Hari Naas dan Bulan Keramat
dalam Pandangan Islam
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji manusia siapakah diantara mereka yang paling baik amalnya. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabat beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat. Amma ba’du.
Saudaraku, semoga Allah merahmatimu, ketahuilah bahwasanya segala permasalahan pasti memiliki jalan keluarnya di dalam ajaran Islam. Karena Islam ini telah sempurna, diwahyukan oleh Allah Yang menguasai alam semesta kepada seluruh umat manusia melalui malaikat paling mulia yaitu Jibril kepada manusia yang paling mulia yaitu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, inilah Islam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah Aku sempurnakan bagimu agamamu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku atasmu, dan Aku telah ridha Islam sebagai agama bagimu” (Al Maa’idah : 3).
Namun sangat disayangkan, ada sebagian diantara kaum muslimin yang masih mencari pemecahan masalah di luar ajaran Islam, mereka pergi ke dukun, meminta-minta di kuburan, percaya pada ramalan-ramalan dan membuka-buka primbon demi mencari jalan keluar atas permasalahan yang dihadapinya, ini adalah kekeliruan yang nyata !! Tidakkah kita ingat firman Allah Ta’ala yang selalu kita baca di dalam shalat, “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan” (Al Fatihah). Jadi kepada siapa kita meminta tolong, kepada Allah !! Dan Allah telah menciptakan hukum sebab akibat yang berlaku di alam semesta ini dengan amat sempurna. Apabila seseorang lapar maka hendaknya dia makan supaya kenyang. Apabila seseorang ingin berharta maka hendaknya dia bekerja. Apabila seseorang ingin memiliki anak maka hendaknya dia menikah. Demikianlah diantara hukum-hukum sebab akibat yang sama-sama sudah kita mengerti. Dalam perkara lain pun berlaku hal itu, maka tidak boleh kita menempuh sebab-sebab sebagai jalan keluar dari masalah kecuali apabila memenuhi tiga syarat berikut ini :
1. Hanya mencari sebab yang diizinkan oleh agama, tidak boleh memakai sebab yang haram dan tidak masuk akal.
2. Hanya menggantungkan hati kepada Allah
3. Meyakini bahwa berhasil atau tidaknya hanya Allah yang menentukan
(lihat Al Qaul As Sadiid karya Syaikh As Sa’di rahimahullah, hal. 34-35).
Tidak boleh menganggap sial
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Thiyarah itu syirik, thiyarah itu syirik !!...” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dan dia (Tirmidzi) menilainya shahih). Thiyarah atau bertathayyur adalah menganggap sial karena melihat burung atau karena nama, lafazh, tempat, dan lain sebagainya. Syari’at melarang dari tathayyur dan mencela orang-orang yang bertathayyur (Al Qaul As Sadiid, hal. 88). Menganggap sial yang tidak diperbolehkan ialah apabila seseorang meneruskan atau tidak meneruskan sesuatu karena melihat atau mendengar atau mengetahui sesuatu (Fathul Majid, hal. 303-304), misalnya ada orang yang beranggapan tidak boleh menikah di bulan Suro (Muharram) karena itu adalah bulan keramat, atau menganggap akan bernasib sial apabila mendapat angka 13, dan lain sebagainya. Ini adalah perkara yang dilarang oleh agama dan tidak diterima oleh akal sehat, semoga Allah menyelamatkan kita darinya.
Allahumma la ya’ti bil hasanaat illa anta wa laa yadfa’us sayyi’aat illa anta wa laa haula wa laa quwwata illa bika (Ibnu Abdi Rabbihi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar