Allah Maha Esa Tiada sekutu bagi-Nya

Untaian Faidah dari Kitab Aqidah Thahawiyah
Bagian 1

Allah Maha Esa Tiada sekutu bagi-Nya

Aqidah yang benar adalah kunci kebahagiaan. Di dalam kitabnya Aqidah Thahawiyah, Imam Abu Ja’far Ath Thahawi rahimahullah membeberkan kepada umat tentang akidah ahlus sunnah yang diyakini oleh para imam panutan umat ini. Beliau adalah seorang ulama besar yang lahir pada tahun 239 hijriyah, ada pula yang berpendapat beliau lahir tahun 237. Selain kitab ini, beliau juga memiliki karya yang lain yaitu Syarhu Ma’aanil Atsar, Syarhu Musykilul Atsar, Mukhtashar Ath Thahawi fil Fiqhi Hanafi dan lain sebagainya. Imam Ibnul Jauzi memberikan komentar tentang beliau, “Beliau adalah ulama yang terpercaya dan kuat pemahamannya, seorang fakih yang sangat cerdas”. Beliau wafat pada tahun 321 hijriyah, semoga Allah merahmati beliau dan membalas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin (lihat Al Minhah Al Ilahiyah, hal. 12-13)

Dalam tulisan ini kami akan mengangkat faidah-faidah emas yang terdapat dalam kitab beliau tersebut. Kami berusaha untuk menyajikannya sesederhana mungkin agar mudah dipahami namun dengan tetap menjaga nilai keilmiahannya. Semoga Allah memudahkan urusan kita. Selamat membaca.

Dengan menyebut nama Allah yang Maha pemurah lagi Maha penyayang

Segala puji bagi Allah tuhan semesta alam. Al ‘Allaamah Hujjatul Islam Abu Ja’far Al Warraaq Ath Thahawi yang berasal dari Mesir (semoga Allah merahmati beliau) mengatakan :
Ini merupakan sebuah pernyataan keyakinan ahlus sunnah wal jama’ah menurut pemahaman para ahli agama; Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit Al Kufi, Abu Yusuf Ya’qub bin Ibrahim Al Anshari dan Abu Abdillah Muhammad bin Al Hasan Asy Syaibani (semoga keridhaan Allah tercurah kepada mereka semuanya). Penyataan ini juga berisikan akidah mereka dalam perkara-perkara pokok agama dan memuat keyakinan-keyakinan yang menjadi nafas ajaran agama mereka dalam menyembah Rabbul ‘alamin.
1. Kami menyatakan keyakinan tentang tauhidullah (mengesakan Allah) berkat limpahan taufik dari Allah bahwa: Sesungguhnya Allah maha esa, tiada sekutu bagi-Nya.

Makna aqidah
Secara bahasa aqidah berarti ikatan. Adapun secara istilah, aqidah berarti segala sesuatu yang diyakini di dalam hati dan tidak tercampuri keraguan. Aqidah yang benar disebut aqidah shahihah. Sedangkan aqidah yang salah disebut aqidah bathilah. Di dalam Islam aqidah menempati posisi yang sangat fundamental. Para ulama menjelaskan bahwa kandungan aqidah Islam berpusat dalam rukun iman yang enam, yaitu :
1. beriman tentang keesaan Allah
2. beriman tentang para malaikat-Nya
3. beriman tentang kitab-kitab-Nya
4. beriman tentang para Rasul-Nya
5. beriman tentang hari kiamat
6. beriman tentang takdir
Keenam perkara inilah yang disebut dengan ushul iman (pokok-pokok keimanan). Sebutan itu diberikan karena enam prinsip inilah isi jawaban Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala ditanya oleh malaikat Jibril tentang makna iman, sebagaimana tercantum dalam hadits riwayat Imam Muslim. (lihat Mujmal Ushul Ahlis Sunnah wal Jama’ah fil ‘Aqidah, Al Wajiz fi ‘Aqidati Salafish shalih yang sudah diterjemahkan dengan Judul Panduan ‘Aqidah Lengkap penerbit Pustaka Ibnu Katsir, bacalah karena buku tersebut sangat bagus)

Makna Ahlus Sunnah wal Jama’ah
As Sunnah secara bahasa artinya jalan. Adapun secara istilah As Sunnah adalah ajaran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya, baik berupa keyakinan, perkataan, sikap maupun persetujuan. Dalam hal ini sunnah menjadi lawan dari bid’ah. Bukan sunnah dalam terminologi fikih. Karena sunnah menurut istilah fikih adalah segala perbuatan ibadah yang bila dikerjakan berpahala akan tetapi bila ditinggalkan tidak berdosa. Maka sunnah yang dimaksud dalam istilah ahlu sunnah adalah seluruh ajaran Rasul dan para sahabat, baik yang hukumnya wajib maupun sunnah !!

Al Jama’ah secara bahasa artinya kumpulan orang yang bersepakat untuk suatu perkara. Sedangkan menurut istilah syar’i al jama’ah berarti jama’ah para sahabat berserta orang-orang sesudah mereka yang meniti jejak mereka dalam beragama. Ukuran seseorang berada di atas jama’ah bukanlah jumlah. Akan tetapi ukurannya adalah sejauh mana dia berpegang teguh dengan kebenaran yaitu Islam yang murni yang dipahami oleh para sahabat radhiyallahu ta’ala ‘anhum. Sebagaimana hal ini telah diisyaratkan oleh Rasul ketika menceritakan akan terjadi perpecahan umat ini menjadi 73 golongan. Semuanya di neraka kecuali satu yaitu al jama’ah. Dalam riwayat lain dijelaskan bahwa mereka itu adalah orang-orang yang beragama sebagaimana Nabi dan para sahabat. Hadits perpecahan umat adalah hadits yang sah menurut ulama ahli hadits. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan di dalam Majmu’ Fatawa (3/345), “Hadits tentang perpecahan umat adalah hadits yang shahih dan sangat populer di dalam kitab-kitab sunan dan musnad” (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, hal. 348)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :
Siapakah yang dimaksud dengan ahlus sunnah wal jama’ah ?

Beliau menjawab, “Yang disebut sebagai Ahlus sunnah wal jama’ah hanyalah orang-orang yang benar-benar berpegang teguh dengan As Sunnah (ajaran Nabi) dan mereka bersatu di atasnya. Mereka tidak menyimpang kepada selain ajaran As Sunnah, baik dalam urusan keyakinan ilmiah maupun dalam masalah amal praktik hukum. Oleh sebab inilah mereka disebut dengan ahlus sunnah, yaitu karena mereka bersatu padu di atasnya (di atas sunnah). Dan apabila anda cermati keadaan ahlul bid’ah niscaya anda dapatkan mereka itu berselisih dalam hal metode akidah dan amaliah, ini menunjukkan bahwa mereka itu sangat jauh dari petunjuk as sunnah, tergantung dengan kadar kebid’ahan yang mereka ciptakan” (Fatawa Arkanul Islam, hal. 21)

Hanya satu yang selamat !
Syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah pernah ditanya :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah memberitakan tentang terjadinya perpecahan umatnya sesudah beliau wafat. Kami sangat mengharapkan keterangan dari yang mulia tentang hal itu ?

Beliau menjawab, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberitakan dalam hadits-hadits yang sah (riwayat Abu Dawud di Kitab As Sunnah bab Syarhu Sunnah (4596), At Tirmidzi di Kitabul Iman bab Iftiraqu hadzihihil ummah (2642), Ibnu Majah di Kitabul Fitan bab Iftiraqul Ummah (3991)). Hadits-hadits itu menceritakan bahwa kaum Yahudi berpecah belah menjadi 71 kelompok/firqah. Sedangkan kaum Nashara berpecah menjadi 72 firqah. Dan umat ini akan berpecah menjadi 73 firqah. Seluruh firqah ini terancam berada di neraka kecuali satu firqah. Firqah tersebut terdiri dari orang-orang yang berpegang teguh dengan ajaran dan pemahaman agama sebagaimana yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Kelompok inilah yang disebut dengan Al Firqah An Najiyah (kelompok yang selamat). Mereka selamat dari kebid’ahan ketika berada di dunia. Dan mereka terselamatkan dari api neraka ketika di akhirat kelak. Inilah Ath Thaa’ifah Al Manshuurah (kelompok yang diberi pertolongan dan dimenangkan) yang akan tetap eksis hingga datangnya hari kiamat. Mereka senantiasa menang dan mendapatkan ketegaran dalam menegakkan agama Allah ‘azza wa jalla”.

“Tujuh puluh tiga firqah ini, salah satunya berada di atas kebenaran sedangkan selainnya berada di atas kebatilan. Sebagian ulama berusaha untuk merincinya satu persatu dan menyimpulkannya menjadi lima aliran utama ahlul bida’ (kaum pembela bid’ah). Dari setiap aliran itu mereka bagi lagi menjadi beberapa sekte sampai bisa mencapai total bilangan tersebut yang telah disebutkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan ulama yang lainnya memandang bahwa dalam hal ini sikap yang lebih baik ialah menahan diri untuk tidak merincinya. Mereka beralasan karena bukan hanya firqah-firqah yang sudah ada ini saja yang tersesat. Tetapi telah banyak kelompok orang yang tersesat dalam jumlah kelompok yang lebih besar di masa sebelumnya. Begitu pula banyak firqah baru yang muncul setelah tujuh puluh dua firqah yang ada sekarang. Mereka berpendapat bahwa bilangan ini tidak akan pernah terhenti dan tidak mungkin bisa diketahui sampai kapan berakhirnya kecuali nanti di akhir zaman ketika hari kiamat datang. Oleh sebab itu sikap yang lebih baik ialah kita sebutkan secara global saja bilangan yang sudah disebutkan secara global oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kita katakan bahwasanya umat ini akan berpecah belah menjadi 73 firqah, semuanya berada di neraka kecuali satu. Kemudian kita katakan bahwa setiap orang yang menyimpang dari petunjuk dan pemahaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya adalah termasuk dalam firqah-firqah ini. Dan bisa juga Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan gambaran tentang pokok-pokok aliran sesat yang belum bisa kita ketahui keberadaannya sekarang ini kecuali hanya sebatas sepuluh aliran saja yang baru bisa kita lihat. Atau bisa juga beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan beberapa pokok aliran sesat yang di dalamnya terkandung cabang-cabang sebagaimana pendapat demikian dipilih oleh sebagian ulama. Adapun ilmu yang sebenarnya ada di sisi Allah ‘azza wa jalla” (Fatawa Arkaanul Islaam, hal. 21-22)

Kedudukan tauhid
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi (penulis syarah Aqidah Thahawiyah) rahimahullah mengatakan, “Ketahuilah. Tauhid merupakan seruan pertama dakwah para rasul. Ia adalah fase perjalanan pertama dan maqam awal yang harus dipijak oleh seorang yang menempuh jalan menuju Allah ‘azza wa jalla. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sungguh Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Dia menyerukan ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia’”(QS. Al A’raaf : 59). Huud ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, “Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia” (QS. Al A’raaf : 65). Shalih ‘alaihis salam mengatakan kepada kaumnya, “Sembahlah Allah. Tiada sesembahan (yang hak) bagi kalian selain Dia” (QS. Al A’raaf : 73). Allah ta’ala juga berfirman, “Tidaklah Kami mengutus seorang rasul pun sebelum engkau melainkan Kami telah wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Aku. Maka sembahlah Aku saja” (QS. Al Anbiyaa’ : 25). Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diperintahkan untuk memerangi seluruh manusia sampai mereka mau bersaksi bahwa tiada sesembahan yang hak selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah” (hadits riwayat Al Bukhari (25) dan Muslim (22) dari hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu. Di dalam pembahasan ini terdapat juga hadits serupa yang diriwayatkan dari jalan Abu Hurairah, Anas bin Malik, An Nu’man bin Basyir, Thariq bin Asyim Al Asyja’i dan Mu’adz bin Jabal. Semoga Allah meridhai mereka semua).

Oleh sebab itulah maka sesungguhnya pendapat yang benar ialah yang menyatakan bahwa kewajiban pertama yang ditanggung oleh setiap hamba adalah bersaksi laa ilaaha illallah, sehingga tauhid itulah kewajiban yang pertama. Bahkan dia juga menjadi kewajiban terakhir yang harus ditanggung. Hal ini sebagaimana tercantum dalam sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang perkataan terakhirnya laa ilaaha illallah pasti masuk surga” (hadits riwayat Abu Dawud (3116) Ahmad (5/233,247) Al Haakim (1/351,500) dari hadits Mu’adz bin Jabal. Al Haakim menilainya shahih dan Adz Dzahabi menyetujuinya. Al Albani menilainya hasan di dalam Irwa’ul Ghalil (3/150)). (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, hal. 35)

Makna dan pembagian tauhid
Secara bahasa tauhid bermakna penunggalan. Tauhid hanya akan bisa terwujud dengan menggabungkan dua hal : nafi (penolakan) dan itsbat (penetapan). Apabila hanya nafi saja belum bisa terwujud penunggalan/tauhid. Seperti contohnya apabila dikatakan, “Tidak ada orang yang pandai”. Begitu pula apabila hanya itsbat, seperti contohnya “Si Budi pandai”. Karena dalam kalimat ini masih terbuka kemungkinan ada orang lain yang juga pandai. Maka keduanya harus digabungkan. Sehingga kita katakan, “Tidak ada yang pandai kecuali Si Budi”. Dengan penggabungan inilah baru terwujud tauhid/penunggalan. Sehingga jadilah si Budi satu-satunya orang yang pandai.

Sedangkan menurut istilah syar’i tauhid artinya mengesakan Allah dalam hal-hal yang menjadi kekhususan Allah. Maka mentauhidkan Allah juga harus menggabungkan nafi dan itsbat. Yaitu dengan menetapkan kekhususan yang hanya menjadi hak Allah dan menolaknya dimiliki oleh selain Allah. Kekhususan Allah meliputi 3 hal yaitu : rububiyah, uluhiyah dan asma’ wa shifat. Berdasarkan inilah para ulama meneliti dalil-dalil Al Qur’an dan As Sunnah dan menyimpulkan tauhid terbagi menjadi tiga. Tiga macam tauhid tersebut adalah
1. Tauhid rububiyah, yaitu mengesakan Allah dalam hal perbuatan-perbuatan-Nya. Seperti kita meyakini Allah sebagai satu-satunya pencipta, pemberi rizki, yang menghidupkan, yang mematikan dan lain sebagainya. Tauhid jenis ini telah diakui juga oleh kaum musyrik dahulu bahkan kebanyakan manusia di muka bumi ini niscaya juga mengakuinya. Hanya saja dengan tauhid ini seseorang belumlah bisa dikelompokkan ke dalam golongan kaum beriman. Oleh sebab itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap memerangi kaum musyrikin Quraisy padahal mereka itu mengakui Allah sebagai satu-satunya pencipta langit dan bumi. Maka ini berarti dakwah para Rasul bukanlah bertujuan untuk menekankan ajakan terhadap tauhid jenis ini. Akan tetapi prioritas dakwah mereka semua adalah untuk mengajak umat manusia supaya mentauhidkan Allah dalam tauhid jenis kedua
2. Tauhid uluhiyah yaitu mengesakan Allah dalam beribadah. Sehingga segala macam bentuk ibadah hanya boleh ditujukan kepada Allah. Tidak boleh ada persekutuan dalam beribadah. Karena Allah adalah satu-satunya yang menciptakan dan memelihara serta mengatur alam semesta ini maka hanya Allah jugalah yang boleh dan berhak untuk disembah. Adapun sesembahan selain Allah adalah sesembahan yang batil (lihat Al Hajj : 62). Inilah makna dari kalimat tauhid laa ilaaha illaallah. Sehingga tauhid uluhiyah bisa juga diartikan dengan mentauhidkan Allah dengan perbuatan hamba. Inilah dakwah para Rasul. Sebagaimana telah dijelaskan Allah dalam kitab-Nya, “Dan sungguh telah kami utus kepada setiap umat seorang Rasul yang mengajak ‘Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut’” (QS. An Nahl : 36) Sedangkan makna thaghut ialah segala sesembahan selain Allah, sebagaimana dijelaskan oleh Imam Malik rahimahullah. Dan tauhid ini pulalah tujuan penciptaan makhluk (lihat Adz Dzariyat : 56) dan juga tujuan diturunkannya kitab-kitab.
3. Tauhid asma wa shifat. Yaitu meyakini bahwa kesempurnaan nama dan sifat Allah tidak ada yang menandinginya. Allah memiliki nama-nama terbaik dan terindah yang tidak disamai oleh siapapun sebagaimana telah ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya, “Tiada sesuatu pun yang seperti-Nya dan Dia maha mendengar lagi maha melihat” (QS. Asy Syura : 11)

Terkadang para ulama menggabungkan jenis tauhid rububiyah dan asma’ wa shifat ke dalam satu istilah yaitu tauhid fil itsbat wal ma’rifah. Tauhid ini berbicara tentang penetapan hakikat keberadaan Allah, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya serta nama-nama-Nya. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan-Nya dalam hal itu semua.
Adapun tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah bisa juga disebut tauhid fi thalab wal qashd. Sehingga dengan begitu tauhid terbagi menjadi dua ; tauhid fil itsbat wal ma’rifah dan tauhid fi thalab wal qashd. Adapula ulama yang membagi tauhid menjadi empat yaitu : tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, tauhid asma’ wa shifat dan tauhid mutaba’ah (sebagaimana tercantum dalam kitab Al Qaul Al Mufid fi Adillati Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Yamani). Tauhid mutaba’ah adalah kandungan dari syahadat Muhammad Rasulullah. Artinya kita hanya menjadikan sosok Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu-satunya orang yang harus diikuti dan dipatuhi. Walaupun tauhid jenis keempat ini kata sebagian ulama lebih tepat untuk disebut sebagai tajriidul mutaaba’ah (pemurnian pengikutan). Wallaahu a’lam.

Catatan penting
Pembagian tauhid tersebut bukanlah perkara bid’ah yang diciptakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi –sebagaimana dituduhkan oleh sebagian orang- akan tetapi telah ada para ulama sebelumnya yang mendahuluinya. Syaikh Bakr Abu Zaid mengatakan di dalam kitabnya At Tahdziir min Mukhtasharaat Ash Shabuuni hal. 30, “Pembagian yang diperoleh dari hasil telaah ini telah disebutkan oleh para ulama salaf terdahulu sebagaimana diisyaratkan oleh Ibnu Mandah, Ibnu Jarir Ath Thabari dan ulama yang lainnya. Pembagian semacam ini juga diakui oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan Ibnul Qayyim. Demikian pula diakui oleh Az Zubaidi dalam Taajul ‘Aruus dan juga oleh guru kami Asy Syinqithi di dalam Adhwaa’ul bayaan pada bagian-bagian akhir, semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka semua. Ini merupakan hasil penelitian yang sempurna terhadap nash-nash (dalil-dalil). Pembagian semacam ini adalah sebuah perkara yang mesti dilakukan oleh pakar pada setiap bidang ilmu. Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh para ahli nahwu (cabang ilmu bahasa Arab) terhadap ucapan orang Arab sehingga menyimpulkan kata terbagi menjadi isim, fi’il dan huruf. Sedangkan orang Arab dulu belum mengenal pembagian ini. Kemudian tidak pernah kita dapatkan ada seorangpun yang mencela ahli nahwu atas tindakan tersebut. Maka demikian pula pembagian tauhid. Ia termasuk hasil penelitian yang sah sebagaimana pembagian-pembagian dalam cabang ilmu yang lainnya” (lihat Mukaddimah At Taudhihaat Al Kasyifaat ‘ala Kasyfi Syubuhaat, hal. 50)

Seluruh ayat Qur’an berbicara tentang tauhid !!
Imam Ibnu Abil ‘Izz Al Hanafi rahimahullah mengatakan, “Mayoritas isi surat-surat yang ada di dalam Al Qur’an mengandung kedua macam tauhid tersebut, bahkan seluruh surat yang ada di dalam Al Qur’an demikian. Hal itu disebabkan isi Al Qur’an terkadang berbicara tentang Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya. Inilah kandungan tauhid ilmi khabari (tauhid fil itsbat wal ma’rifah). Bisa juga berbicara tentang seruan supaya makhluk beribadah kepada-Nya saja, tidak boleh ada sekutu bagi-Nya serta mencampakkan segala sesembahan selain Allah. Inilah yang kandungan tauhid iradi thalabi (tauhid fi thalab wal qashd). Dan ia juga berisi perintah dan larangan serta pembebanan kewajiban untuk tunduk dan patuh kepada-Nya. Maka yang demikian itu adalah bagian dari hak tauhid dan penyempurnanya. Ia juga berisi informasi tentang kemuliaan yang dianugerahkan Allah kepada orang-orang yang bertauhid. Begitu pula Allah menyebutkan balasan yang mereka dapatkan sewaktu di dunia dan kelak di akhirat. Maka itulah balasan atas ketauhidannya. Dan ia juga berisi informasi tentang keadaan yang dialami oleh orang-orang musyrik, hukuman yang mereka terima di dunia serta siksaan yang mereka alami kelak di akhirat. Maka itulah hukuman bagi orang-orang yang membangkang dari hukum tauhid” (lihat Al Minhah Al Ilahiyah fi Tahdzib Syarh Ath Thahawiyah, hal. 36)

Berantas syirik !
Syaikh Al Albani rahimahullah mengatakan,
“Penolakan sekutu dari Allah ta’ala tidak sempurna kecuali dengan meniadakan tiga jenis syirik :

Pertama : menolak sekutu dalam hal rububiyah. Penyekutuan tersebut bisa berupa keyakinan yang menganggap adanya pencipta selain Allah subahanahu wa ta’ala. Hal ini sebagaimana keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang Majusi yang mengatakan bahwa keburukan itu diciptakan oleh selain Allah. Penyekutuan semacam ini alhamdulillah jumlahnya sedikit di dalam umat Islam ini. Meskipun ada keyakinan yang hampir mirip dengannya. Yaitu sebuah keyakinan yang dimiliki oleh orang-orang Mu’tazilah yang menyatakan : kejelekan adalah hasil ciptaan manusia. Terdapat sebuah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menyinggung tentang mereka ini. Beliau bersabda, “Qadariyah adalah Majusinya umat ini” (al hadits) Takhrij hadits ini ada pada beberapa tulisan kami. Saya mencantumkannya dalam Shahih jami’ush shaghir wa ziyaadatuhu, dengan nomor 4318.

Kedua : syirik dalam hal uluhiyah atau ubudiyah. Yaitu dengan adanya peribadahan yang ditujukan kepada selain Allah. Baik yang dituju itu seorang Nabi maupun orang shalih. Contohnya perbuatan meminta pertolongan untuk menghilangkan marabahaya yang mereka hadapi, atau memanggil-manggil mereka ketika tertimpa berbagai kesulitan dan semacamnya. Sungguh menyedihkan. Ternyata syirik seperti ini banyak sekali terjadi dalam tubuh umat ini. Sedangkan orang yang paling besar tanggungan dosanya adalah para masyayikh (guru-guru dan kyai) yang justru membela kesyirikan itu dengan menyebutnya sebagai tawassul. Mereka telah berani menamainya bukan sebagaimana hakikatnya !

Ketiga : syirik dalam hal sifat-sifat Allah. Hal itu bisa terjadi dengan memberikan sifat kepada sebagian makhluk dengan sebagian sifat kekhususan Allah ‘azza wa jalla, seperti contohnya sifat mengetahui hal yang ghaib. Jenis syirik seperti ini sungguh banyak tersebar di kalangan para penganut ajaran sufi serta orang-orang yang ikut terracuni pemikiran mereka. Salah satu contoh kesesatan mereka adalah perkataan salah seorang diantara mereka ialah ketika memuji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

Sesungguhnya dunia dan perbendaharaannya
bagian kedermawanan paduka

Diantara ilmu paduka
ilmu tentang lembaran takdir dan pena !

Berangkat dari keyakinan sesat inilah sebagian pendusta menyangka pernah melihat Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan terjaga. Kemudian mereka bertanya kepadanya tentang perkara yang tidak bisa mereka jangkau. Perkara tersebut terkait dengan isi batin orang-orang yang bergaul bersama mereka. Hal itu mereka lakukan dalam rangka mengatur sebagian urusan hidup orang-orang itu. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam saja semasa hidupnya tidak bisa mengetahui yang semacam ini, “Seandainya aku mengetahui masalah ghaib niscaya aku akan semakin memperbanyak kebaikan dan tidak akan tertimpa keburukan” Lalu bagaimana mungkin beliau bisa mengetahuinya setelah beliau wafat menghadap Rafiqul a’la (Allah ta’ala) ?!

Barangsiapa yang bisa membersihkan diri dari ketiga macam syirik ini dalam penghambaaan dan tauhidnya kepada Allah, dia mengesakan Dzat-Nya, beribadah hanya kepada-Nya dan mengesakan sifat-sifat-Nya, maka dialah muwahhid sejati. Dialah pemilik berbagai keutamaan khusus yang dimiliki oleh kaum yang bertauhid. Dan barangsiapa yang kehilangan salah satu bagian darinya maka kepadanyalah tertuju ancaman yang terdapat dalam firman Allah ta’ala, semacam, “Sungguh jika kamu berbuat syirik niscaya akan terhapus seluruh amalmu dan kamu benar-benar termasuk orang yang merugi”. Camkanlah perkara ini, sebab inilah perkara terpenting dalam masalah akidah. Sehingga sangat wajar apabila penulis rahimahullah memulai kitabnya dengan hal ini. Barangsiapa yang menginginkan penjelasan lebih rinci maka hendaklah dia menelaah penjelasan kitab ini, begitu pula kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Ibnu Abdil Wahhab dan ulama lain yang menempuh metode sebagaimana mereka dan mengikuti jalan pemahaman mereka. “Wahai Rabb kami, ampunilah kami dan juga saudara-saudara kami yang telah lebih dahulu beriman daripada kami” (Al ‘Aqidah Ath Thahawiyah, syarh wa ta’liq, hal 17-18)

Bagaimanakah merealisasikan tauhid ?
Syaikh Abdurrahman bin Hasan mengatakan bahwa makna merealisasikan tauhid ialah memurnikannya dari kotoran-kotoran syirik, bid’ah dan maksiat (lihat Ibthaalu Tandiid hal. 28) Sehingga untuk bisa merealisasikan tauhid seorang muslim harus :
1. Meninggalkan kesyirikan dalam semua macamnya : syirik akbar, syirik ashghar dan syirik khafi
2. Meninggalkan seluruh bentuk bid’ah
3. Meninggalkan seluruh bentuk maksiat (At Tamhiid, hal. 33)
Tauhid benar-benar akan terrealisasi pada diri seseorang apabila di dalam dirinya terkumpul tiga perkara, yaitu :
1. Ilmu, karena tidak mungkin seseorang mewujudkan sesuatu yang tidak diketahuinya. Allah berfirman yang artinya, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada sesembahan yang hak selain Allah” (QS. Muhammad : 19)
2. Keyakinan (I’tiqad). Karena orang yang mengetahui tauhid tanpa meyakininya adalah orang yang sombong. Maka orang seperti ini tidak akan bisa merealisasikan tauhid. Hal itu sebagaimana keadaan orang musyrikin Quraisy yang paham makna tauhid tapi justru menolaknya, sebagaimana dikisahkan oleh Allah di dalam ayat-Nya, “(mereka berkata) Apakah dia (Muhammad) akan menjadikan tuhan-tuhan yang banyak itu menjadi satu sesembahan saja. Sungguh, ini adalah perkara yang sangat mengherankan !” (QS. Shaad : 5)
3. Ketundukan terhadap aturan (Inqiyad). Orang yang telah mengetahui hakikat tauhid dan meyakininya akan tetapi tidak mau tunduk terhadap konsekuensinya bukanlah orang yang merealisasikan tauhid. (lihat Al Qaul Al Mufid ‘ala Kitab At Tauhid, jilid 1 hal. 55)

Renungan
Saudaraku, apabila engkau hendak menunaikan hak seseorang tentunya engkau akan melihat siapakah orang yang akan kau tunaikan haknya. Semakin mulia orang itu dalam pandanganmu niscaya haknya pun akan semakin terhormat dan agung di dalam hatimu. Jelas berbeda haknya guru dengan murid, hak orang tua berbeda dengan hak anak, sebagaimana berbedanya hak penguasa dengan rakyatnya. Lalu sekarang bagaimana apabila pemilik hak itu adalah penguasa dan pencipta seluruh alam semesta ? Apakah engkau akan menunda-nunda menunaikan haknya ? Apakah engkau akan melalaikannya, sementara setiap jengkal bumi dan langit berada di bawah kuasa dan pengawasan-Nya ? Akankah kita lalaikan dan nomor duakan dakwah tauhid ? Ataukah dengan sombong kita mengaku telah paham dan pandai tentang tauhid. Subhaanallah, lihatlah Nabi shallallahu ‘laihi wa sallam. Berapa lama waktu yang beliau butuhkan untuk membina masyarakat Mekkah dalam hal tahuid ? Apakah hanya dengan sekali atau dua kali daurah, atau kuliah agama satu semester ? Atau dengan pendidikan dalam waktu setahun atau dua tahun ? Lihatlah. Bukankah untuk membina mereka supaya memiliki akidah yang kokoh setidak-tidaknya beliau membutuhkan waktu 13 tahun. Tahun-tahun yang panjang dan penuh cobaan, ujian serta tekanan. Sampai-sampai sebagian kaum muslimin ketika itu harus berhijrah ke Ethiopia. Beliau bersihkan akidah paganisme dari kehidupan mereka dan beliau ajarkan akidah tauhid yang mulia. Tiga belas tahun bukanlah waktu yang singkat. Terlebih lagi beliau adalah sosok da’i paling hebat seantero dunia. Bukan itu saja, beliau bahkan seorang Nabi yang malaikat pun siap untuk menimpakan gunung demi membantu dakwahnya. Belum lagi keadaan masyarakatnya yang sebelumnya diliputi oleh pekatnya mendung kejahiliyahan. Lalu bagaimana mungkin kita yang miskin ilmu ini merasa lebih pintar dan lebih piawai dalam berdakwah dibandingkan beliau ? Wallahul musta’aan, tauhid awwalan yaa du’aatal Islaam !!

0 komentar:

Posting Komentar