SUDAHKAH SYAHADAT KITA MEMENUHI SYARAT ?
Setiap muslim pasti mengenal kalimat yang satu ini. Laa ilaaha illallaah. Namun demikian, apabila kita lihat di dalam kenyataan hidup sehari-hari ternyata masih banyak penyimpangan terhadap kalimat tauhid ini. Setelah kita runut dari manakah sumber penyimpangan ini maka hanya ada dua kemungkinan :
Pertama, mereka tidak mengetahui hakikat laa ilaaha illallaah
Kedua, mereka mengetahui hakikatnya akan tetapi sengaja melanggarnya
Dan apabila pandangan kita lebih dipertajam lagi ternyata masih banyak diantara umat Islam sendiri yang termasuk dalam kemungkinan yang pertama. Karena itulah, pada kesempatan ini kami ingin mengingatkan tentang hal-hal yang dikategorikan sebagai syarat-syarat laa ilaaha illallaah. Para ulama telah menjelaskan hal ini di dalam kitab-kitab akidah yang mereka tulis. Syarat-syarat ini didapatkan dari hasil penelitian yang menyeluruh terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits. Semoga bermanfaat.
Petingnya mengetahui syarat laa ilaaha illallaah
Pembaca yang budiman, semoga Allah melimpahkan taufik-Nya kepada kita. Sebagaimana ibadah-ibadah yang lainnya, syahadat juga memiliki syarat-syarat. Bukankah sejak kecil kita sudah diajari berbagai syarat ibadah seperti shalat, puasa, zakat dan lain sebagainya. Seperti contohnya syarat sah shalat adalah suci. Orang yang tidak bersuci maka shalatnya tidak sah. Maka demikian pula syahadat. Orang yang tidak memenuhi syarat syahadat maka syahadatnya tidak sah. Bahkan akibat yang ditimbulkan apabila syahadat tidak sah lebih berbahaya daripada apabila yang tidak sah shalatnya. Mengapa ? Karena orang yang tidak sah syahadatnya otomatis keluar dari Islam. Padahal shalat, puasa, dan lain sebagainya tidak akan diterima apabila pelakunya bukan seorang muslim. Oleh sebab itulah mengetahui syarat-syarat syahadat adalah perkara yang paling penting, lebih penting daripada mempelajari syarat-syarat ibadah yang lainnya.
Syarat Pertama : Mengetahui maknanya
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tiada sesembahan yang hak selain Allah” (QS. Muhammad : 19) Di dalam ayat ini Allah memerintahkan Nabi untuk mengetahui laa ilaaha illallaah. Dan ayat ini juga berlaku bagi kita sebagai umat yang harus meneladaninya. Maka kita juga harus memahami makna laa ilaaha illallaah yaitu tidak ada yang berhak disembah selain Allah. Segala sesuatu yang diibadahi selain Allah adalah sesembahan yang batil. Orang yang meninggal dalam keadaan mengetahui makna laa ilaaha illallaah niscaya akan masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada sesembahan (yang hak) selain Allah pasti masuk surga” (HR. Muslim) Ini menunjukkan bahwa orang yang meninggal dalam keadaan tidak mengetahui bahwa sesembahan yang hak hanya Allah maka dia pasti masuk neraka.
Perlu dingat bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Bukanlah makna syahadat ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang yang tidak paham. Mereka menganggap bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tiada pencipta selain Allah. Karena sekedar mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta belumlah memasukkan orang yang mengetahuinya ke dalam lingkaran Islam. Bukankah Allah ta’ala sudah menegaskan di dalam Al Qur’an kalau orang-orang kafir yang dimusuhi Nabi juga sudah mengakui perkara ini. Allah berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya apabila kamu tanyakan kepada mereka ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi’. Tentu mereka akan menjawab ‘Allah’.”(QS. Luqman : 25) Kalau memang makna laa ilaaha illallaah adalah tiada pencipta selain Allah maka itu artinya orang-orang kafir itu sudah termasuk dalam umat Islam sehingga tidak perlu lagi dimusuhi. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Diantara mereka ada juga yang beranggapan bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada tuhan selain Allah. Pemaknaan seperti ini jelas keliru ditinjau dari dua sudut pandang :
Pertama, Allah menyebut bahwa tuhan yang disembah orang musyrik itu banyak. Allah berfirman, “Maka sedikitpun sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Allah itu tidak mampu memberikan manfaat bagi mereka ketika keputusan Tuhanmu telah datang” (QS. Huud : 110) Ini menunjukkan bahwa tuhan yang disembah manusia itu memang banyak, tidak hanya satu. Maka apabila laa ilaaha illallaah diartikan tidak ada tuhan selain Allah jelas bertentangan dengan kenyataan ini.
Kedua, apabila dikatakan bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada tuhan selain Allah maka hal ini memberikan konsekuensi yang salah. Bukankah kalau kita katakan tiada tuhan selain Allah berarti tuhan hanyalah Allah. Sedangkan tuhan artinya sesuatu yang disembah. Apa konsekuensinya ? Konsekuensinya adalah semua yang disembah adalah Allah. Padahal yang disembah umat manusia di atas muka bumi ini sangat banyak. Ada yang menyembah sapi, ada yang menyembah arca dan dewa-dewa, ada yang menyembah api, ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah Nabi dan malaikat, apakah akan kita katakan bahwa semua yang disembah itu adalah Allah ? Tentu tidak. Maka sekali lagi makna laa ilaaha illallaah yang benar adalah tiada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah.
Sebagian orang ada lagi yang mengartikan laa ilaaha illallaah sebagai tiada pemberi keputusan hukum selain Allah (laa haakima illallaah). Maka hal ini juga belum sempurna. Karena penetapan hukum hanyalah sebagian makna dari rububiyah Allah ta’ala. Sedangkan perbuatan hamba tatkala memutuskan hukum itu termasuk dalam cakupan hak uluhiyah Allah. Maka orang yang memutuskan hukum dengan selain hukum Allah telah melakukan syirik dalam hal uluhiyah dan rububiyah sekaligus. Hal ini apabila pelakunya meyakini berhukum dengan selain hukum Allah itu boleh atau lebih baik. Padahal cakupan laa ilaaha illallaah lebih luas daripada sekedar masalah hukum. Laa ilaaha illallaah mencakup semua bentuk ibadah. Dapat kita katakan bahwa kandungan laa ilaaha illallah adalah mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, bukan sekedar rububiyah saja. Perlu dimengerti bahwa setiap orang yang telah bertauhid uluhiyah secara otomatis juga sudah pasti bertauhid rububiyah. Akan tetapi tidak sebaliknya. Tidak setiap orang yang bertauhid rububiyah mengakui tauhid uluhiyah.
Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang hanya mengucapkan laa ilaaha illallaah tapi tidak mengetahui maknanya maka dia bukan termasuk muslim. Syahadatnya tidak sah. Meskipun dia mengucapkannya ribuan kali dalam sehari !! Sebab dia telah kehilangan salah satu syarat syahadat yang terpenting yaitu mengetahui maknanya. Pantaslah apabila dahulu orang kafir Quraisy tidak mau menerima ajakan nabi untuk mengucapkan kalimat ini. Karena mereka mengetahui apa maknanya. Sebab makna kalimat ini adalah mereka harus meninggalkan peribadahan kepada sesembahan-sesembahan mereka dan hanya beribadah kepada Allah saja. Maka sungguh mengenaskan, nasib orang yang kalah dengan orang kafir Quraisy dalam hal memahami kalimat tauhid.
Syarat kedua : Meyakini isinya
Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya yang disebut orang-orang yang beriman hanyalah orang yang beriman kepada Allah kemudian tidak merasa ragu..” (QS. Al Hujuraat : 15) Di dalam ayat ini Allah menyebut orang sebagai kaum beriman apabila mereka itu beriman kepada Allah kemudian tidak menyimpan rasa ragu-ragu. Ini menunjukkan keharusan untuk meyakini kebenaran syahadat. Seorang hamba yang bertemu Allah dalam keadaan meyakini makna dua kalimat syahadat pasti masuk surga. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada seorang hamba yang bertemu Allah dengan membawa dua kalimat syahadat ini tanpa keraguan kemudian akan dihalangi masuk surga” (HR. Muslim) Orang yang ragu-ragu akan kebenaran makna syahadat maka syahadatnya tidak sah dan keluar dari Islam.
Hal ini juga menunjukkan wajibnya meyakini Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Tidak mungkin orang yang tidak meyakini kebenaran Islam mau mengucapkan kalimat syahadat. Karena syahadat merupakan rukun Islam yang pertama. Tidak sah seseorang mendakwakan diri sebagai muslim tapi tidak mau bersyahadat. Oleh karena itulah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus para sahabat untuk mendakwahkan kalimat tauhid ini kepada umat manusia, termasuk di dalamnya kepada ahli kitab (Yahudi dan Nasrani). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tatkala mengutus Mu’adz bin Jabal ke negeri Yaman, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan ahli kitab. Maka jadikanlah seruan pertama yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah…” (HR. Bukhari dan Muslim) Seandainya bukan karena yakin Islam sebagai satu-satunya agama yang benar untuk apa Rasulullah repot-repot mengutus para da’i untuk menyerukan laa ilaaha illallaah supaya orang-orang masuk Islam ? Maka batillah keyakinan yang menganggap semua agama adalah benar. Orang muslim yang meyakini keyakinan semacam ini pun telah keluar dari Islam alias batal syahadatnya.
Syarat ketiga : Memurnikan ibadah hanya untuk Allah
Allah ta’ala berfirman, “Ingatlah hanya milik Allah agama yang murni” (QS. Az Zumar : 3) Allah juga berfirman, “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan supaya menyembah Allah dengan menjalankan agama yang lurus dengan ikhlas untuk-Nya” (QS. Al Bayyinah : 5) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan surga dimasuki oleh orang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah ikhlas hanya mengharapkan wajah Allah ‘azza wa jalla” (HR. Bukhari dan Muslim) Maka seorang yang bersyahadat harus meninggalkan semua peribadahan kepada selain Allah. Siapapun dia, baik itu nabi, malaikat, orang shalih apalagi batu dan pohon. Dengan demikian orang yang mengucapkan kalimat syahadat akan tetapi masih menyembah-nyembah kuburan wali maka syahadatnya tidak sah, keluar dari Islam alias murtad.
Perlu diingat pula bahwa makna ibadah sangat luas. Ia bisa berupa perasaan hati, ucapan lisan maupun perbuatan anggota badan. Perasaan hati misalnya bertawakal atau menyandarkan urusan. Ucapan lisan misalnya berdo’a meminta keselamatan. Perbuatan anggota badan misalnya menyembelih hewan dalam rangka ibadah. Maka ini semua dikategorikan ibadah karena di dalamnya terkandung perendahan diri dan ketundukan yang dilandasi pengagungan dan kecintaan. Segala sesuatu yang dicintai Allah dan diridhai-Nya adalah ibadah. Baik berupa ucapan maupun perbuatan. Yang tampak maupun yang tersembunyi. Dan itu semua tidak boleh ditujukan kecuali kepada Allah ta’ala. Orang yang menujukan ibadah kepada selain Allah maka kafir dan musyrik. Allah ta’ala berfirman, “Dan sesungguhnya seluruh masjid adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyeru siapapun beserta seruanmu kepada Allah” (QS. Al Jinn : 18)
Syarat keempat : Bersikap tulus dengan syahadatnya, tidak dusta
Allah ta’ala berfirman, “Dan diantara manuisa ada orang yang mengucapkan dengan lisannya Kami beriman kepada Allah dan hari akhir akan tetapi sebenarnya mereka bukan termasuk orang beriman” (QS. Al Baqarah : 8) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah ada seorangpun yang bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muuhammad adalah hamba dan utusan Allah dengan tulus dari dalam hatinya melainkan Allah pasti mengharamkan neraka bagi dirinya” (HR. Bukhari dan Muslim) Orang yang bersyahadat dengan lisannya akan tetapi hatinya mengingkarinya adalah orang yang munafik. Merekalah para pendusta yang diancam dengan siksa di kerak terbawah api neraka. Allah ta’ala berfirman, “Apabila ada orang-orang munafik datang kepadamu mengatakan Kami bersaksi bahwa engkau adalah utusan Allah. Allah mengetahui kalau engkau memang benar-benar Rasul-Nya. Dan Allah bersaksi kalau sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah benar-benar tukang dusta” (QS. Al Munaafiquun : 1) Sehingga Allah mengancam mereka dengan siksa yang sangat pedih akibat kedustaan mereka. Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (disiksa) di lapisan kerak neraka yang paling bawah” (QS. An Nisaa’ : 145) Mereka hendak menipu manusia dengan ucapan dan penampilan mereka. Akan tetapi Allah Maha tahu, Allah bongkar kedok mereka di dalam ayat-ayat-Nya. Sehingga dari situlah para ulama pewaris nabi berjihad dengan keras untuk memerangi makar orang-orang munafik dengan ayat-ayat tersebut. Allah telah memerintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Wahai nabi, berjihadlah melawan orang-orang kafir dan munafik dan bersikaplah keras terhadap mereka” (QS. At Tahriim : 9) Mereka mengaku Islam akan tetapi mereka menghancurkan Islam dari dalam, maka waspadalah wahai umat Islam !!!
Syarat kelima : Mencintai kandungan syahadat
Allah ta’ala berfirman, “Diantara manusia ada orang-orang yang menjadikan selain Allah sebagai sekutu. Mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Sedangkan orang yang beriman lebih dalam cintanya kepada Allah” (QS. Al Baqarah : 165) Salah satu syarat untuk bisa merasakan manisnya iman adalah lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya di atas segala-galanya, sebagaimana tecantum dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Anas radhiyallahu’anhu. Orang yang tidak mencintai kandungan syahadat maka dia telah kehilangan sebuah syarat yang sangat penting. Karena kecintaan adalah poros ketaatan dan motor penggerak amal. Tanpa cinta seorang hamba tidak akan mau taat dan beramal kepada Tuhannya. Oleh karena itulah orang yang memendam kebencian terhadap makna dan konsekuensi laa ilaaha illallaah telah melepaskan simpul Islam dari dalam dirinya.
Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Tali keimanan yang paling kuat adalah berloyalitas karena Allah serta bermusuhan karena Allah dan juga mencintai karena Allah serta membenci karena Allah” (lihat Silisilah Ash Shahihah no. 998, dinukil dari Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish Shalih, hal. 128) Begitu pula orang yang membagi cinta, pengagungan dan ketundukannya kepada selain Allah. Sesungguhnya dia telah mempersekutukan Allah dalam hal cinta ibadah. Apabila dia lebih cinta kepada harta maka jadilah dia budak harta. Apabila dia lebih cinta kepada tahta maka jadilah dia budak jabatan. Apabila dia lebih cinta kepada wanita maka jadilah dia budak wanita. Dan apabila dia lebih cinta kepada hawa nafsunya maka jadilah dia budak nafsu. Dan apabila ternyata dia lebih mencintai dunia yang fana daripada akhirat yang abadi maka jadilah dia budak dunia, wal ‘iyaadzu billaah.
Syarat keenam : Tunduk dan patuh kepada Allah ta’ala
Allah berfirman, “Dan kembalilah taat kepada Tuhanmu serta berserah dirilah kepada-Nya” (QS. Az Zumar : 54) Allah juga berfirman, “Barangsiapa yang memasrahkan wajahnya kepada Allah dan berbuat kebaikan maka dia sungguh telah berpegang teguh dengan buhul tali yang sangat kuat (laa ilaaha illallaah)” (QS. Luqman : 22) Orang yang berserah diri kepada Allah pasti akan tunduk dan patuh kepada perintah dan larangan-Nya. Karena dia telah bersaksi Allah lah satu-satunya sesembahannya yang hak maka diapun harus tunduk dan patuh kepada-Nya. Orang yang mengucapkan syahadat tapi tidak mau tunduk beribadah kepada Allah maka syahadatnya tidak sah.
Salah satu kepatuhan terbesar ialah taat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sebab beliau adalah penyampai risalah Allah kepada umat manusia. Allah memerintahkan, “Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul..” (QS. An Nisaa’ : 59) Orang yang taat kepada Rasul sesungguhnya dia telah taat kepada Allah. Allah berfirman, “Barangsiapa yang taat kepada Rasul sesungguhnya dia telah taat kepada Allah” (QS. An Nisaa’ : 80) Allah juga berfirman, “Katakanlah (Muhammad) : Wahai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepada kalian semua” (QS. Al A’raaf : 158) Perhatikanlah ayat ini ! Bukankah di sini Allah menegaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh umat manusia, bukan kepada umat Islam saja !!
Dari sini kita bisa mengetahui bahwa orang yang bersyahadat laa ilaaha illallaah tetapi tidak mau beriman kepada Rasulullah maka syahadatnya tidak sah, dan dia bukan termasuk orang Islam alias kafir. Lalu bagaimana mungkin kita hendak membenarkan orang Yahudi dan Nasrani sekarang ini yang masih ngotot mengikuti Nabi mereka ?! Walaupun sebenarnya kalau mereka mau jujur pasti juga akan mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga keyakinan JIL yang menyatakan bahwa Islam (sebagai nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad) bukanlah satu-satunya agama yang benar adalah keyakinan yang bertentangan dengan laa ilaaha illallaah itu sendiri. Sebagaimana perkataan Ulil Abshar Abdalla (koordinatior JIL), “Aqidah kami adalah: Islam bukan satu-satunya agama yang benar, dan bukan pula paling benar. Maksud saya "Islam" sebagai nama agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Kami memandang bahwa kebenaran tersebar dalam semua agama. Oleh karena itu, kami tidak akan memandang agama lain sebagai bathil.” (dikutip dari e-mail Ulil yang dikirimkan kepada saudara Yusuf Anshar, lihat Diskusi antara Koordinator JIL dengan orang awam)
Maka bagaimana mungkin seseorang yang di dalam hatinya masih bersemayam keyakinan laa ilaaha illallaah bisa mengatakan perkataan kufur seperti itu !! Inikah akhlaqnya orang yang menjunjung tinggi peradaban ? Ya, begitulah mereka. Pembaca sekalian tidak perlu heran karena peradaban Islam versi Ulil dan konco-konconya adalah bukan sebagaimana yang dipahami oleh para ulama yang mendalam ilmunya, akan tetapi yang mereka kehendaki adalah pemahaman tong sampah. Silakan perhatikan ucapan Ulil yang keji berikut ini, “Islam liberal menghendaki bentuk pemahaman Islam yang lain, yakni pemahaman yang menempatkan semua perbedaan firqah, mazhab, isme, pandangan, ideologi, aliran dan lain-lainnya sebagai sebuah kekayaan Islam, dan tidak boleh disesatkan atau dikafirkan. Hanya dengan begitu Islam menjadi suatu peradaban yang kaya.” (dikutip dari e-mail Ulil yang dikirimkan kepada saudara Yusuf Anshar, lihat Diskusi antara Koordinator JIL dengan orang awam) Nah, kalau memang seperti ini yang diinginkan oleh mereka maka orang-orang seperti Ibnul ‘Arabi yang berkeyakinan wihdatul wujud (manunggaling kawula gusti, hamba adalah tuhan) juga tidak boleh dikafirkan. Laa haula wa laa quwwata illa billaah. Kalau begitu Fir’aun juga tidak kafir, karena dia mengatakan “Akulah tuhanmu yang paling tinggi”. Jadi Nabi Musa ‘alaihis salaam –kalau kita ikuti pemahaman versi Ulil ini- juga keliru. Seharusnya –sekali lagi menurut pemahaman versi Ulil ini- Nabi Musa ‘alaihis salaam tidak menyesatkan dan mengkafirkan Fir’aun. Sekali lagi kalau kita ikuti cara berpikir Ulil ini, maka Allah pun juga salah, karena Allah telah berfirman, “Pergilah kamu (Musa) kepada Fir’aun karena sesungguhnya dia telah melampaui batas” (QS. An Naazi’aat : 17) Dan setelah membawakan ucapan Fir’aun “Akulah tuhanmu yang paling tinggi” Allah kemudian berfirman, “Maka Allah mengazabnya dengan azab di akhirat dan azab di dunia” (QS. An Naazi’aat : 25) Apakah Ulil juga akan mengatakan Allah telah berbuat kekeliruan ?! Ini adalah kedustaan yang amat besar ! Maha suci Allah dari apa yang mereka sifatkan.
Syarat ketujuh : Menerima isi kalimat tauhid
Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang kafir itu apabila diperintahkan kepada mereka untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah maka mereka pun menyombongkan diri” (QS. Ash Shaaffaat : 35) Lihatlah sifat orang-orang kafir ini. Mereka tidak mau menerima isi kalimat tauhid. Mereka justru menyombongkan diri. Maka demikian pula orang yang mengaku Islam tetapi tidak mau menerima isi kalimat tauhid. Yaitu orang yang tidak mau menerima ketetapan bahwa segala ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Atau tidak mau menerima keyakinan bahwasanya semua keyakinan yang bertetangan dengan isi laa ilaaha illallaah adalah batil. Maka pada hakikatnya orang seperti ini telah kehilangan salah satu syarat syahadat. Sehingga syahadatnya tidak sah alias keluar dari Islam, meskipun dia masih megucapkan syahadat itu setiap pagi dan sore !! Meskipun rumahnya dipenuhi dengan hiasan kaligrafi laa ilaaha illallaah !!
Maka dari sini kami menghimbau seluruh kaum muslimin agar memperhatikan masalah akidah dengan lebih serius lagi. Karena di atas akidah atau keyakinan yang benar itulah akan tegak keindahan peradaban Islam yang sejati. Cobalah anda bayangkan. Apabila ada seorang tukang bangunan yang ingin membuat sebuah istana. Akan tetapi yang pertama kali dan terus menerus diurus olehnya adalah bagaimana memasang atap yang cantik dan menarik. Kira-kira apa yang akan diperolehnya ? Apakah sebuah istana yang tegak dan megah ataukah sebuah gubuk reyot yang mudah hancur diterpa angin ?! Duhai, para da’i, apakah nyawa dan harta benda umat ini akan kalian pertaruhkan demi menumpuk-numpuk genting yang akan runtuh dan menimpa kepala kita bersama ?? Ambillah pelajaran wahai orang-orang yang masih memiliki akal pikiran ! Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpah kepada Nabi Muhammad. Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.
(bahan bacaan : At Tanbihaat Al Mukhtasharah Syarh Al Wajibaat, Syaikh Ibrahim bin Syaikh Shalih Al Khuraishi. Sudah ada terjemahnya berjudul Penjelasan Hal-hal Yang Harus diketahui oleh setiap Muslim dan Muslimah)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar