Jalan ke Surga dan ke Neraka
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, keluarga, para sahabat dan seluruh pengikutnya yang setia. Amma ba’du. Surga dan neraka adalah dua makhluk Allah ta’ala. Sebagai seorang muslim kita harus mengimaninya. Kita yakin bahwasanya surga dan neraka itu ada dan tidak akan pernah binasa. Setiap insan yang beriman tentu ingin menikmati keindahan surga dan takut terjerumus dalam siksa neraka. Oleh sebab itulah sudah seyogyanya kita kenali lebih dekat apa itu surga dan neraka dan bagaimanakah cara agar kita bisa masuk ke dalam surga dan terhindar dari siksa neraka.
Keberadaan Surga
Adapun kata Jannah atau surga secara bahasa artinya taman. Sedangkan maknanya yang dimaksudkan dalam pembicaraan syari’at adalah sebuah tempat tinggal yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang membela agama-Nya yaitu orang-orang yang bertakwa. Di dalam surga itu terdapat kenikmatan yang tiada tara. Sebuah kenikmatan yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah terdengar oleh telinga dan belum pernah terbetik di dalam hati umat manusia. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Maka tidaklah ada jiwa yang mengetahui balasan yang disembunyikan pengetahuannya terhadap mereka, yaitu keindahan yang menyejukkan mata sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan” (QS. As Sajdah : 17)
Surga sekarang sudah ada. Dalil-dalil yang menunjukkan bahwa surga sudah ada sangat banyak jumlahnya. Beberapa dalil di antaranya adalah sebagai berikut :
Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ia (surga) telah disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran : 133) Juga firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan Muhammad sungguh telah pernah melihatnya (malaikat Jibril) di kesempatan lainnya yaitu tatkala berada di sidratul muntaha, yang di sisinya terdapat surga yang akan ditinggali” (QS. An Najm : 13-15) Itu dalil-dalil dari Al Qur’an. Adapun dalil dari Al Hadits ialah : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sungguh aku telah menyaksikan dari tempatku ini segala sesuatu yang dijanjikan untuk kalian. Sampai-sampai aku bisa melihat diriku sendiri hendak memetik dedaunan yang ada di surga. Tatkala kalian melihatku maka akupun maju” (HR. Muslim) Beliau juga bersabda, “Seandainya kalian melihat apa yang aku lihat, niscaya kalian akan lebih banyak menangis (daripada tertawa)…, aku melihat surga dan neraka” (HR. Muslim)
Keberadaan Neraka
Sedangkan An Naar atau neraka secara bahasa artinya api. Adapun yang dimaksudkan dengannya dalam pembicaraan syari’at ialah tempat tinggal yang disediakan Allah ta’ala bagi orang-orang yang memusuhi aturan-Nya. Di dalam neraka itu terdapat siksaan yang tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia dan hukuman berat yang tidak bisa digambarkan. Neraka itu sudah ada sekarang. Beberapa dalil yang menunjukkan hal itu adalah : Firman Allah ta’ala yang artinya, “Ia (neraka) telah dipersiapkan untuk orang-orang kafir” (QS. Al Baqarah : 24) Adapun dalil hadits ialah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya salah seorang di antara kalian jika meninggal maka akan ditampakkan kepadanya tempat duduknya (di surga atau di neraka) pada waktu pagi dan petang. Apabila dia termasuk orang yang diperkenankan masuk surga maka dia termasuk penghuni surga. Dan apabila ia adalah orang yang berhak masuk ke dalam neraka maka dia termasuk penghuni neraka. Dikatakan kepada mayit itu, “Inilah tempat dudukmu (engkau akan melihatnya) sampai Allah membangkitkan dirimu pada hari kiamat nanti” (Muttafaq ‘alaih) Juga hadits Nabi, “Sungguh aku telah melihat api neraka itu saling melahap satu sama lain, dan ketika kalian memergoki aku maka akupun mundur” (HR. Muslim) Beliau juga pernah bersabda, “Aku lihat neraka. Belum pernah kusaksikan sebuah pemandangan yang lebih mengerikan daripada hari itu” (Muttafaq ‘alaih) (disadur dari Al Is’aad fii Syarhi Lum’atil I’tiqaad karya Syaikh Abu Musa Abdurrazzaaq bin Musa Ath Thubni Al Jazaa’iri, hal. 64-65)
Orang-orang yang akan masuk surga
Pertama, orang yang bertauhid :
Dari ‘Ubadah bin Shamit, beliau mengatakan : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya dan bersaksi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya dan bersaksi bahwa Isa adalah hamba Allah dan utusan-Nya serta terjadi dengan kalimat yang diberikan-Nya kepada Maryam dan Isa adalah ruh ciptaan-Nya, dan dia juga bersaksi bahwa surga itu benar, neraka juga benar maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga seperti apapun keadaan amalnya” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kedua, orang yang mentaati Nabi :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Maka para sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya dia masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah orang yang enggan.” (HR. Bukhari)
Ketiga, orang yang beriman :
Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kelak penduduk surga masuk surga, dan penduduk neraka masuk neraka, kemudian Allah Ta’ala berfirman, “Keluarkanlah (dari dalam neraka) orang-orang yang di dalam hatinya masih memiliki keimanan sebesar biji sawi” maka merekapun dikeluarkan darinya dalam keadaan tubuhnya telah (hangus) menghitam, lalu mereka dicelupkan ke dalam sungai al haya atau al hayat (kehidupan), Malik (perawi hadits) ragu-ragu. Maka mereka kembali tumbuh memulih sebagaimana keadaan biji yang sedang tumbuh di tepi aliran air, bukankah kau lihat ia tumbuh dalam keadaan berwarna kuning dan segar”. Wuhaib berkata : Amr menceritakan kepadaku (bahwa Nabi mengatakan) al hayat, dia juga berkata : (walaupun) kebaikan itu sekecil biji sawi (HR. Bukhari)
Dari Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kelak akan dikeluarkan dari neraka seseorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat kebaikan sebesar biji gandum. Dan akan dikeluarkan dari neraka seseorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat kebaikan sebesar biji padi. Dan akan dikeluarkan dari neraka seseorang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dan di dalam hatinya terdapat kebaikan sebesar biji sawi”. Abu Abdillah berkata : Aban mengatakan : Qatadah menceritakan kepada kami : Anas menceritakan kepada kami dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan hadits serupa tapi kata kebaikan diganti dengan keimanan. (HR. Bukhari)
Keempat, orang yang istiqamah :
Dari Sabrah bin Abil Faakih, dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya syaithan duduk menghalangi anak Adam di berbagai jalan yang akan ditempuhnya, maka dia menghalanginya di tengah jalan keislaman dan menghasut anak Adam : Apakah kamu akan masuk Islam dan meninggalkan agamamu, agama bapak-bapakmu dan agama nenek moyangmu ? Beliau bersabda : Maka orang inipun menolak godaannya dan memeluk Islam. Kemudian syaithan duduk menghalanginya di jalan hijrah, lalu mengatakan : Apakah kamu akan berhijrah dan meninggalkan tanah kelahiran dan langit yang selama ini menaungimu ? Sesungguhnya orang yang berhijrah laksana kuda yang berada dalam kandang. Beliau bersabda : Maka orang inipun menolak godaannya dan berhijrah. Beliau melanjutkan : Kemudian dia duduk menghalanginya di jalan jihad dan mengatakan kepadanya : Jihad itu akan mengorbankan jiwa dan hartamu, kamu berperang dan akan terbunuh, sehingga isterimu akan dinikahi orang lain dan hartamu akan dibagi-bagi. Beliau bersabda : Maka orang ini pun tetap menolak godaannya dan ikut berjihad. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa di antara mereka yang melakukan hal itu lalu mati maka Allah pasti akan memasukkannya ke dalam surga” (Hadits riwayat Ahmad)
Kelima, orang yang bertakwa :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa tinggal di dalam taman-taman surga dan sungai-sungai di tempat yang disenangi di sisi Tuhan Yang berkuasa” (QS. Al Qamar : 54-55) Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan” (QS. Ali Imran : 133-134)
Keenam, orang yang bertaubat dengan sungguh-sungguh :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah (surga) yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah Kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. At Tahriim : 8)
Ketujuh, orang yang termasuk ibadurrahman :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan ibadurrahman (hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang) itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka (maksudnya orang-orang yang sembahyang tahajjud di malam hari semata-mata Karena Allah). Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab Jahannam dari kami, Sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal". Sesungguhnya Jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka kejahatan mereka itu diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, Maka Sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan Taubat yang sebenar-benarnya. Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya. Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat- ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang- orang yang tuli dan buta. Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (Kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka Itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang Tinggi (dalam syurga) Karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan Ucapan selamat di dalamnya, Mereka kekal di dalamnya. syurga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. Katakanlah (kepada orang-orang musyrik): "Tuhanku tidak mengindahkan kamu, melainkan kalau ada ibadatmu. (Tetapi bagaimana kamu beribadat kepada-Nya), padahal kamu sungguh Telah mendustakan-Nya? Karena itu kelak (azab) pasti (menimpamu)" (QS. Al Furqan : 63-77)
Kedelapan, orang yang bersabar :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “(yaitu) Syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum" (Keselamatan atas kalian dengan sebab kesabaran kalian). Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar Ra’d : 23-24)
Kesembilan, orang yang mengikuti pemahaman Sahabat :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (beriman dan membela Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan/baik, Allah telah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang amat besar” (QS. At Taubah : 100)
Kesepuluh, orang yang beramal shalih :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kerjakanlah amal dengan sebaik mungkin dan usahakan supaya amalmu sebenar mungkin. Ketahuilah, sesungguhnya tidak ada seorang pun di antara kalian yang bisa selamat semata-mata karena amalnya.” Para sahabat pun bertanya, “Apakah anda juga tidak wahai Rasulullah ?”. Beliau menjawab, “Dan aku juga tidak bisa. Hanya saja Allah telah menganugerahkan kepadaku rahmat dan keutamaan dari-Nya” (HR. Muslim) Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang beramal shalih, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia dalam keadaan beriman, maka niscaya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan pasti Kami akan memberikan balasan pahala untuk mereka dengan lebih baik daripada amal yang mereka kerjakan” (QS. An Nahl : 97)
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal shalih, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang sungai-sungai mengalir di dalamnya. setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan, "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang Suci dan mereka kekal di dalamnya” (QS. Al Baqarah : 25)
Kesebelas, orang yang akhir ucapan hidupnya laa ilaaha illallaah :
Dari Mu’adz bin Jabal bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang perkataan terakhirnya laa ilaaha illallah pasti masuk surga” (hadits riwayat Abu Dawud, Ahmad, Al Haakim. Al Haakim menilainya shahih dan Adz Dzahabi menyetujuinya. Al Albani menilainya hasan di dalam Irwa’ul Ghalil (3/150))
Keduabelas, orang yang berakhlak mulia :
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk surga? Beliau menjawab : “Takwa kepada Allah dan akhlaq mulia”. Beliau juga ditanya tentang sebab paling banyak yang mengakibatkan orang masuk neraka, maka beliau menjawab, “Mulut dan kemaluan” (Hadits riwayat Tirmidzi, dia berkata : ‘Hadits hasan shahih’)
Ketigabelas, orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih memprioritaskan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka itulah tempat tinggalnya. Adapun orang yang merasa takut terhadap kedudukan Rabbnya dan menahan dirinya dari menuruti hawa nafsu, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS. An Naazi’aat : 37-41)
Keempatbelas, isteri shalihah :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika seorang isteri rajin mengerjakan shalat lima waktu dan berpuasa pada bulannya serta mentaati suaminya maka dia boleh masuk surga dari pintu manapun yang ia suka.” (HR. Ibnu Hiban, dll dishahihkan oleh Al Albani dalam Shahihul Jami’ 661)
Kelimabelas, orang tua yang sabar ketika ditinggal mati anaknya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ada seorang anak dari seorang hamba maka Allah bertanya kepada malaikat, “Kalian telah mencabut nyawa anak dari hamba-Ku ini ?” Mereka menjawab, “Iya.” Allah berkata, “Kalian telah mencabut buah hati kesayangannya.” Mereka berkata, “Benar” Lalu Allah bertanya, “Lalu apakah yang diucapkan oleh hamba-Ku itu ?” Mereka menjawab, “Dia memuji-Mu dan beristirja’ (mengucapkan inna lillaahi dst)” Maka Allah pun memerintahkan, “Bangunkanlah untuk hamba-Ku ini sebuah rumah di surga dan berinama dengan Baitul Hamd (graha sanjungan).” (HR. Ahmad, dll dihasankan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1408) Allah juga berfirman dalam hadits qudsi, “Tidaklah ada balasan bagi hamba-Ku yang tinggal mati oleh anak kesayangannya kemudian dia bisa bersabar dan mengharap pahala melainkan surga.” (HR. Bukhari)
Keenambelas, orang yang memerdekakan budak :
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang memerdekakan seorang budak yang beriman maka Allah akan membebaskan setiap anggota badannya dari neraka dengan anggota badan budaknya itu, bahkan sampai bebasnya kemaluannya dari siksa dengan sebab kemaluan budak yang dimerdekakannya.” (HR. Bukhari)
Orang-orang yang akan masuk neraka
Pertama, orang musyrik :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Al Masih mengatakan, ‘Wahai Bani Israil sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhan kalian. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan surga baginya, dan tempat tinggalnya adalah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zhalim itu” (QS. Al Maa’idah : 72)
Kedua, orang munafiq :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang munafiq berada di dalam kerak terbawah dari neraka dan kamu tidak akan pernah mendapatkan satu penolongpun bagi mereka” (QS. An Nisaa’ : 145)
Ketiga, orang kafir :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik maka mereka berada di dalam neraka jahannam kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS. Al Bayyinah : 6) Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Adapun orang-orang yang kafir serta mendustakan ayat-ayat Kami mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal berada di dalamnya” (QS. Al Baqarah : 39)
Keempat, orang yang durhaka (berbuat maksiat) kepada Rasul :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang durhaka terhadap Allah dan Rasul-Nya dan melanggar batas-batas-Nya niscaya dia akan dimasukkan ke dalam neraka kekal di dalamnya dan dia berhak menerima siksa yang menghinakan” (QS. An Nisaa’ : 14) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga kecuali yang enggan.” Maka para sahabat bertanya, “Siapakah yang enggan wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barangsiapa yang mentaatiku niscaya dia masuk surga, dan barangsiapa yang mendurhakaiku dialah orang yang enggan.” (HR. Bukhari)
Kelima, orang yang kufur nikmat :
Dari Ibnu ‘Abbaas, dia berkata : Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Diperlihatkan padaku neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah perempuan yang mereka itu ingkar”, ditanyakan kepada beliau : apakah ingkar terhadap Allah ? beliau bersabda, “Mereka ingkar kepada suaminya, dan mereka ingkari kebaikannya. (artinya) Seandainya engkau (suaminya) berbuat baik kepada salah seorang dari mereka pada suatu saat, kemudian (di waktu lain) dia melihat sesuatu (yang tidak disukainya) darimu maka dia akan berkata ‘Aku tidak pernah melihat kebaikanmu barang sedikitpun’.” (HR. Bukhari)
Keenam, orang yang membunuh saudaranya sesama muslim :
Dari Al Ahnaf bin Qais, dia berkata : Aku beranjak untuk membela lelaki ini, maka Abu Bakrah menemuiku. Dia berkata, ‘Hendak kemana kamu ?’ Aku jawab, ‘Aku mau membela lelaki ini’ Dia berkata, ‘Kembalilah, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Apabila ada dua orang muslim bertemu dengan menghunuskan pedang keduanya, maka orang yang membunuh dan yang dibunuh berada di neraka” maka aku (Abu Bakrah) katakan, ‘Wahai Rasulullah, (kalau) si pembunuh ini (memang pantas), lalu kenapa orang yang dibunuh (juga masuk neraka) ? beliau menjawab, “Karena sesungguhnya dia sangat berkeinginan membunuh sahabatnya itu.” (HR. Bukhari)
Ketujuh, orang yang beramal akhirat semata-mata untuk tujuan dunia :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akherat, kecuali neraka dan lenyaplah di akherat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Huud : 15-16)
Kedelapan, orang yang lebih mengutamakan dunia daripada akhirat :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Adapun orang yang melampaui batas dan lebih memprioritaskan kehidupan dunia, maka sesungguhnya neraka itulah tempat tinggalnya. Adapun orang yang merasa takut terhadap kedudukan Rabbnya dan menahan dirinya dari menuruti hawa nafsu, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya” (QS. An Naazi’aat : 37-41)
Kesembilan, orang yang mengajak kebaikan tapi tidak melakukannya :
Dari Usamah bin Zaid, dia berkata, “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pada hari kiamat nanti akan ada seseorang yang didatangkan kemudian dilemparkan ke dalam neraka. Isi perutnya terburai, sehingga ia berputar-putar sebagaimana berputarnya keledai yang menggerakkan penggilingan. Maka penduduk neraka pun berkumpul mengerumuninya. Mereka bertanya, “Wahai fulan, apakah yang terjadi pada dirimu? Bukankah dahulu engkau memerintahkan kami untuk berbuat kebaikan dan melarang kami dari kemungkaran?”. Dia menjawab, “Dahulu aku memerintahkan kalian berbuat baik akan tetapi aku sendiri tidak mengerjakannya. Dan aku melarang kemungkaran sedangkan aku sendiri justru melakukannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kesepuluh, orang yang lalai dan berpaling dari hidayah :
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, "Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Alloh) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat( tanda-tanda kekuasaan Alloh), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Alloh). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai." (Al A'rof : 179)
Kesebelas, orang yang meninggalkan shalat :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “(penduduk surga bertanya) Apakah yang menyebabkan kalian masuk ke dalam neraka ? Mereka menjawab, “Kami bukan termasuk orang yang shalat, kami tidak memberikan makan kepada orang miskin, dan kami pun memperolok agama bersama orang-orang yang memperoloknya, kami juga mendustakan hari kiamat, sampai datanglah kematian menjemput kami”, maka tidak lagi bermanfaat syafa’at dari para pemberi syafa’at.” (QS. Al Mudatstsir : 32-38)
Keduabelas, orang yang tidak mau menunaikan zakat :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang menimbun emas dan perak serta tidak mau menginfakkannya di jalan Allah maka berilah kabar gembira untuk mereka dengan siksa yang sangat pedih pada hari itu emas dan perak itu akan dipanaskan dalam neraka Jahannam lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka lalu dikatakan kepada mereka, “Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu.” (QS. At Taubah : 34-35)
Ketigabelas, anak yang durhaka kepada orang tuanya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada orang tuanya, begitu juga orang yang mengungkit-ungkit pemberian, serta pecandu khamr.” (HR. Ahmad, dll. dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah 680, Shahihul Jami’ 7676)
Keempatbelas, orang pecandu khamr/miras :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang durhaka kepada orang tuanya, begitu juga orang yang mengungkit-ungkit pemberian, serta pecandu khamr.” (HR. Ahmad, dll. dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah 680, Shahihul Jami’ 7676)
Kelimabelas, orang yang memutus silaturahim :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan silatrahim.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keenambelas, orang yang berzina :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh;” (QS. Al Furqan : 68-70)
Ketujuhbelas, orang yang memakan riba :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada empat golongan manusia yang menjadi hak Allah untuk tidak memasukkan mereka ke dalam surga dan Allah tidak akan memberikan kelezatannya kepada mereka, yaitu : pecandu khamr, pemakan riba, pemakan harta anak yatim tanpa hak dan anak yang durhaka kepada kedua orangtuanya, kecuali apabila mereka bertaubat.” (HR. Bukhari)
Kedelapanbelas, orang yang memakan harta anak yatim dengan zhalim :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak-anak yatim secara zhalim sesungguhnya mereka itu memasukkan ke dalam perut mereka api neraka, dan kelak mereka akan masuk ke dalam neraka.” (QS. An Nisaa’ : 10)
Kesembilanbelas, orang yang berdusta atas nama Nabi :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim) Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang berduata atas namaku maka akan dibangunkan baginya sebuah rumah di dalam Jahannam.” (HR. Ahmad, dll)
Keduapuluh, orang yang lari dari medan perang :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barangsiapa yang berpaling mundur pada hari itu (bertemunya dua pasukan) kecuali berbelok demi siasat perang atau untuk menggabungkan diri dengan pasukan lain maka sesungguhnya dia telah kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya.” (QS. Al Anfal : 16)
Keduapuluhsatu, pemimpin yang menipu orang-orang yang dipimpinnya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Pemimpin mana saja yang menipu rakyatnya maka dia di neraka.” (HR. Ahmad dan Muslim, Ash Shahihah 1754) Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang diserahi kekuasaan oleh Allah untuk mengurus rakyatnya kemudian dia tidak menjaga mereka dengan sikap penuh nasihat melainkan Allah haramkan surga baginya.” (HR. Bukhari)
Keduapuluhdua, orang yang sombong :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya menyimpan sebesar biji sawi kesombongan.” (HR. Muslim) Allah ta’ala berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Keagungan adalah busana kebesaran-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku, maka barangsiapa yang mencabutnya dari-Ku Aku akan lemparkan dia ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Keduapuluhtiga, lelaki yang memakai celana di bawah mata kaki (isbal) :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Kain yang berada di bawah kedua mata kaki maka tempatnya di neraka.” (HR. Bukhari)
Keduapuluhempat, orang yang bersaksi palsu :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang telah aku putuskan mendapatkan harta saudaranya namun ternyata tanpa hak (karena didasarkan kesaksian palsu) maka janganlah dia mengambil harta itu. Karena sesungguhnya aku telah memotongkan baginya sebuah potongan dari api neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keduapuluhlima, orang yang tidak cemburu terhadap kemaksiatan keluarganya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang Allah haramkan surga bagi mereka : pecandu khamr, anak yang durhaka kepada dua orang tuanya dan dayyuts yaitu orang yang membiarkan terjadinya kemaksiatan di tengah-tengah keluarganya.” (HR. Ahmad, dll dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’ 3052)
Keduapuluhenam, orang yang menzhalimi sesama :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapakah yang dimaksud dengan orang yang bangkrut itu ?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, orang yang bangkrut menurut kami adalah yang tidak punya uang dan harta kekayaan.” Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya orang yang bangkrut di antara umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan pahala shalat, zakat, puasa dan haji namun di dunia dia telah mencela orang, mengambil harta orang, menjatuhkan kehormatan orang dan memukul orang dan juga menumpahkan darah orang, maka diambillah kebaikan-kebaikannya untuk diberikan kepada orang yang dizhaliminya itu satu demi satu. Sehingga apabila kebaikannya sudah habis maka sebelum semua tanggungannya terbayar maka diambillah dosa-dosa orang yang dizhaliminya lalu dibebankan kepadanya kemudian dia pun dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Ahmad, dll)
Keduapuluhtujuh, orang yang menelan harta haram :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang tidak peduli dari manakah asal usul harta yang diperolehnya (halal atau haram) maka Allah juga tidak peduli dari pintu manapun Dia akan memasukkannya ke neraka.” (HR. Thabrani) Beliau juga bersabda, “Tidak akan masuk surga tubuh yang diberi makan dengan sesuatu yang haram.” (HR. Ahmad, dll)
Keduapuluhdelapan, orang yang bunuh diri :
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha menyayangimu. Barangsiapa yang melakukannya dengan penuh permusuhan dan kezhaliman maka kelak Kami akan memasukkannya ke dalam neraka. Dan hal itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. An Nisaa’ : 29-30) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang membunuh dirinya dengan sebuah besi maka besi itu akan berada di tangannya dan akan ditusukkannya ke perutnya kelak di neraka Jahannam, dia kekal selama-lamanya di sana. Dan barangsiapa yang menjatuhkan diri dari atas bukit untuk bunuh diri maka dia telah menjatuhkan dirinya ke dalam neraka Jahannam, dia kekal berada di sana selama-lamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keduapuluhsembilan, orang yang senang berdusta :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya kejujuran menunjukkan kepada kebaikan. Dan kebaikan menunjukkan kepada surga. Dan senantiasa seseorang bersikap jujur sehingga menjadi kebiasaannya sampai dia ditulis di sisi Allah sebagai orang yang shidiq. Dan sesungguhnya kedustaan menunjukkan kepada dosa. Dan dosa menunjukkan kepada neraka. Dan senantiasa seseorang bersikap dusta sehingga terbiasa dengannya sampai dia ditulis di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketigapuluh, hakim yang culas :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hakim itu ada tiga macam : seorang hakim di surga dan dua orang hakim di neraka. Seorang hakim yang mengetahui kebenaran kemudian memutuskan dengannya maka dia di surga. Seorang hakim yang mengetahui kebenaran namun dia sengaja berlaku lalim maka dia di neraka. Sedangkan seorang hakim yang memutuskan perkara tanpa ilmu maka dia di neraka.” Para sahabat bertanya, “Apakah dosanya hakim yang bodoh itu ?” Dosanya adalah seharusnya dia tidak menjadi hakim kecuali bila dia berilmu.” (HR. Abu Dawud, dll. dishahihkan Al Albani dalam Al Irwa’ no. 2614 dan Shahihul Jami’ no. 4446 dan 4447)
Ketigapuluhsatu, perempuan yang berpakaian tapi telanjang :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua kelompok penduduk neraka yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Suatu kaum yang membawa cemeti seperti ekor-ekor sapi yang mereka pakai untuk memukuli orang-orang. Dan juga para wanita yang berpakaian tetapi telanjang. Rambut mereka seperti punuk-punuk onta yang mencondongkan (hawa nafsu lelaki). Mereka itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya. Padahal sesungguhnya baunya itu bisa tercium sejak dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim) Beliau juga bersabda, “Aku pernah melihat neraka dan aku lihat kebanyakan penghuninya adalah kaum perempuan.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketigapuluhdua, orang yang riya’ :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan kemudian ditampakkan kepadanya nikmat-nikmat yang diberikan kepadanya maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang kamu lakukan dengannya ?” Dia menjawab, “Aku berperang untuk-Mu sampai aku mati syahid.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang karena ingin disebut sebagai pemberani. Dan itu sudah kau dapatkan.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian ada seseorang yang telah mendapatkan anugerah kelapangan harta. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang diperolehnya. Maka dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kamu perbuat dengannya ?” Dia menjawab, “Tidaklah aku tinggalkan suatu kesempatan untuk menginfakkan harta di jalan-Mu kecuali aku telah infakkan hartaku untuk-Mu.” Allah berfirman, “Engkau dusta, sebenarnya engkau lakukan itu demi mendapatkan julukan orang yang dermawan, dan engkau sudah memperolehnya.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya dan juga membaca Al Qur’an. Dia didatangkan kemudian ditunjukkan kepadanya nikmat-nikmat yang sudah didapatkannya dan dia pun mengakuinya. Allah bertanya, “Apakah yang sudah kau perbuat dengannya ?” Maka dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengajarkannya dan membaca Al Qur’an karena-Mu.” Allah berfirman, ”Engkau dusta, sebenarnya engkau menuntut ilmu supaya disebut orang alim. Engkau membaca Qur’an supaya disebut sebagai Qari’.” Kemudian Allah memerintahkan malaikat untuk menyeretnya tertelungkup di atas wajahnya hingga dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)
Ketigapuluhtiga, orang yang mengundat-undat pemberian :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga : anak yang durhaka kepada kedua orangtuanya, pecandu khamr dan pengundat-undat pemberian.” (HR. An Nasa’i)
Ketigapuluhempat, orang yang suka mengadudomba :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang suka mengadudomba.” (HR. Bukhari dan Muslim) Beliau juga bersabda, “Barangsiapa yang berlidah ganda di dunia maka sesungguhnya Allah akan menjadikan dua lidah baginya dari bahan api neraka pada hari kiamat.” (HR. Bukhari dll)
Ketigapuluhlima, tukang gambar makhluk bernyawa :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Setiap tukang gambar tempatnya di neraka. Akan ditiupkan nyawa pada setiap gambar yang dibuatnya yang akan menyiksanya di dalam neraka Jahannam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketigapuluhenam, orang yang suka mengganggu tetangganya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga orang yang tetangganya tidak bisa merasa tentram akibat gangguan-gangguan (kejelekan)nya.” (HR. Muslim) Ada seorang yang berkata kepada Nabi, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya si fulanah itu rajin shalat di malam hari dan puasa di siang hari tetapi dia juga menyakiti tetangganya dengan ucapannya.” Maka beliau bersabda, “Tidak ada kebaikan padanya, dia masuk neraka.” (HR. Ahmad, dll dishahihkan Al Albani dalam Ash Shahihah no. 190)
Ketigapuluhtujuh, orang yang memalsukan nasab :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendakwakan orang lain sebagai bapaknya padahal sebenarnya bukan sementara dia mengetahui bahwa ia bukan bapaknya maka surga haram baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketigapuluhdelapan, orang yang mengaku-aku sesuatu padahal bukan miliknya :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang mendakwakan sesuatu padahal bukan miliknya maka bukan termasuk golongan pengikut kami dan hendaknya dia mengambil tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Ketigapuluhsembilan, orang yang melakukan makar dan penipuan :
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang berbuat makar dan menipu maka di neraka.” (Ash Shahihah no. 1057) Beliau juga bersabda,”Penduduk neraka itu ada lima”, kemudian beliau menyebutkannya, di antaranya adalah, “Seseorang yang tidak kenal waktu pagi mapun petang melainkan selalu menipumu dalam hal keluarga maupun harta bendamu.” (HR. Muslim)
Persaksian tentang orang yang masuk surga dan neraka
Persaksian untuk menyatakan bahwa seseorang termasuk penghuni surga ada dua macam : Persaksian umum dan persaksian khusus. Adapun yang dimaksud dengan persaksian umum ialah kita nyatakan secara umum bahwasanya semua orang yang beriman pasti masuk surga tanpa menyebutkan individu-individunya. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh maka balasan bagi mereka adalah tinggal di dalam surga-surga Firdaus.” (QS. Al Kahfi : 107) Adapun yang dimaksud dengan persaksian secara khusus adalah kita mempersaksikan bahwasanya individu-individu tertentu sebagai penghuni surga. Dan hal ini hanya bisa dilakukan jika ada dalilnya dari Al Kitab dan As Sunnah. Oleh karena itulah barangsiapa yang sudah dinyatakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa dia termasuk penghuni surga maka kita pun ikut mempersaksikannya. Seperti contohnya : sepuluh orang sahabat yang sudah dijamin masuk surga yaitu : Empat orang khalifah, Sa’id bin Zaid, Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdurrahman bin ‘Auf, Thalhah, Zubeir dan Abu ‘Ubaidah radhiyallahu ‘anhum. Begitu pula sahabat Tsabit bin Qais bin Syamaas, ‘Ukkasyah bin Mihshan dan lain-lain.
Demikian pula dalam hal mempersaksikan orang termasuk penghuni neraka terbagi menjadi dua : persaksian secara umum dan secara khusus. Persaksian secara umum kita katakan bahwasanya semua orang kafir pasti berada di neraka. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Kami maka mereka pasti akan Kami masukkan ke dalam neraka.” (QS. An Nisaa’ : 56) Adapun persaksian secara khusus ialah kita mempersaksiakn bahwa individu-individu tertentu termasuk penghuni neraka, dan hal ini juga tidak bisa dilakukan tanpa adanya dalil dari Al Kitab maupun As Sunnah. Seperti contohnya : Abu Lahab dan isterinya, Abu Thalib, Amr bin Luhaiy Al Khuza’i, dll. (disadur dari Mudzakkirah ‘alal ‘Aqidah Wasithiyah, hal. 84-86) Dengan demikian kita tidak boleh mempersaksikan individu-individu tertentu termasuk penghuni surga atau neraka kecuali apabila ada dalilnya secara tegas dari Al Kitab maupun As Sunnah. Termasuk juga dalam hal ini mengatakan dengan pasti bahwasanya si fulan Syahid dan ungkapan-ungkapan serupa. Adapun mengatakan, “si Fulan syahid insya Allah” maka yang demikian ini diperbolehkan.
Bahaya mengkafirkan ahlul kiblat tanpa hak
Ahlul kiblat adalah kaum muslimin yang menunaikan shalat ke arah kiblat. Mereka tidak boleh dikafirkan dengan sebab dosa-dosa besar (di bawah syirik) yang mereka kerjakan, dan mereka juga tidak keluar dari Islam karenanya dan tidak akan kekal berada di dalam neraka. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala yang artinya, “Dan apabila ada dua kelompok dari kalangan kaum beriman saling memerangi maka damaikanlah antara keduanya.” (QS. Al Hujuraat : 9) sampai firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orangyang beriman itu bersaudara.” (QS. Al Hujuraat : 10) Di dalam ayat tersebut Allah masih mengakui adanya keterikatan persaudaraan keimanan antara dua golongan yang saling memerangi padahal memerangi/membunuh itu termasuk dosa yang sangat besar. Kalaulah perbuatan itu menyebabkannya keluar dari Islam maka tentunya persaudaraan keimanan sudah tidak ada lagi di antara mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda bahwa Allah ta’ala befirman dalam hadits Qudsi, “Barangsiapa yang di dalam hatinya masih terdapat keimanan walaupun hanya sebesar biji sawi maka keluarkanlah dia.” yakni dari neraka (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam persoalan pengkafiran ini ada dua golongan yang menyimpang yaitu : Khawarij dan Mu’tazilah. Orang-orang Khawarij mengatakan bahwa pelaku dosa-dosa besar kafir dan kekal di dalam neraka. Sedangkan orang-orang Mu’tazilah mengatakan bahwa pelaku dosa-dosa besar itu keluar dari iman tetapi bukan mukmin dan juga bukan kafir, dia berada di dalam salah satu di antara dua kedudukan (manzilah baina manzilatain) tetapi nanti di akhirat di juga akhirnya kekal di neraka. Kedua kelompok ini jelas-jelas menyimpang karena mereka telah melakukan dua buah pelanggaran besar, yaitu :
1. Menyelisihi dalil-dalil dari Al Kitab dan As Sunnah, dan
2. Menyelisihi ijma’/konsensus kaum Salaf (Sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in)
(disadur dari Syarh Lum’atul I’tiqad Syaikh ‘Utsaimin hal. 149)
Allahumma inni as’alukal jannah wa astajiiru bika minan naar,
Wallaahu a’lam bish shawaab.
Rujukan : Al Kaba’ir karya Imam Adz Dzahabi rahimahullah, dan lain-lain
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar