Sepucuk Surat

Sepucuk Surat
Untuk Para Murabbi

Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji hamba-Nya siapakah diantara mereka yang terbaik amalnya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi penyeru tauhid dan pemberantas syirik Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Amma ba’du.

Beberapa waktu yang lalu seorang teman memperlihatkan sebuah buku mungil kepada saya. Buku tersebut disusun sebagai buku panduan Asistensi Agama Islam di Universitas Gadjah Mada. Setelah membaca isinya maka saya dikejutkan oleh sebuah pembahasan di dalamnya. Ketika menafsirkan kalimat syahadat laa ilaaha illallah maka penyusun buku itu mengartikan laa ilaaha illallaah dengan berbagai penafsiran yang sungguh sangat jauh dari kandungan kalimat tauhid yang sebenarnya. Bagaimana tidak terkejut apabila dengan tanpa malu-malu mereka menafsirkan laa ilaaha illallah dengan makna laa khaaliqa illallaah (tiada pencipta selain Allah), laa maalika illallaah (tiada penguasa selain Allah) dan seterusnya hingga yang paling parah mereka mengatakan bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah laa ma’buuda illallaah (tiada sesembahan selain Allah) ?!!! Duhai, ….inikah dakwahnya para Nabi ‘alaihimush shalatu was salaam ? Maha Suci Allah, inikah ajaran yang hendak ditanamkan kepada para mahasiswa muslim di bangku-bangku perkuliahan ?

Saudaraku, tidak henti-hentinya para ulama menasihati kita dengan pena dan lisan mereka, di balik lembaran-lembaran kertas dan di atas mimbar-mimbar masjid. Wahai saudaraku, para ulama adalah pewaris para Nabi. Oleh sebab itu seraplah ilmu dari mereka. Berdakwahlah sebagaimana mereka. Dakwah yang dibangun di atas ilmu dan keterangan. Sebagaimana diperintahkan oleh Allah kepada Nabi-Nya

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah, inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah di atas landasan bashirah (ilmu). Maha Suci Allah, aku bukan termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf : 108) Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa bashirah yang dimaksud dalam ayat ini mencakup ilmu tentang materi yang disampaikan, tata cara menyampaikannya serta keadaan orang yang didakwahi (lihat Al Qaulul Mufid) Sebagian dari para ulama ada yang mengatakan, “Barangsiapa yang menyembah Allah tanpa ilmu maka dia akan lebih banyak merusak daripada memperbaiki.” Saudaraku, sama sekali kita tidak menuduh niat kalian. Akan tetapi perhatikanlah pemahaman kalian terhadap ajaran Islam.

Imam Ibnul Qayyim mengatakan, “Pemahaman yang benar dan niat yang baik adalah termasuk nikmat paling agung yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya. Bahkan tidaklah seorang hamba mendapatkan pemberian yang lebih utama dan lebih agung setelah nikmat Islam daripada memperoleh kedua nikmat ini. Bahkan kedua hal ini adalah pilar tegaknya agama Islam, dan Islam tegak di atas pondasi keduanya. Dengan dua nikmat inilah hamba bisa menyelamatkan dirinya dari terjebak di jalan orang yang dimurkai (al maghdhuubi ‘alaihim) yaitu orang yang memiliki niat yang rusak. Dan juga dengan keduanya ia selamat dari jebakan jalan orang sesat (adh dhaalliin) yaitu orang-orang yang pemahamannya rusak. Sehingga dengan itulah dia akan termasuk orang yang meniti jalan orang yang diberi nikmat (an’amta ‘alaihim) yaitu orang-orang yang memiliki pemahaman dan niat yang baik. Mereka itulah pengikut shirathal mustaqim..” (I’laamul Muwaqqi’iin, 1/87, dinukil dari Min Washaaya Salaf, hal. 44)

Saudaraku, sebagaimana kita yakini bahwa kalimat laa ilaaha illallaah adalah sebuah kalimat suci yang menjadi sebab seorang manusia terjaga darah dan hartanya. Laa ilaaha illallaah adalah sebuah kalimat suci yang menjadi kunci untuk masuk surga. Laa ilaaha illallaah sebuah kalimat suci yang menyelamatkan hamba dari siksa abadi di dalam neraka. Laa ilaaha illallah sebuah kalimat suci yang menyatukan umat manusia dari berbagai suku bangsa dan dari berbagai penjuru bumi di atas ikatan aqidah Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka mempersaksikan laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar Rasulullaah…” (HR. Bukhari dan Muslim) Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang akhir ucapan hidupnya laa ilaaha illallaah maka pasti masuk surga.” (HR. Abu Dawud (3116) Ahmad (5/233,247) Al Haakim (1/351,500) dari hadits Mu’adz bin Jabal. Al Haakim menilainya shahih dan Adz Dzahabi menyetujuinya. Al Albani menilainya hasan di dalam Irwa’ul Ghalil (3/150)). (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, hal. 35) Allah ta’ala berfirman yang artinya,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang beriman sajalah yang bersaudara.” (QS. Al Hujuraat : 10) Dan Allah ta’ala sendiri yang memerintahkan kita untuk memahami makna kalimat nan agung ini. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka ketahuilah sesungguhnya tiada sesembahan yang hak selain Allah…” (QS. Muhammad : 19)

Apakah makna laa ilaaha illallaah ?

Setelah kita meyakini bersama betapa tingginya kedudukan kalimat ini maka sudah semestinya kita berusaha memahami maknanya dengan benar. Ingat, pemahaman yang benar, itulah yang kita inginkan. Sekarang marilah kita renungkan penafsiran mereka yang mengatakan bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada penguasa selain Allah, tidak ada pemberi rezki selain Allah, tidak ada pengatur selain Allah dan tidak ada sesembahan selain Allah…. Pikirkanlah dengan jernih, dan timbanglah dengan timbangan keadilan yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Allah ta’ala berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Kemudian apabila kalian berselisih dalam suatu perkara maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir, hal itu lebih baik bagi kalian dan lebih baik hasilnya.” (QS. An Nisaa’ : 59)

Sebelumnya perlu saya sebutkan di sini bahwasanya keyakinan tentang Allah sebagai satu-satunya pencipta, satu-satunya penguasa, satu-satunya pemberi rezki dan satu-satunya pengatur alam semesta adalah keyakinan yang benar dan tidak ada keraguan tentangnya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Ingatlah, sesungguhnya mencipta dan memerintah adalah hak Allah semata.” (QS. Al A'raaf : 54) Allah juga berfirman yang artinya, “Allah adalah pencipta segala sesuatu.” (QS. Az Zumar : 62) Allah berfirman, “Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.” (QS. Al Fatihah : 1) Allah juga berfirman, "Dan hanya milik Allah kerajaan langit dan bumi." (QS. Ali Imran : 189) Allah ta’ala juga berfirman, “Siapakah yang memberikan rezki kepada kalian dari langit dan bumi..... niscaya mereka menjawab Allah...” (QS. Yunus : 31) Allah ta’ala berfirman, “Allah lah yang melapangkan rezki bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia juga menyempitkan baginya...” (QS. Al ‘Ankabuut : 62) Sehingga jelaslah bagi kita dari ayat-ayat yang mulia ini tentang keesaan Allah dalam hal mencipta, menguasai dan mengatur alam serta memberikan rezki kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Bahkan keyakinan ini juga dimiliki oleh orang-orang kafir.

Simaklah firman Allah ta’ala, “Dan sungguh apabila kamu menanyakan kepada mereka, Siapakah yang menciptakan langit dan bumi niscaya mereka menjawab Allah.” (QS. Luqman : 25) Bahkan lebih dari itu, mereka juga meyakini bahwa hanya Allah lah yang berkuasa untuk menyelamatkan mereka dari bahaya besar yang mengancam jiwa. Allah ta’ala menceritakan kisah mereka di dalam ayat-Nya, “Ketika mereka naik kapal (dan diterpa badai) maka mereka pun berdoa kepada Allah dengan ikhlas (memurnikan ketaatan) dan tatkala Allah selamatkan mereka ke daratan mereka pun kembali berbuat kesyirikan.” (QS. Al ‘Ankabuut : 65)

Nah, sekarang persoalannya adalah ; apakah keyakinan itu –yang menyatakan bahwa tidak ada pencipta, penguasa, pengatur dan pemberi rezki selain Allah- adalah makna yang dimaksud oleh kalimat laa ilaaha illallaah ? Cobalah pikirkan hal ini dengan baik. Kemudian sebelum menjawabnya ingatlah berbagai konsekuensi yang terlahir dari kalimat ini. Bukankah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallaah (dan tidak melakukan pembatalnya) pasti masuk surga ? Bukankah orang yang mengikrarkan laa ilaaha illallaah dan mati di atas aqidah ini tidak akan kekal di neraka ? Bukankah orang yang telah ber-laa ilaaha illallaah haram untuk diperangi, haram ditumpahkan darah dan haram diambil hartanya ? Bukankah dengan kalimat laa ilaaha illallaah permusuhan dan kebencian berubah menjadi pembelaan dan kecintaan ?

Marilah kita buka lembaran mushaf dan menyimak sebuah ayat yang mulia. Allah ta’ala berfirman,

ذَلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ الْبَاطِلُ

“Yang demikian itu dikarenakan Allah adalah (sesembahan) yang Haq adapun segala sesuatu yang mereka sembah selain-Nya adalah (sesembahan) yang Bathil.” (QS. Luqman : 30)

Ayat ini menunjukkan bahwa sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil, sesembahan yang tidak berhak untuk diibadahi. Di dalam ayat yang lain Allah menceritakan sikap orang-orang kafir yang menolak dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah berfirman,

إِنَّهُمْ كَانُوا إِذَا قِيلَ لَهُمْ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ يَسْتَكْبِرُونَ وَيَقُولُونَ أَئِنَّا لَتَارِكُو آلِهَتِنَا لِشَاعِرٍ مَجْنُونٍ

“Sesungguhnya apabila mereka diperintahkan untuk mengucapkan laa ilaaha illallaah maka mereka pun menyombongkan diri, dan mereka justru berkata, akankah kami tinggalkan sesembahan-sesembahan kami hanya gara-gara ajakan seorang penyair gila ?” (QS. Ash Shaffaat : 35)

Ayat ini menunjukkan bahwa apabila orang-orang kafir mengucapkan laa ilaaha illallaah maka mereka harus meninggalkan sesembahan-sesembahan mereka selain Allah. Oleh sebab itu mereka enggan untuk tunduk. Mereka tidak mau mengucapkan kalimat tauhid yang mulia dan suci ini. Walaupun tatkala mereka ditanya siapakah yang menciptakan mereka, siapakah yang menciptakan langit dan bumi, siapakah yang mencurahkan rezki, siapakah yang mengatur jagad raya ini maka mereka pun menjawab hanya Allah lah yang melakukan itu semua. Duhai, pikirkanlah kenyataan ini baik-baik. Di satu sisi mereka menolak laa ilaaha illallaah. Dan di sisi lain mereka mengakui bahwa satu-satunya pencipta, penguasa, pengatur dan pemberi rezki adalah Allah subhanahu wa ta’ala. Tidakkah kalian melihat kenyataan yang sangat gamblang ini ? Semuanya berdasarkan dalil yang tegas dan jelas dari Al Qur’an. Akankah kita mengingkari atau meragukannya ?

Apabila kita lihat di dalam Al Qur’an, Allah telah menceritakan keadaan orang-orang kafir dan musyrik yang dihadapi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Allah ta’ala berfirman,

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

“Dan sungguh jika engkau tanyakan kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, niscaya mereka akan menjawab, “Allah” (QS. Luqman : 25) Allah juga berfirman yang artinya, “Katakanlah, ‘Siapakah yang memiliki bumi beserta segala sesuatu yang ada di dalamnya, jika kalian mengetahui’. Niscaya mereka akan menjawab, “milik Allah” Lalu kenapa kalian tidak mau mengambil pelajaran” (QS. Al Mu’minuun : 84-85) Inilah yang disebut dengan tauhid Rububiyah. Yaitu mengakui bahwasanya Allah lah satu-satunya pencipta dan penguasa alam semesta. Imam Ibnu Abil ’Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Sesungguhnya orang-orang musyrik Arab sudah mengakui tauhid rububiyah…” Kemudian beliau menyebutkan dua ayat di atas sebagai dalilnya. (lihat Syarah ‘Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 21 cet Darul 'Aqidah)

Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah mengatakan, “Dan tauhid jenis ini (yaitu tauhid rububiyah) telah diakui oleh orang-orang musyrik penyembah berhala. Meskipun kebanyakan dari mereka juga menentang adanya hari kebangkitan dan dikumpulkannya manusia (kelak di hari kiamat). Dan pengakuan ini belumlah memasukkan mereka ke dalam agama Islam karena kesyirikan mereka (dalam beribadah kepada-Nya) dengan menyembah arca dan berhala (disamping menyembah Allah) dan juga karena mereka tidak mau beriman terhadap Rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam” (lihat Syarah ‘Aqidah Ath Thahawiyah, hal. 18-19. cet Darul 'Aqidah)

Lalu setelah kita meyakininya maka timbul pertanyaan berikutnya. Kalau mereka (orang-orang kafir Quraisy) sudah yakin tentang hal itu semua lalu mengapa mereka tetap menentang kalimat laa ilaaha illallaah yang diserukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Bukankah mereka sudah mengakui Allah satu-satunya pencipta, penguasa, pengatur dan pemberi rezki kepada mereka ? Lalu mengapa mereka tetap tidak mau tunduk mengucapkan laa ilaaha illallaah ?! Kalau memang makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada penguasa selain Allah, tidak ada pengatur selain Allah sebagaimana hal itu telah mereka yakini dan ucapkan maka mengapa mereka tidak mau mengucapkan sebuah kalimat yang semakna dengannya yaitu laa ilaaha illallaah ? Bukankah mereka sama-sama orang Arab yang paham dengan bahasanya sendiri ?

Renungkanlah saudaraku, ini adalah bukti nyata bahwa sesungguhnya makna laa ilaaha illallaah adalah bukan itu semua. Karena apabila keyakinan-keyakinan itu yang dimaksud oleh laa ilaaha illallaah maka tentunya orang kafir Quraisy sudah menerimanya dan dengan mudah menyambut dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa perlu ada pertumpahan darah dan tanpa harus menyebabkan korban nyawa berjatuhan. Lihatlah sejarah, ternyata gara-gara kalimat laa ilaaha illallaah inilah beliau harus diperangi, dibenci, diboikot, dilempari batu hingga berdarah. Dan begitu pula para sahabatnya. Mereka disiksa, ditindih dengan batu di atas teriknya padang pasir, dibunuh dengan cara yang sangat keji dan tidak berperikemanusiaan, hanya gara-gara satu kalimat yaitu laa ilaaha illallaah. Kalaulah kita terima bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada pencipta selain Allah maka konsekuensinya adalah orang-orang musyrik yang diperangi Rasul adalah orang-orang yang telah ber-laa ilaaha illallaah ?! Dan itu artinya Rasul telah melakukan tindakan yang sangat tercela yaitu menyelisihi ucapan beliau sendiri. Tidak, sama sekali ini tidak mungkin. Karena beliau berjihad memerangi orang-orang kafir atas perintah dari Allah ta’ala. Allah berfirman yang artinya, “Wahai Nabi, perangilah orang-orang kafir dan munafiq dan bersikap keraslah kepada mereka, dan tempat kembali mereka adalah neraka.” (QS. At Tahriim : 9) Apakah kita akan mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam salah paham terhadap ayat ini ? Ataukah kita kitakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengkhianati risalah ? Duhai, tidak ada yang mengatakan itu semua melainkan orang-orang yang sudah dibutakan mata hatinya !!! Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang sangat besar...

Oleh sebab itulah maka setiap orang yang berbicara dengan mengatasnamakan agama harus berhati-hati dan waspada. Karena sesuatu yang dibicarakannya adalah terkait dengan Allah dan agama-Nya. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu ikuti sesuatu yang kamu tidak memiliki ilmu tentangnya, karena sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati itu semua akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’ : 36) Kalau ada seorang insinyur bangunan berbicara seenaknya tentang seluk beluk penyakit mata maka tentunya para dokter mata akan merasa risih mendengarnya. Lalu bagaimana lagi apabila ada seorang manusia yang berbicara tentang makna kalimat tauhid dengan seenaknya, tanpa berpikir panjang tentang akibat dari ucapannya ?!! Apakah dengan menafsirkan laa ilaaha illallaah sebagai tidak ada pencipta selain Allah akan melahirkan sebuah pemahaman yang komprehensif ? Apakah dengan menafsirkan laa ilaaha illallaah sebagai tidak ada penguasa alam selain Allah akan membuahkan pemahaman yang sempurna ? Apakah ini yang disebut dengan kebijaksanaan atau hikmah yang sering dibangga-banggakan oleh sebagian golongan ?

Makna laa ilaaha illallaah

Perlu dingat bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Bukanlah makna syahadat ini sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang yang tidak paham. Mereka menganggap bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tiada pencipta selain Allah. Karena sekedar mengetahui bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta belumlah memasukkan orang yang mengetahuinya ke dalam lingkaran Islam. Allah ta'ala berfirman, “Yang demikian itu dikarenakan Allah adalah Al Haq adapun segala sesuatu yang mereka sembah selain-Nya itulah Al Baathil.” (QS. Luqman : 30)

Diantara mereka ada juga yang beranggapan bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada tuhan selain Allah (laa ma'buuda illallaah). Pemaknaan seperti ini jelas keliru ditinjau dari dua sudut pandang :

Pertama, Allah menyebut bahwa tuhan yang disembah orang musyrik itu banyak. Allah berfirman,

فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مِنْ شَيْءٍ لَمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ

“Maka sedikitpun sesembahan-sesembahan yang mereka seru selain Allah itu tidak mampu memberikan manfaat bagi mereka ketika keputusan Tuhanmu telah datang” (QS. Huud : 101) Ini menunjukkan bahwa tuhan yang disembah manusia itu memang banyak, tidak hanya satu. Apabila laa ilaaha illallaah diartikan tidak ada tuhan selain Allah maka jelas bertentangan dengan kenyataan ini.

Kedua, apabila dikatakan bahwa makna laa ilaaha illallaah adalah tidak ada tuhan selain Allah maka hal ini memberikan konsekuensi yang salah. Apa konsekuensinya ? Konsekuensinya adalah semua yang disembah adalah Allah. Sebagaimana apabila kita mengatakan bahwa tidak ada Nabi kecuali lelaki. Maka konsekuensinya adalah semua Nabi adalah lelaki. Ini persis dengan pernyataan tidak ada tuhan kecuali Allah. Sebab konsekuensinya adalah semua tuhan adalah Allah. Cobalah cermati dengan baik... niscaya anda akan memahaminya. Padahal tuhan yang disembah umat manusia di atas muka bumi ini sangat banyak. Ada yang menyembah sapi, ada yang menyembah arca dan dewa-dewa, ada yang menyembah api, ada yang menyembah matahari, ada yang menyembah Nabi dan malaikat, apakah akan kita katakan bahwa semua yang disembah itu adalah Allah ? Tentu tidak. Maka sekali lagi makna laa ilaaha illallaah yang benar adalah tiada sesembahan yang berhak untuk disembah selain Allah.

Syaikh Shalih Al Fauzan mengatakan, “Semua tafsiran tersebut (tidak ada tuhan selain Allah, tidak ada pencipta selain Allah, tidak ada pembuat hukum kecuali Allah, pent) adalah batil atau kurang sempurna. Hal ini perlu kami tegaskan di sini karena tafsiran-tafsiran semacam ini terdapat di dalam buku-buku yang banyak beredar. Adapun tafsiran yang benar untuk kalimat ini menurut para ulama salaf dan ahli tahqiq (penelitian) adalah : laa ma’buuda bihaqqin illallaah, tiada sesembahan yang disembah dengan benar kecuali Allah…” (Kitab Tauhid, hal. 45)

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika mengutus Mu’adz ke negeri Yaman, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari kalangan Ahli Kitab. Maka hendaknya dakwah pertama yang kau sampaikan kepada mereka adalah syahadat laa ilaaha illallaah –dalam riwayat lain disebutkan : supaya mereka mentauhidkan Allah- kemudian apabila mereka sudah mentaatimu untuk melakukan itu, maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan atas mereka mengerjakan shalat lima waktu dalam sehari semalam. Kemudian apabila mereka telah mentaatimu untuk itu maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan shadaqah (zakat) kepada mereka yang diambil dari orang-orang kaya di antara mereka untuk diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka. Kemudian apabila mereka mentaatimu untuk itu maka jauhilah harta-harta mereka yang paling berharga. Berhati-hatilah dari do’anya orang yang terzhalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara do’anya dengan Allah.” (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’i, Ibnu Majah, Ad Darimi dan Ahmad)

Syaikh Rabi’ bin Hadi hafizhahullah mengatakan, “Maksud dari syahadat ini (laa ilaaha illallaah) adalah segala macam bentuk ibadah adalah hak yang harus ditunaikan kepada Allah saja, tidak ada sesuatupun selain-Nya yang berhak untuk mendapatkannya barang sedikitpun. Entah dia malaikat yang didekatkan, Nabi yang diutus, orang shalih, batu, pohon, matahari ataupun bulan. Oleh sebab itu tidak boleh diibadahi kecuali Allah saja. Tidak boleh meminta pertolongan supaya dihilangkan bahaya yang sudah menimpa kecuali kepada-Nya. Tidak boleh dimintai pertolongan kecuali Dia. Tidak boleh bertawakal kecuali kepada-Nya. Tidak boleh menjadi sasaran rasa takut dan harap (yang disertai ketundukan, pent) kecuali Dia. Sehingga barangsiapa yang memalingkan salah satu bentuk ibadah tersebut atau ibadah-ibadah yang lainnya kepada selain Allah maka sesungguhnya dia telah mempersekutukan Allah. dan barangsiapa yang mempersekutukan Allah maka sungguh surga telah diharamkan baginya dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada satu penolongpun bagi orang-orang zhalim (musyrik) itu."

Beliau melanjutkan keterangannya, "Dan bukanlah yang dimaksud dengan laa ilaaha illallaah sekedar mengucapkannya. Karena ucapan itu juga harus disertai dengan pemahaman terhadap maknanya, mengamalkan isi dan konsekuensinya. Dan juga harus terpenuhi syarat-syaratnya yang berjumlah tujuh :
Pertama : Mengetahui (maknanya) yang menafikan kebodohan
Kedua : Keyakinan yang menafikan rasa ragu
Ketiga : Menerima yang menafikan penolakan
Keempat : Ketundukan yang menafikan sikap meninggalkan
Kelima : Keikhlasan yang menafikan kesyirikan
Keenam : Kejujuran yang menafikan kedustaan
Ketujuh : Kecintaan yang menafikan lawannya
(lihat Mudzakkirah Al Hadits An Nabawi)

Sebagian orang ada lagi yang mengartikan laa ilaaha illallaah sebagai tiada penetap hukum selain Allah (laa haakimiyyata illallaah). Maka hal ini juga belum sempurna. Karena penetapan hukum hanyalah sebagian saja dari makna rububiyah Allah ta’ala. Sedangkan perbuatan hamba tatkala memutuskan hukum itu termasuk dalam cakupan hak uluhiyah Allah. Maka orang yang memutuskan hukum dengan selain hukum Allah telah melakukan syirik dalam hal uluhiyah dan rububiyah sekaligus. Hal ini apabila pelakunya meyakini berhukum dengan selain hukum Allah itu boleh atau lebih baik. Padahal cakupan laa ilaaha illallaah lebih luas daripada sekedar masalah hukum. Laa ilaaha illallaah mencakup semua bentuk ibadah. Dapat kita katakan bahwa kandungan laa ilaaha illallah adalah mengesakan Allah dalam uluhiyah-Nya, bukan sekedar rububiyah saja. Perlu dimengerti bahwa setiap orang yang telah bertauhid uluhiyah secara otomatis juga sudah pasti bertauhid rububiyah. Akan tetapi tidak sebaliknya. Tidak setiap orang yang bertauhid rububiyah mengakui tauhid uluhiyah.

Imam Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, “Pendapat yang benar menyatakan bahwa berhukum dengan selain hukum yang diturunkan Allah bisa mencakup dua jenis kekafiran : ashghar dan akbar, tergantung keadaan si pengambil keputusan. Apabila dia meyakini kewajiban berhukum dengan hukum yang diturunkan Allah pada kejadian tersebut kemudian dia berpaling darinya karena durhaka, dan dia masih mengakui dirinya pantas untuk dijatuhi hukuman atas tindakannya itu maka ini adalah kufur ashghar. Dan apabila dia berkeyakinan bahwa hal itu tidak wajib baginya, atau bebas memilih (untuk berhukum dengannya atau tidak) dengan catatan dia meyakini bahwa itu memang hukum Allah maka ini adalah kufur akbar. Sedangkan apabila hal itu terjadi karena kebodohan atau tidak sengaja melakukan kesalahan maka ia disebut orang yang tersalah. Berlaku padanya hukum orang yang tidak menyengaja berbuat salah…” (Madaarijus Saalikiin I/335-337) Dinukil dari Mukadimah Ilmiah Syaikh Salim Al Hilaly hafizhahullah dalam kitab Tahdziir Ahlil Imaan ‘anil Hukmi bighairi maa anzalar Rahman, hal. 30-31.

Dengan demikian jelaslah bahwa orang yang hanya mengucapkan laa ilaaha illallaah tapi tidak mengetahui maknanya maka dia bukan termasuk muslim yang hakiki. Syahadatnya tidak sah. Meskipun dia mengucapkannya ribuan kali dalam sehari !! Sebab dia telah kehilangan salah satu syarat syahadat yang terpenting yaitu mengetahui maknanya. Pantaslah apabila dahulu orang kafir Quraisy tidak mau menerima ajakan Nabi untuk mengucapkan kalimat ini. Karena mereka mengetahui apa maknanya. Sebab makna kalimat ini adalah mereka harus meninggalkan peribadahan kepada sesembahan-sesembahan mereka dan hanya beribadah kepada Allah saja. Maka sungguh mengenaskan, nasib orang yang kalah dengan orang kafir Quraisy dalam hal memahami kalimat tauhid.

Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan, “…Sungguh mengherankan ada orang yang mengaku beragama Islam sementara dia sendiri tidak mengetahui tafsir kalimat ini, padahal orang-orang kafir yang bodoh saja mengetahuinya. Bahkan (lebih parah lagi) dia menyangka bahwa syahadat itu cukup dengan mengucapkan kata-kata saja tanpa keyakinan hati tentang kandungan maknanya. Orang yang cerdik diantara mereka bahkan ada yang mengira maknanya (kalimat tauhid) adalah : tiada yang mencipta, memberi rezki kecuali Allah, tiada yang mengatur segala urusan kecuali Allah. Oleh karenanya tidak terdapat kebaikan sama sekali pada diri seseorang yang orang-orang bodoh dari kaum kafir saja lebih paham darinya tentang kandungan makna laa ilaaha illallaah” (Kasyfu Syubuhaat, dinukil dari At Taudhihaat Al Kaasyifaat ‘ala Kasyfi Syubuhaat, Syaikh Muhammad bin Abdullah Al Habdaan hal. 101)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :
“Apakah kesyirikan yang dilakukan oleh kaum musyrikin yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diutus di tengah mereka ?” Maka beliau menjawab, “Apabila dilihat dari sisi kesyirikan orang-orang musyrik yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diutus di tengah mereka. Maka sesungguhnya letak kesyirikan mereka bukanlah dalam hal rububiyah. Karena Al Qur’an Al Karim menunjukkan bukti bahwa mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam hal ibadah saja. Adapun dalam hal rububiyah, maka mereka itu beriman kalau Allah adalah Rabb (pencipta dan pemelihara) satu-satunya. Mereka juga meyakini kalau Allah lah yang bisa mengabulkan do’a orang-orang yang dalam keadaan terjepit. Mereka juga beriman kalau Allah lah yang sanggup menyingkapkan berbagai keburukan dan bahaya, dan mereka juga mengakui hal-hal yang lainnya. Sebagaimana sudah disebutkan Allah tentang mereka yaitu pengakuan mereka terhadap keesaan rububiyah Allah ‘azza wa jalla. Akan tetapi mereka itu orang-orang yang mempersekutukan Allah dalam peribadahan, yaitu mereka menyembah sesembahan lain selain menyembah Allah. Dan ini merupakan kesyirikan yang mengeluarkan pelakunya dari agama…” (Fatawa Arkanil Islam, hal. 18)

Berdasarkan dalil-dalil dan keterangan para ulama di atas maka kesimpulan yang bisa kita dapatkan adalah makna yang benar dari kalimat tauhid laa ilaaha illallaah adalah laa ma'buuda bihaqqin illallaah, artinya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Adapun tafsiran yang lainnya tidak benar. Ini menunjukkan kepada kita bahwa sesembahan selain Allah itu memang ada akan tetapi sesembahan yang batil. Sehingga sekali lagi kami tegaskan bahwa penafsiran laa ilaaha illallaah sebagai laa ma'buuda illallaah (tiada sesembahan kecuali Allah) adalah penafsiran yang batil dan melahirkan konsekuensi yang sangat keji. Oleh sebab itu melalui surat terbuka ini saya menghimbau agar penjelasan tersebut (berbagai tasfiran laa ilaaha illallaah yang menyimpang) untuk segera diralat. Demikian juga keterangan serupa yang sudah pernah disebarluaskan oleh pihak-pihak lain untuk diralat dan dikoreksi. Dengan demikian maka kewajiban kami untuk menyampaikan kebenaran ini sudah kami laksanakan. Ya Allah, saksikanlah....

Bagi siapa saja yang ingin menelaah lebih dalam tentang tafsiran laa ilaaha illallaah dengan benar maka silakan membaca :
1. Hushuulul Ma'muul bi Syarhi Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan, hal. 109-114
2. Thariiqul Wushuul ilaa Idhaahi Tsalatsatil Ushul karya Syaikh Zaid bin Hadi Al Madkhali, hal. 158-161
3. Fathul Majid Syarhu Kitaabut Tauhid karya Syaikh Abdurrahman bin Hasan, hal. 15-17, 38-40, dst. Cet Darul Hadits
4. Al Qaulul Mufid 'ala Kitabit Tauhid jilid 1 karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al 'Utsaimin, hal. 93-102. Tahqiq Hani Al Haj Cet Maktabah Al Ilmu
5. At Tanbihaat Al Mukhtasharah Syarh Al Wajibaat karya Ibrahim bin Syaikh Shalih Al Khuraishi, hal. 35-36
6. At Tamhiid li Syarhi Kitabit tauhid karya Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alusy Syaikh, hal. 74-78
7. Minhaaj Al Firqah An Najiyah karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, hal. 21-22 dan lain-lain

Di akhir surat ini saya memohon ampun kepada Allah apabila terdapat kekeliruan dalam tulisan yang saya susun ini. Kebenaran datang dari Allah, sedangkan kesalahan bersumber dari saya, oleh karena itu Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari kesalahan saya. Semoga Allah membukakan hati para murabbi untuk menerima kebenaran dan rujuk kepadanya. Semoga Allah membimbing kita untuk meraih cinta dan ridha-Nya. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada Nabi Muhammad, para sahabat dan seluruh pengikut mereka yang setia. Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam.


Yogyakarta, 16 Dzulqa'dah 1427 H/6 Desember 2006

Tertanda


Ketua Lembaga Bimbingan Islam Al-Atsary Yogyakarta

0 komentar:

Posting Komentar