Tegakkan tauhid tumbangkan syirik

Tegakkan tauhid tumbangkan syirik

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian persekutukan Dia dengan sesuatu apapun”
(QS. An Nisaa’ : 36)

Sesungguhnya segala puji adalah hak Allah, kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya dan meminta ampunan kepada-Nya, dan kita berlindung kepada Allah dari keburukan jiwa kita serta dari kejelekan amal kita. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah niscaya tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah maka tidak ada yang dapat memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, tidak ada lagi nabi dan rasul sesudahnya. Semoga shalawat dan salam senantiasa terlimpahkan kepada beliau, keluarganya, para sahabatnya dan juga seluruh pengikut mereka yang setia hingga hari kiamat. Amma ba’du.

Dari dulu tauhid melulu
Pernahkah pembaca yang budiman mendengarkan komentar seperti ini ? Laa haula wa laa quwwata illa billah, sungguh ini menunjukkan betapa dangkalnya pemikiran orang yang mengucapkannya. Pembaca, waffaqaniyallahu wa iyyaakum limaa yuhibbuhu wa yardhaahu (semoga Allah memberikan taufiq kepada saya dan anda semua terhadap apa yang Allah cintai dan ridhai). Tauhid adalah inti ajaran para Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah di atas muka bumi ini kepada seluruh umat manusia, bagaimana bisa seseorang (apalagi mengaku muslim bahkan menisbahkan dirinya sebagai da’i) diperbolehkan menyingkirkan tauhid atau menomorduakannya sementara para Nabi dan Rasul menjadikannya sebagai prioritas pertama, ruh dakwah dan jihad mereka ?! Allahu akbar !! Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan) : Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut (sesembahan selain Allah)” (An Nahl : 36)

Fenomena kesyirikan dimana-mana
Sesungguhnya kalau kita cermati dengan kaca mata ilmiah, yaitu dengan kaca mata Al Qur’an dan As Sunnah berdasarkan pemahaman salaful ummah (umat terdahulu yang baik) maka kita akan bisa mendeteksi berbagai ranjau dan bom kesyirikan yang siap memakan korban dan meledakkan bangunan keimanan hamba-hamba yang mendakwakan dirinya termasuk bagian umat Islam. Bagaimana tidak ? Cobalah anda hitung berapakah amalan kita sehari-hari yang selamat dari riya’ (cari muka di hadapan manusia), adakah jumlahnya mencapai lebih dari jumlah jari tangan atau kaki kita ? Bukankah riya’ adalah syirik…Cobalah jawab saudaraku yang mulia. Lalu darimanakah datangnya komentar ‘miring’ seperti itu, kalau bukan dari …..

Belum lagi kalau kita saksikan merajalelanya peramal gentayangan di media-media cetak, yang akrab di kalangan khalayak pembaca dengan istilah horoskop atau ramalan bintang, bintang anda hari ini, Berapa jutakah umat Islam di negeri kita ini yang masih doyan sarapan dengan ramalan-ramalan dusta itu !! Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, “Thiyarah (menganggap sial karena mengetahui, mendengar atau melihat sesuatu yang tidak punya keterkaitan sebab akibat menurut akal dan syari’at) itu syirik, thiyarah itu syirik… ” (Hadits riwayat Abu Dawud, dinilai shahih Al Albani dalam Ash Shahihah no. 429, lihat ta’liq Qaulul Mufid I/355).

Belum lagi berbagai acara adat yang sarat dengan tumbal dan sesajen, menyembelih kerbau untuk jin penunggu jembatan, bersedekah kepada dewi Sri, larungan di pantai selatan, berbagai perguruan tenaga dalam yang katanya bisa membuat orang kebal senjata tajam, tidak tembus peluru, bisa mematahkan tumpukan baja, dan juga aksi paranormal yang begitu leluasa menjajakan ‘barang dagangan’nya di media-media massa, begitu juga kalau kita mau jujur memperhatikan kemanakah sebagian kaum muslimin dari kalangan anak-anak kecil sampai orang dewasa -bahkan yang dianggap sebagai kaum terpelajar dan pahlawan tanpa tanda jasa- bertamasya tatkala mengisi hari liburnya, apakah dengan mengikuti pengajian intensif ataukah justru mengikuti wisata ‘budaya’ ke berbagai situs cagar budaya seperti candi anu dan candi anu, jawablah saudaraku yang mulia, apakah dengan mengunjungi tempat-tempat seperti itu kaum muslimin semakin kuat imannya ataukah justru semakin terkagum-kagum dengan budaya warisan nenek moyang yang notabene jahiliyah seperti itu ?! Lalu orang muslim manakah yang tega mengatakan “Dari dulu tauhid melulu” renungkanlah wahai da’i-da’i yang masih mempunyai rasa cemburu terhadap ajaran agama-Nya. Akankah kita meremehkan perkara ini, sekali-kali tidak !

Tak kenal maka tak sayang
Ada benarnya juga kata pepatah, “Tak kenal maka tak sayang”. Orang yang tidak mengenali tauhid dengan baik, keutamaannya yang begitu tinggi, tantangannya yang begitu berat dan musuh-musuhnya yang begitu mengerikan hampir bisa dipastikan akan meremehkan dan menomorduakan masalah tauhid. Padahal sekali lagi kalau kita mau mencermati dengan kaca mata ilmiah –bukan sekedar semangat dan dorongan perasaan saja- maka akan kita dapati Allah Subhanahu wa ta’ala, para Nabi dan Rasul sejak dari Nabi Nuh sampai Rasulullah ‘alaihimush shalaatu was salaam, para khalifah beliau, para sahabat yang mulia, orang-orang shalih dan alim ulama di sepanjang zaman, mereka semuanya sangat memperhatikan masalah tauhid dan memprioritaskannya, baik dari segi ilmu, amal, dakwah bahkan tak ketinggalan pula dalam jihad-jihad mereka. Tauhid dulu wahai para da’i Islam ! demikian kata Syaikh Al Albani rahimahullah. Apakah makna tauhid ? Para ulama mengatakan tauhid maknanya : mengesakan Allah dalam beribadah, inilah tauhid yang didakwahkan seluruh Nabi dan Rasul, sebagaimana akan datang penjelasannya. Baiklah, dalam beberapa baris tulisan di bawah ini kami akan buktikan kepada para pembaca sekalian tentang apa yang sudah kami katakan di depan, semoga Allah memudahkan kita untuk meraih kebaikan, cukuplah Allah sebagai tempat sandaran dan Dia-lah sebaik-baik penolong.

Allah mengutus para Rasul untuk mendakwahkan tauhid
Sebelumnya patut kita ingat bahwa para Rasul ‘alaihumush shalatu was salaam tidak hanya mendakwahkan tauhid saja, mereka juga mengajak manusia untuk berbudi pekerti yang baik, menjunjung tinggi rasa malu, menolong kaum yang lemah, menjauhi berbagai kefasikan (dosa-dosa besar), dan lain sebagainya. Namun apabila kita cermati dengan lebih teliti dan lebih seksama, maka semua itu sama sekali tidak bertentangan dengan firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (yang menyerukan) : Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut !” (QS. An Nahl : 36) bahkan itu semua menjadi bukti penguat akan kebenaran ayat tersebut.

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata di dalam kitab tafsirnya, “Allah Ta’ala menginformasikan bahwa hujjah-Nya telah tegak meliputi seluruh umat, dan tiada sebuah umatpun yang dahulu maupun yang belakangan melainkan pasti telah Allah utus kepadanya seorang utusan (rasul). Dan mereka semua (para Rasul) sepakat menyerukan satu seruan dakwah dan sebuah agama yang tunggal : yaitu beribadah hanya kepada Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya, “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut !” (Taisir Karimirrahman, hal. 440)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan kepada kita apa hakikat thaghut itu. Beliau berkata, “Pendapat paling komprehensif dalam mendefinisikannya (thaghut) yaitu apa yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah bahwasanya thaghut adalah : “Segala sesuatu yang membuat hamba melampaui batas (ketentuan syari’at), baik berupa sosok yang diikuti, yang disembah, atau yang ditaati” Beliau juga mencontohkan, “Adapun sosok yang diikuti misalnya para dukun, tukang sihir dan para ulama suu’ (jelek). Dan (contoh) yang disembah adalah : arca-arca. Sedangkan yang ditaati misalnya : para pemimpin yang keluar dari ketaatan kepada Allah, apabila seseorang mengangkat mereka itu sebagai tuhan-tuhan yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah karena perbuatan mereka menghalalkan yang haram itu atau mengangkat mereka sebagai tuhan yang mengharamkan apa yang dihalalkan Allah karena perbuatan mereka mengharamkan yang halal itu maka sesungguhnya mereka (yang ditaati) itu adalah thaghut-thaghut, sedangkan orang yang melakukan (taat kepada mereka) disebut pengikut thaghut” (Al Qaul Al Mufid, jilid I hal. 13 dan 14)

Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah menjelaskan kepada kita hakikat penetapan (itsbat) dan penolakan (nafi) yang terkandung dalam ayat tersebut. Beliau berkata, “Di dalam firman-Nya, “Sembahlah Allah” terdapat itsbat (penetapan Allah sebagai sesembahan -pent), dan dalam firman-Nya, “Dan jauhilah thaghut” terdapat nafi (penolakan sesembahan yang benar selain Allah -pent). Inilah makna tauhid yang mencakup itsbat dan nafi, sehingga firman-Nya di dalam ayat itu “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut” terkandung makna kalimat Laa ilaha illallah…” (At Tamhiid, hal. 14)

Dari penjelasan di atas maka jelaslah bagi kita bahwa :
1. Seluruh umat telah diutus kepada mereka seorang Rasul
2. Para rasul itu sepakat mendakwahkan satu perkara yaitu tauhid
3. Hakikat tauhid itu adalah beribadah kepada Allah saja
4. Tauhid harus diiringi dengan pengingkaran terhadap thaghut
5. Thaghut adalah segala sesuatu yang membuat hamba melampaui batas, bisa berupa sosok yang diikuti, yang disembah atau yang ditaati
6. Tauhid mencakup itsbat dan nafi
7. Itsbat artinya menetapkan Allah sebagai sesembahan yang haq
8. Nafi artinya menolak kebenaran sesembahan selain Allah
9. Itsbat dan nafi itulah makna (rukun) dari Laa ilaaha illallah
10. Ini artinya tidaklah cukup seseorang menyatakan ‘Allah adalah sesembahan saya’ tanpa mengingkari dan menolak sesembahan selain-Nya, seperti orang yang mengaku Islam tapi tidak mau menyalahkan peribadahan kepada Isa bin Maryam (Nashara), peribadahan kepada dewa-dewa dan lain sebagainya.

Syaikh Shalih Al Fauzan hafizhahullah berkata, “Semua Rasul mengatakan seruan pertama kali yang ditujukan kepada kaumnya yaitu : “Sembahlah Allah, tidak ada bagi kalian satu sesembahan pun (yang haq) selain Dia” (QS. Al A’raaf ayat 59, 65, 73 dan 85), seruan itulah yang dikatakan oleh Nuh, Hud, Shalih, Syu’aib dan seluruh nabi kepada kaum mereka” (At Tauhid li shaffil awwal al ‘aaliy, hal. 10) Oleh karena itulah pantas jika wahyu yang diturunkan Allah Ta’ala kepada para nabi dari yang terdahulu hingga yang terakhir memberikan sebuah ancaman yang sangat keras bagi orang yang menginjak-injak keagungan tauhid dan menodainya dengan kotoran syirik berupa terhapusnya seluruh amal yang pernah dikerjakan, sebesar dan sebanyak apapun amal itu !! Kalau sudah syirik alamat binasa.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada orang-orang sebelummu (semua nabi) : Jika kamu berbuat syirik pasti akan terhapus amalmu, dan benar-benar kamu akan menjadi orang-orang yang merugi” (QS. Az Zumar : 65) Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan bahwa di dalam ayat ini kata amal adalah kata tunggal (mufrad) yang berada dalam keadaan sebagai mudhaf (disandarkan) sehingga cakupan maknanya meliputi semua amalan (sebagaimana hal itu telah ditetapkan di dalam kaidah ushul tafsir, bacalah Al Qawa’id Al Hisan karya Syaikh As Sa’di). Sehingga ini memberikan arti seluruh amalan akan musnah, hancur dan hilang gara-gara kesyirikan. Di dalam nubuwwah semua nabi telah diajarkan bahwa syirik itu menghapuskan semua amalan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala dalam surat Al An’aam setelah menyebutkan sekian banyak nabi dan rasul-Nya kemudian Allah menyatakan tentang mereka yang artinya, “Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya dari kalangan hamba-hamba-Nya. Dan seandainya mereka berbuat syirik niscaya akan terhapus semua amal yang pernah mereka kerjakan” (lihat Taisir karimirrahman, hal. 729)

Semua ayat Al Qur’an menguraikan tauhid
Ribuan ayat Al Qur’an tidak keluar dari pembicaraan tauhid, tidak percaya ? Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya isi Al Qur’an itu terkadang berupa berita tentang Allah, Nama-Nama dan sifat-sifat-Nya, Perbuatan-perbuatan dan kata-kata-Nya; itulah yang disebut dengan tauhid ilmi khabari. Dan terkadang isinya berupa ajakan untuk menyembah-Nya saja tanpa ada sekutu bagi-Nya dan menanggalkan segala sesembahan selain-Nya; itulah yang disebut dengan tauhid iradi thalabi. Dan isinya juga terkadang berupa perintah dan larangan, pembebanan kewajiban untuk taat kepada-Nya, harus taat kepada perintah maupun larangan-Nya; maka yang seperti itu termasuk dalam cakupan hak-hak tauhid dan bagian penyempurnanya. Dan bisa juga berisi tentang berita pemuliaan keadaan kaum yang bertauhid, perlakuan Allah (yang istimewa) terhadap mereka selama di dunia serta kemuliaan yang dianugerahkan-Nya kepada mereka ketika di akhirat; maka itulah balasan atas tauhid. Atau isinya berupa berita tentang kaum yang berbuat syirik serta perlakuan Allah terhadap mereka di dunia berupa siksa dan juga adzab yang menimpa mereka kemudian di akhirat; maka itulah balasan bagi orang yang keluar dari aturan tauhid. Sehingga Al Qur’an seluruhnya berbicara tentang tauhid, hak-haknya, balasan-balasannya, serta berbicara tentang syirik, pelakunya dan balasan yang ditimpakan kepada mereka” (dinukil dari Fathul Majid, hal. 15)

Tidak salah, sebab hal ini selaras dengan firman Allah Ta’ala yangartinya, “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS. Az Dzariyaat : 56) Kalau tujuan penciptaan jin dan manusia adalah supaya beribadah hanya kepada-Nya (bertauhid) maka wajar jika kitab yang diturunkan-Nya juga isinya semua berbicara tentang tauhid, macam-macamnya, pembatal-pembatalnya, perusak-perusaknya, contoh-contoh pendahulunya, balasan menyenangkan yang mereka alami, juga contoh-contoh pembangkangnya beserta hukuman pahit yang harus mereka terima, begitu pula adanya perintah dan larangan, karena Dia-lah Satu-satunya Penguasa Mutlak alam semesta, Satu-satunya sesembahan yang haq, tidak ada sekutu bagi-Nya, maka sangatlah wajar jika Dia memerintah dan melarang, karena itu memang hak-Nya. walillaahilhamd.

Kalau Al Qur’an saja demikian maka apalagi As Sunnah, apalagi para sahabat ridhwanullahi ‘alaihim ajma’in, tentunya mereka semua sepakat satu kata memprioritaskan tauhid sebagai pondasi dan ruh ilmu, amal, dakwah dan tentu saja jihad mereka. Inilah manhaj dakwah salafush shalih, taqdiimul ahamm fal ahamm (mendahulukan yang lebih penting kemudian disusul perkara penting lain di bawahnya), inilah bukti pemahaman fiqhul aulawiyaat (fikih prioritas) yang amat dalam, inilah bukti kedalaman ilmu para ulama terhadap fiqhu sirah (pemahaman sejarah Nabi dan para sahabat), inilah bukti fiqhul waaqi’ (pemahaman realitas) yang sangat menakjubkan karena tiada lain bersumber dari mata air wahyu yang suci Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Duhai, sungguh kasihan suatu kaum mendakwakan dirinya bijak dan adil tapi ternyata kebijakan dan keadilan tidak berpihak pada mereka,

Kebijakan dan keadilan di lembah yang satu
Sedangkan mereka berada di lembah yang lain

Allahummahdi qaumi fa innahum laa ya’lamuun. Wallahu a’lam bish shawaab.

0 komentar:

Posting Komentar