan itu semua kepada Allah Ta’ala. Mereka ini adalah golongan terjelek.

Konsekuensi dari pendapat mereka ini adalah para Sahabat tidak bisa memahami nash-nash yang ditujukan kepada mereka, sehingga Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengajak bicara mereka dengan sesuatu yang tidak mereka pahami, bahkan ini juga berarti sesuatu itupun tidak dipahami oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam, padahal beliau jauh sekali dari tuduhan semacam ini !.

Kalau kita mau merujuk kepada Kitabullah niscaya kita jumpai bahwa Allah senantiasa memerintahkan kita untuk memikirkan, merenungkan dan memahami Al Qur’an. Allah juga telah memerintahkan Nabi-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk menjelaskan Al Qur’an. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Qur’an dengan berbahasa Arab agar kamu memahaminya” (QS. Yusuf 2). Allah Ta’ala juga berfirman, “Dan Kami turunkan kepadamu Al Qur’an agar kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan supaya mereka memikirkan” (QS. An Nahl 44). Madzhab golongan ini merupakan madzhab yang batil, yang membuka celah yang lebar bagi munculnya berbagi macam kesesatan dan penyimpangan. Bacalah kitab Dar’u Ta’aarudhil ‘Aql wa Naql (Menepis dakwaan pertentangan antara akal dan dalil naql) karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, di dalamnya beliau telah membongkar kebatilan golongan ini.

Bagaimanapun juga, tidak mengikuti madzhab salaf radhiyallahu ‘anhum termasuk dalam kategori penyimpangan/tahrif terhadap Kalam Allah ‘Azza wa Jalla dari maksud yang sebenarnya. Orang-orang yang melakukan tahrif ini sangat tercela, sebagaimana Allah Ta’ala telah mencela orang-orang Yahudi karena mereka mengubah-ubah/melakukan tahrif terhadap firman Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kamu masih mengharapkan mereka (Yahudi) percaya kepadamu (Muhammad), padahal segolongan dari mereka mendengar Firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui” (QS. Al Baqarah 75). (kaidah beserta penjelasan ini dinukil dari Al Is’aad fi Syarhi Lum’atul I’tiqad, Syaikh Abu Musa Abdur Razzaaq bin Musa Al Jazaa’iri hafizhahullah)

Para Imam berakidah ahlus sunnah
Imam Syafi’i rahimahullah berkata, “Aku beriman kepada Allah serta segala yang datang dari Allah menurut apa yang diinginkan Allah. Dan aku beriman kepada Rasulullah serta segala yang datang dari Rasulullah menurut apa yang diinginkan Rasulullah”. Syaikh Shalih Alusy Syaikh berkata, “Dan kami pun mengatakan sebagaimana yang diucapkan Imam Syafi’i rahimahullah, “Kami beriman kepada Allah serta kepada segala yang datang dari Allah, baik dalam hal yang sudah kami ketahui maupun yang belum kami ketahui, menurut keinginan Allah. Ini memberikan konsekuensi untuk bersikap pasrah secara total dan melaksanakan sepenuhnya apa yang diperintahkan kepada kita. Demikian pula kita beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam serta kepada segala yang datang dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menurut apa yang diinginkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, baik dalilnya sudah kami ketahui maupun yang belum kami ketahui. Ini merupakan keimanan secara mujmal (global). Maknanya ialah kita tidak akan meninggalkan apapun yang berasal dari Allah maupun dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melainkan kita harus mengimaninya. Baik perkara itu sudah kita mengerti mapun belum kita mengerti, semua berasal dari sisi Tuhan kita” (Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 9)

Imam Ibnu Qudamah rahimahullah mengatakan, “Di atas keyakinan inilah para ulama salaf dan khalaf radhiyallahu ‘anhum berpegang. Mereka semua sepakat untuk mengakui, memberlakukan ayat sebagaimana adanya serta menetapkan sifat-sifat yang disebutkan di dalamnya, baik di dalam Kitabullah maupun di dalam Sunnah Rasul-Nya. Tanpa sedikitpun berupaya menyimpangkan makna dengan cara mentakwilkannya” (Lum ‘atul I’tiqad)

Syubhat dan jawaban
Sebagian orang yang salah paham menganggap bahwa akidah salaf atau ahlu sunnah wal jama’ah dalam masalah nama dan sifat Allah adalah akidah tafwidh (menyerahkan makna nama atau sifat Allah kepada Allah, tidak mau memaknainya). Mereka beralasan dengan perkataan Imam Ahmad. Imam Ahmad rahimahullah pernah mengatakan sebagaimana dituturkan oleh Imam Ibnu Qudamah, “Imam Abu Abdillah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal radhiyallahu ‘anhu mengatakan tentang sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia” dan “Allah akan dilihat pada hari kiamat” serta hadits lain yang semacamnya. Beliau (Imam Ahmad) mengatakan, “Kami mengimani itu semua. Semuanya kami benarkan tanpa kaifiyah dan tanpa makna. Dan kami tidak menolak sedikitpun darinya…” (Lum’atul I’tiqad) Nah, bukankah Imam Ahmad mengatakan ‘Semuanya (hadits tentang sifat) kami benarkan tanpa kaifiyah dan tanpa makna’ ?!! Apakah ini bukan tafwidh namanya ?

Syaikh Shalih Alusy Syaikh menjawab, “Adapun hakikat lafazh yang disandarkan kepada beliau ini sebenarnya bersesuaian dengan madzhab mufawwidhah. Sedangkan kaum mufawwidhah adalah orang yang mengatakan bahwa ‘Kami mengimani lafazh saja tanpa maknanya’. Artinya kami menyerahkan makna dan kaifiyah (tata cara) sifat Allah seluruhnya. Ini adalah keyakinan yang batil dan bid’ah yang sangat jelek. Karena kewajiban kita adalah menyerahkan pengetahuan tentang kaifiyah, adapun maknanya jelas tampak. Sebab Al Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab yang jelas dan gamblang. Sehingga apabila ahlus sunnah wal jama’ah beriman dengan lafazh dan makna sekaligus (yaitu meyakini makna yang ditunjukkan sesuai dengan bahasa Arab) lalu bagaimanakah kita akan menafsirkan perkataan Imam Ahmad, yaitu perkataan beliau, “tanpa kaifiyah dan tanpa makna” tersebut ? Hal ini pula yang menyebabkan munculnya kritikan terhadap penulis (Ibnu Qudamah, penulis Lum’atul I’tiqad) karena beliau tidak menjelaskan maksud yang diinginkan dibalik ucapan Imam Ahmad.”

Syaikh melanjutkan, “Para ulama menjelaskan bahwa Imam Ahmad ingin memberikan bantahan bagi dua kelompok orang dengan ucapan beliau, ‘tanpa kaifiyah dan tanpa makna’ tersebut, yaitu :
Kelompok Pertama; kaum musyabbihah mujassimah (yang menyerupakan Allah dengan makhluk dan menganggap Allah memiliki jisim atau jasad). Beliau ingin membantah mereka dengan ucapan, ‘tanpa kaifiyah’ artinya tidak sebagaimana kaifiyah sifat yang ditangkap oleh akal manusia atau kaifiyah sifat yang digambarkan oleh kaum mujassimah atau mumatstsilah terhadap diri Allah.
Kedua, ucapan beliau ‘tanpa makna’ merupakan bantahan bagi kaum mu’aththilah (penolak sifat). Yaitu orang-orang yang menjadikan makna-makna dalil atau nash menyelisihi makna lahiriyah yang secara mudah bisa langsung ditangkap maknanya. Mereka itu mengatakan, ‘Makna Allah turun adalah turunnya rahmat’. Mereka juga berkata, ‘sesungguhnya makna istiwa’ adalah istilaa’ /menguasai’. Mereka juga berpendapat bahwa makna rahmat adalah iradah/kehendak; yaitu menginginkan kebaikan atau perbuatan baik. Mereka juga berpendapat bahwa makna murka adalah keinginan untuk menyiksa, dan berbagai macam takwilan lain yang mereka lakukan.”

Syaikh melanjutkan, “Sehingga dengan ucapan beliau, ‘tanpa kaifiyah’ Imam Ahmad bermaksud menolak kaifiyah yang dianggap oleh kaum mujassimah. Sedangkan dengan ucapan ‘tanpa makna’ beliau bermaksud menolak anggapan makna yang diinginkan oleh kaum mu’aththilah, yaitu makna batil yang terjadi karena pemalingan lafazh oleh kaum ahli bid’ah tukang takwil. Jadi, ucapan beliau, ‘tanpa kaifiyah dan tanpa makna’ memiliki maksud tersendiri. Dengan ungkapan, ‘tanpa makna’ maksud beliau adalah tanpa makna yang batil, yang telah ditelorkan oleh kaum ahli bid’ah akibat takwil mereka terhadap nash atau dalil-dalil yang berbicara tentang sifat-sifat ghaib (yang dimiliki Allah)” (Syarh Lum’atul I’tiqad, hal. 7-8) Kiranya penjelasan Syaikh ini sudah cukup untuk mendudukkan perkara sebagaimana mestinya. Dan semoga pembaca tidak terpengaruh oleh syubhat seperti ini yang telah disebutkan oleh penulis buku Al Ikhwan Al Muslimun Anugerah Allah yang terzhalimi di dalam bukunya tersebut, yaitu ketika dia berusaha membela ucapan Hasan Al Banna ghafarahullah tentang tafwidh. Inilah jawabannya !!

Nasihat
Di akhir tulisan ini kami mengajak kepada para pemuda yang bersemangat untuk membela agama dan menginginkan kembalinya kejayaan ke pangkuan umat Islam. Marilah kita bekali diri kita dengan ilmu syar’i yang shahih, yang bersumber dari mata air wahyu Al Kitab dan As Sunnah serta menurut metode pemahaman salafus shalih. Dengan ilmu inilah kita akan mengenali kebenaran. Sebagaimana dikatakan oleh orang bijak, “Kenalilah al haq, niscaya engkau akan mengenal orang-orang yang tegak di atasnya. Karena al haq bukan dinilai dengan semata-mata mengikut kepada orang-orang”. Janganlah kita menutup mata terhadap kebenaran hanya karena orang yang menyampaikannya adalah bukan tokoh idola kita. Ingat, Al Kitab dan As Sunnah dengan metode pemahaman salafush shalih adalah kunci kebenaran. Barangsiapa yang tidak menggunakan kunci ini maka perjalanannya untuk mencapai kebenaran akan putus di tengah jalan dan menemui jalan buntu, sadar atau tidak sadar, wallahul musta’aan.

0 komentar:

Posting Komentar