Sekali Islam tetap Islam

Sekali Islam tetap Islam

Segala kebahagiaan yang hakiki hanya ada pada Islam. Anda tidak percaya ?! Perhatikanlah firman Alloh ta’ala di dalam kitab-Nya yang mulia, ”Dan barangsiapa yang mencari selain Islam sebagai agama, maka agama itu tidak akan pernah diterima darinya, dan di akhirat nanti dia pasti termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imran : 85). Saudara-saudaraku kaum muslimin sekalian, semoga Alloh mematikan kita di atas Islam dan Sunnah. Ketahuilah, bahwa betapapun nikmat alam dunia beserta beraneka ragam perhiasan dan kesenangan yang ada di dalamnya, maka sesungguhnya dunia beserta seluruh isinya ini pasti akan hancur dan binasa. Dan yang akan tinggal adalah penantian menjelang kehidupan abadi di akhirat nanti. Seorang manusia yang mati dalam keadaan sebagai seorang muslim dan mukmin pasti akan masuk surga. Sedangkan orang yang mati dalam keadaan kafir atau musyrik maka tidak diragukan lagi siksa neraka yang abadi telah siap untuk membakar dan menghancurkan tubuhnya. Apabila telah hancur maka ia dipulihkan lagi untuk disiksa, demikianlah seterusnya, siksaan tak kunjung berhenti dan derita tak berkesudahan adalah janji Alloh bagi hamba-hamba yang durhaka serta meninggalkan agama-Nya. Duhai, alangkah malang nasib seseorang yang dengan suka rela melemparkan dirinya ke jurang neraka. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan ahli kitab (Yahudi atau Nasrani) dan orang-orang musyrik pasti akan kekal berada di dalam neraka. Mereka itulah sejelek-jelek makhluk.” (QS. Al Bayyinah : 6)

Para pembaca yang budiman, di tengah suasana musibah yang masih meliputi bumi Jogjakarta, kita sangat merasa prihatin dengan munculnya berbagai kejadian memilukan di tengah-tengah masyarakat kita. Hanya kepada Alloh lah kita memohon agar bencana yang sudah menimpa ini tidak menyeret kita kepada bencana lain yang lebih dahsyat dan lebih berbahaya; yaitu berpindah agama alias murtad. Perlu kita ingat, bahwasanya keislaman kita tidaklah cukup dengan sekedar mengucapkan syahadat saja. Akan tetapi Islam menuntut kita untuk beribadah kepada Alloh dan tidak berbuat syirik atau kekafiran dengan segala macam bentuknya. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, ”Sembahlah Alloh dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.” (QS. An Nisaa’ : 36). Alloh juga menyatakan bahwa orang baru dianggap berpegang teguh dengan buhul tali yang sangat kuat yaitu kalimat syahadat apabila dia memenuhi dua syarat. Syarat pertama : dia harus beriman kepada Alloh. Artinya dia harus meyakini Alloh sebagai satu-satunya penguasa, pencipta dan pemelihara alam semesta, dan yang terpenting dia harus menyembah Alloh saja; Dzat Pemilik Nama-nama dan Sifat-sifat yang maha tinggi lagi sempurna. Syarat kedua : dia harus mengingkari sesembahan selain Alloh/thaghut, apapun bentuknya. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang kufur kepada thaghut dan beriman kepada Alloh maka sesungguhnya dia telah berpegang teguh dengan buhul tali yang sangat kuat dan tidak akan pernah terputus.” (QS. Al Baqarah : 256) Inilah yang biasa disebut dengan tauhid. Inilah inti ajaran Islam. Inilah inti dakwah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salam. Sebagaimana disebutkan oleh Alloh dalam firman-Nya yang artinya, “Dan sungguh Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul yang mengajak : Sembahlah Alloh dan jauhilah thaghut/sesembahan selain Alloh.” (QS. An Nahl : 36)

Kita harus bertauhid kepada Alloh. Kita tujukan segala bentuk ibadah kita; shalat kita, do’a kita, kurban kita, permintaan agar selamat dari bahaya, semuanya hanya boleh ditujukan kepada Alloh saja. Tidak boleh kita berkurban untuk jin atau setan penunggu gunung Anu atau ‘penguasa’ laut Anu. Ingatlah, bahwa sesembahan-sesembahan selain Alloh adalah sesembahan yang sangat lemah lagi hina dan tidak berdaya apa-apa. Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Permisalan orang-orang yang menjadikan selain Alloh sebagai penolong adalah seperti laba-laba yang membangun sarangnya. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah sarang laba-laba, seandainya mereka mengetahuinya.” (QS. Al ‘Ankabuut : 41) Alloh ta’ala juga berfirman yang artinya, “Sesungguhnya sesembahan-sesembahan yang kalian sembah selain Alloh sama sekali tidak menguasai rezki apapun untuk kalian, oleh sebab itu maka carilah rezki hanya di sisi Alloh, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Dan kalian pasti akan dikembalikan kepada-Nya.” (QS. Al ‘Ankabuut : 17)



Syarat-syarat Laa ilaaha illallaaah
Para pembaca yang budiman, seorang yang mengucapkan laa ilaaha illallaah harus memenuhi delapan syarat agar syahadatnya dinilai sah di sisi Alloh ta’ala. Syarat-syarat tersebut adalah : 1. Mengetahui maknanya, yaitu tiada yang boleh disembah kecuali Alloh. 2. Meyakini kebenarannya, tidak menyimpan rasa ragu-ragu terhadap kebenaran Islam. 3. Ikhlas, artinya menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada Alloh, tidak boleh menujukan ibadah kepada selain-Nya. 4. Jujur, artinya mengucapkan syahadat dengan tulus dari dalam lubuk hati, bukan pura-pura atau berdusta. 5. Tunduk dan patuh kepada Alloh dan Rasul-Nya, tidak boleh membangkang. 6. Mencintai ajaran tauhid dan membenci syirik. 7. Menerima ketetapan Alloh, tidak menolaknya. 8. Mengingkari segala bentuk sesembahan selain Alloh/thaghut. Barangsiapa yang kehilangan salah satu di antara syarat-syarat ini maka Islamnya tidak sah dan syahadatnya batal.

Pembatal-pembatal Laa ilaaha illallaah
Pembatal-pembatal Islam itu banyak jumlahnya. Dia bisa berujud keyakinan hati, ucapan lisan ataupun perbuatan anggota badan. Orang Islam yang melakukan salah satu pembatal ini maka status keislamannya sudah tercabut alias sudah tidak berlaku lagi. Sebagaimana seseorang yang shalat dan tiba-tiba kentut/buang angin. Maka ketika itu shalatnya yang sudah dikerjakan menjadi tidak sah. Di antara pembatal-pembatal itu adalah : Pertama : Berbuat syirik dalam beribadah kepada Alloh. Kedua : Mengangkat perantara seperti wali yang sudah mati dalam beribadah kepada Alloh untuk diseru dan diminta-minta syafa’atnya atau menyerahkan urusan/bertawakal kepadanya. Ketiga : Tidak menganggap kafir orang di luar Islam, seperti orang Yahudi, Nasrani, orang-orang musyrik dan pemeluk agama sesat lainnya. Keempat : Meyakini bahwa petunjuk atau hukum yang diberikan oleh selain Nabi itu adalah lebih baik atau lebih sempurna. Kelima : Hatinya membenci ajaran Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam, meskipun secara lahir dia sendiri mengamalkan ajaran tersebut. Keenam : Mengejek atau mengolok-olok ajaran Nabi, keberadaan pahala atau siksanya. Ketujuh : Melakukan praktek sihir dan perdukunan atau membenarkannya. Kedelapan : Membela orang-orang kafir atau musyrik dan mendukung mereka dalam upaya memerangi kaum muslimin. Kesembilan : Meyakini bahwa ada sebagian orang di antara umat ini yang boleh meninggalkan kewajiban melaksanakan syari’at Nabi Muhammad shallAllohu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana keyakinan sebagian pengikut tarekat sufi yang menganggap bahwa kalau seseorang sudah mencapai darajat wali maka sudah tidak wajib shalat lagi, dsb. Ini adalah keyakinan yang kufur. Kesepuluh : Berpaling dari ajaran agama Islam, tidak mau mempelajarinya dan tidak mau mengamalkannya.

Ancaman bagi orang yang kafir atau musyrik
Pertama, surga haram baginya
Alloh subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya barangsiapa yang mempersekutukan sesuatu dengan Alloh maka sungguh Alloh telah haramkan atasnya surga dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang zhalim itu.” (QS. Al Maa’idah : 72)

Kedua, semua amalnya akan terhapus
Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan juga kepada orang-orang sebelummu: Sungguh apabila kamu berbuat syirik maka pastilah semua amalmu akan terhapus dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar : 65)

Ketiga, dosanya tidak akan diampuni
Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik kepada-Nya dan Dia akan mengampuni dosa lain yang berada di bawah tingkatan syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya.” (QS. An Nisaa’ : 116)

Keempat, di akhirat orang kafir akan menyesali kehidupannya di alam dunia
Alloh ta’ala berfirman yang artinya, “Pada suatu hari dimana setiap orang melihat hasil perbuatan kedua belah tangannya. Sedangkan orang kafir akan berkata; Duhai, alangkah baik seandainya dulu aku hanya menjadi sebongkah tanah saja.” (QS. An Naba : 40)



Tak ’kan kujual agamaku
Kaum muslimin yang budiman. Kita ingat bersama bagaimana siksaan yang dialami oleh para sahabat Nabi yang pertama-tama masuk Islam. Ingatlah bagaimana kisah Bilal bin Rabah yang tetap berpegang teguh dengan Islam meskipun harus ditindih batu besar oleh majikannya di atas padang pasir yang panas. Ingatlah juga bagaimana siksaan tidak berperikemanusiaan yang dialami oleh Ammar bin Yasir dan keluarganya. Ibunya Sumayyah disiksa dengan cara ditusuk dengan tombak dari kemaluan hingga tembus kepalanya sehingga mati sebagai syahid di jalan Alloh. Lihatlah juga bagaimana keteguhan Sa’ad bin Abi Waqqash yang dipaksa oleh ibunya supaya meninggalkan Islam sampai-sampai ibunya mogok makan berhari-hari. Namun dengan tegas Sa’ad mengatakan, “Wahai Ibu, seandainya ibu mempunyai 100 nyawa. Dan nyawa itu keluar satu persatu, maka ananda tidak akan pernah meninggalkan agama Muhammad shallAllohu’alaihi wa sallam.” Inilah akidah, inilah kekuatan iman, yang sanggup bertahan dan kokoh menjulang walaupun diterpa oleh berbagai badai dan topan kehidupan.

Saudaraku, ketahuilah sesungguhnya cobaan yang menimpa kita pada hari ini, baik yang berupa kehilangan harta, kehilangan jiwa dari saudara yang tercinta, kehilangan tempat tinggal atau kekurangan bahan makanan, itu semua jauh lebih ringan daripada cobaan yang dialami oleh para Nabi dan para sahabat. Mereka disakiti, mereka diperangi, mereka didustakan, mereka dituduh yang bukan-bukan, bahkan ada juga di antara mereka juga sempat dikucilkan. Begitu pula para ulama. Mereka juga ada yang tertimpa kemiskinan harta, bahkan ada juga yang sampai meninggal di dalam penjara, namun sama sekali itu semua tidak sedikitpun menggoyahkan keimanan mereka. Ingatlah firman Alloh ta’ala yang artinya, “Dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan sebagai orang muslim.” (QS. Ali Imran : 102)

Ingatlah juga janji Alloh, “Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Alloh niscaya akan diberikan-Nya jalan keluar dan Alloh akan berikan rezki kepadanya dari jalan yang tidak disangka-sangka.” (QS. Ath Thalaq : 2,3) Rasulullah shallAllohu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya datangnya kemenangan itu bersama dengan kesabaran. Dan bersama kesusahan pasti akan ada kemudahan” Allohumma ahyina ‘alal Islam wa amitnaa ‘alas Sunnah; Ya Alloh, hidupkanlah kami di atas Al Islam, dan matikanlah kami di atas As Sunnah (ajaran Nabi). Laa haula wa laa quwwata illaa billaah. Wa aakhiru da’waanaa anilhamdulillaahi Rabbil’alamiin.

0 komentar:

Posting Komentar