Syahadat

Dua Persaksian

Syahadatain, dua buah persaksian yang diikrarkan oleh setiap muslim. Syahadatain memiliki kedudukan yang sangat agung di dalam ajaran Islam. Barangsiapa yang mengucapkan dua kalimat ini maka akan terjaga darah dan hartanya. Barangsiapa konsisten di atas dua kalimat ini maka surga menantikan kedatangannya. Barangsiapa yang tetap tegar berpegang dengan keduanya di tengah derasnya gelombang fitnah maka niscaya dia akan selamat dari kesesatan. Barangsiapa yang meyakininya hingga ajal tiba maka nikmat kubur akan menyambutnya. Saudaraku, berapa banyak kita mengucapkan kalimat ini namun sempatkah kita merenungkan dan menghayati kandungannya. Kita bukanlah burung beo, kita adalah manusia yang telah mendapatkan anugerah akal dan pikiran…..

PERSAKSIAN PERTAMA

Seorang muslim bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. laa ilaaha illallaah. Dalilnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Ibnu 'Umar radhiyallahu'anhuma,"Islam dibangun di atas lima perkara : syahadat laa ilaaha illallaah…" (HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya
Makna dari laa ilaaha illallaah adalah laa ma'buuda haqqun illallaah : tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah. Dalilnya adalah firman Allah ta'ala yang artinya,"Demikianlah kuasa Allah, karena sesungguhnya Allah adalah Al-Haq sedangkan segala sesembahan yang mereka seru adalah Al-Bathil." (QS. )

Rukunnya
Syahadat ini terdiri dari dua rukun : nafi dan itsbat. Nafi artinya penolakan. Sedangkan Itsbat artinya penetapan. Dengan rukun yang pertama kita menolak segala sesembahan yang ada. Dengan rukun yang kedua kita menetapkan bahwa sesembahan yang benar hanya Allah semata.

Konsekuensinya
Seorang yang telah mengikrarkan syahadat ini maka dia harus beribadah kepada Allah semata dan mengingkari segala bentuk peribadahan kepada selain-Nya. Seorang yang mengikrarkan syahadat ini maka dia harus mencintai tauhid dan membenci kesyirikan. Seorang yang mengikrarkan syahadat ini maka dia harus mencintai kaum muslimin, mukminin dan muwahhidin serta membenci kaum kafirin, musyrikin dan munafiqin.

Syarat-syaratnya
Syahadat laa ilaaha illallaah adalah kunci surga. Akan tetapi setiap kunci tentu memiliki gigi-giginya. Barangsiapa yang memiliki kunci tapi tidak ada gigi-giginya maka tidak akan dibukakan pintu surga baginya. Para ulama menjelaskan ada delapan syarat laa ilaaha illallaah yaitu :
1. Ilmu : memahami makna laa ilaaha illallaah dengan benar yaitu tidak ada sesembahan yang benar selain Allah, tidak bodoh tentangnya
2. Yaqin : meyakini kandungan makna tersebut tanpa menyimpan rasa ragu
3. Ikhlas : menujukan ibadah hanya kepada Allah dan tidak mencampurinya dengan syirik
4. Shidq : jujur dalam mengucapkannya bukan dusta atau pura-pura
5. Mahabbah : mencintai kandungan maknanya serta membenci hal-hal yang bertentangan dengan laa ilaaha illallaah
6. Inqiyad : patuh kepada konsekuensi syahadat ini dan tidak membangkang kepada syari'at Allah
7. Qabul : menerima konsekuensi syahadat ini dan tidak menolaknya
8. Kufr : Mengingkari segala sesembahan selain Allah (thaghut)

Pembatal-pembatalnya
1. Melakukan syirik akbar
2. Mengangkat perantara dalam beribadah kepada Allah dalam rangka meminta syafaat atau berdoa kepadanya
3. Tidak meyakini kekafiran orang-orang musyrik, meragukan kekafiran mereka atau bahkan membenarkan agama mereka
4. Meyakini ada petunjuk atau hukum selain yang telah ditetapkan Nabi yang lebih sempurna atau lebih baik
5. Membenci ajaran Rasulullah meskipun dia melakukannya
6. Memperolok ajaran Rasulullah tentang pemberian pahala ataupun siksa atau ajaran beliau yang lainnya
7. Sihir, termasuk di dalamnya ilmu pelet dan semacamnya
8. Membantu orang musyrik dalam mengalahkan kaum muslimin
9. Meyakini ada sebagian orang yang tidak harus mengikuti ajaran Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam sebagaimana halnya Nabi Khidir yang tidak harus mengikuti syari'at Nabi Musa 'alahimas salam.

Salah paham tentang maknanya
Sebagian orang telah terjatuh dalam kekeliruan karena menafsirkan laa ilaaha illallaah dengan makna berikut ini :
1. Tidak ada pencipta selain Allah
2. Tidak ada robb selain Allah
3. Tidak ada yang ditaati selain Allah
4. Tidak ada hakim selain Allah
5. Tidak ada sesembahan selain Allah
6. Tidak ada pengatur alam selain Allah
7. Tidak ada penguasa alam selain Allah

Semua tafsiran ini adalah tafsiran yang keliru terhadap syahadat laa ilaaha illallaah. Letak kekeliruannya adalah bersumber pada pemaknaan ilaah yang salah. Karena makna ilaah dalam bahasa Arab adalah ma'buud yang artinya sesembahan, bukan pencipta, penguasa atau pengatur dan lain sebagainya. Sedangkan memaknai laa ilaaha illallaah dengan tidak ada sesembahan selain Allah juga salah karena dua alasan. Alasan yang pertama karena hal itu bertentangan dengan kenyataan. Kenyataan menunjukkan sesembahan itu banyak jumlahnya, meskipun diantara sekaian banyak sesembahan itu yang benar hanyalah satu. Alasan kedua adalah karena perkataan tidak ada sesembahan selain Allah aka melahirkan konsekuensi yang sangat keji yaitu menyatakan bahwa semua sesembahan itu adalah Allah, tidak ada yang meyakini hal ini kecuali orang yang berpaham wahdatul wujud.

PERSAKSIAN KEDUA

Seorang muslim bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wa asyhadu anna Muhammadar rasulullah. Dalilnya adalah sabda Rasulullah yang dibawakan oleh Ibnu 'Umar radhiyallahu'anhuma,"Islam dibangun di atas lima perkara : syahadat laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadar rasulullah…" (HR. Bukhari dan Muslim)

Maknanya
Makna dari kalimat ini adalah kita meyakini bahwa beliau adalah hamba pilihan Allah yang diutus oleh Allah untuk menyampaikan risalah-Nya kepada seluruh umat manusia. Oleh sebab itu kita tidak mengangkat seorangpun sebagai panutan sejati kecuali beliau shallallahu 'alaihi wa sallam. Atau dengan kata lain laa matbuu'a bihaqqin illa Rasulullah. Artinya tidak ada sosok yang diikuti dengan benar selain rasulullah. Adapun selain beliau maka apabila diikuti tanpa dalil maka hal itu adalah kebatilan.

Rukunnya
Syahadat ini terdiri dari dua rukun yaitu abdun dan rasulun. Abdun artinya hamba. Sedangkan rasul artinya utusan. Dengan menyatakan beliau sebagai abdun (hamba) maka kita tidak akan pernah mengangkat beliau melebihi posisinya sebagai hamba sehingga tidak layak untuk mendapatkan peribadahan barang sedikitpun. Dan dengan menyatakan beliau adalah rasul maka kita beribadah kepada Allah dengan tuntunannya, bukan dengan yang lainnya. Karena sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam dan seburuk-buruk urusan adalah bid'ah. Dan setiap bid'ah pasti sesat.


Konsekuensinya
Dengan menyatakan beliau sebagai utusan Allah maka ada enam konsekuensi yang harus dijalani oleh setiap muslim, yaitu :
1. Membenarkan beritanya
2. Melaksanakan perintahnya
3. Menjauhi larangannya
4. Beribadah hanya dengan syari'atnya bukan dengan bid'ah
5. Berhukum dengan hukumnya
6. Tidak mendahulukan ucapan orang lain di atas ucapannya

Pembatalnya
1. Mendustakan beritanya
2. Menentang perintah-perintahnya
3. Menentang larangan-larangannya
4. Melakukan bid'ah yang membuatnya kafir
5. Berhukum dengan selain hukumnya dengan keyakinan hukum itu lebih baik, sama baiknya atau boleh-boleh saja berhukum dengan selain hukumnya
6. Lebih mengutamakan ucapan orang lain dalam urusan agama daripada sabdanya

0 komentar:

Posting Komentar