Penjelasan Empat Landasan Utama
(Syarah Al Qawa’id Al Arba’)
Bagian pertama
Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah
Pembaca yang budiman, berikut ini terjemah dari sebuah kitab yang sangat berharga dalam ilmu tauhid. Kitab ini berisi kaidah-kaidah dasar yang harus dipahami oleh muslim dan muslimah agar bisa berjalan di atas agamanya dengan keterangan yang jelas dan terhindar dari kesyirikan. Matan Kitab ini ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah. Sedangkan syarah atau penjelasannya disampaikan oleh Syaikh Shalih bin Abdul ‘Aziz Alusy Syaikh hafizhahullah yang sekarang ini menjabat sebagai menteri urusan dakwah, wakaf dan bimbingan umat di kerajaan Arab Saudi. Dan beliau termasuk keturunan dari penulis kitab ini. Dalam terjemah ini kami akan menambahkan sub judul untuk mempermudah bagi para pembaca sekalian. Semoga bermanfaat.
Matan kitab
Penulis (Syaikh Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullahu ta’ala berkata :
Bismillahirrahmanirrahiim
Aku memohon kepada Allah yang Maha mulia Rabb pemilik arsy yang agung, semoga Dia senantiasa menolongmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dan semoga Dia menjadikanmu senantiasa diberkahi di manapun engkau berada dan menjadikanmu bersyukur apabila diberi karunia, bersabar apabila mendapat coba, dan memohon ampun apabila terjatuh dalam dosa, karena sesungguhnya ketiga hal itulah lambang kebahagiaan.
Penjelasan Syaikh Shalih
Dengan menyebut Nama Allah Yang Maha pemurah lagi Maha penyayang
Segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak melainkan Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Semoga shalawat dan keselamatan sebanyak-banyaknya senantiasa terlimpahkan kepadanya, keluarganya dan selalu tercurah kepada para sahabatnya hingga hari kiamat.
Amma ba’d.
Kedudukan dan manfaat 4 kaidah ini
Ini adalah pelajaran ringkas al-Qawa’id al-Arba’. Ia termasuk pelajaran penting dari untaian perkataan imam dakwah ini (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab) rahimahullahu ta’ala. Hal ini sangat urgen untuk dimengerti dalam rangka memahami kandungan dari keempat kaidah tersebut. Tidak adanya pemahaman yang benar terhadap empat kaidah tersebut akan menyebabkan terjadinya kerancuan yang parah dalam memahami keadaan orang-orang musyrik dan keadaan kaum yang bertauhid, serta kondisi para pelaku kesyirikan. Di dalam Al Qur’an Allah Jalla wa ‘Ala telah menerangkan apa yang menjadi hak-Nya yaitu keharusan mentauhidkan-Nya. Allah juga menerangkan tentang kesyirikan terhadap-Nya dengan keterangan yang sangat gamblang.
Empat kaidah ini diambil dari nash-nash Al Kitab dan As Sunnah dan didasari pemahaman mengenai kondisi bangsa Arab (di kala itu), sebagaimana akan datang penjelasannya. Ia merupakan kaidah-kaidah agung yang sangat berharga bagi orang yang menghafalkan dan paham isinya. Supaya dia tidak termasuk orang yang menyimpan keraguan tentang hukum (penentuan) pelaku kesyirikan. Ia juga penting untuk memahami hakikat kewajiban mengikhlaskan agama kepada Allah Jalla wa ‘Ala dan bagaimanakah cara menerapkannya.
Ilmu dibangun di atas landasan kasih sayang
Sang Imam dakwah rahimahullah -sebagaimana kebiasaannya di dalam banyak risalah yang beliau tulis- memulai risalahnya dengan mendo’akan pembaca atau orang yang dituju oleh isi risalahnya. Ungkapan ini, -sebagaimana sudah dimaklumi- di dalamnya terkandung sebuah catatan yang patut diperhatikan yaitu : ilmu dan dakwah dibangun di atas rahmah (kasih sayang). Kasih sayang dan saling menyayangi antara mu’allim (pengajar) dengan muta’allim (pelajar). Kasih sayang dan saling menyayangi antara da’i (juru dakwah) dengan mad’u (objek dakwah). Karena rahmah dalam hal itu merupakan faktor penyebab terjalinnya hubungan baik. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman,
“Maka dengan sebab nikmat dari Allah lah engkau bersikap lemah lembut kepada mereka” (QS. Ali Imran : 159) artinya : berkat karunia nikmat dari Allah engkau bersikap lembut kepada mereka, berkat karunia nikmat dari Allah engkau bersikap lembut kepada mereka (dua kali -pent). Kata ‘maa’ di dalam ayat ini adalah shilah (kata sambung) yang berfungsi untuk memberikan tambahan penegasan isi kalimat. Ia biasa disebut dengan kata zaa’idah (tambahan). Sehingga ayat “Maka dengan sebab nikmat dari Allah lah engkau bersikap lemah lembut kepada mereka” artinya : berkat karunia nikmat dari Allah engkau bersikap lembut kepada mereka, berkat karunia nikmat dari Allah engkau bersikap lembut kepada mereka. Maka do’a ini terucap karena kasih sayang.
Jadilah da’i yang penyayang
Demikian itulah yang seyogyanya dilakukan oleh seorang mu’allim, seorang da’i, orang yang memerintahkan yang ma’ruf, begitu pula orang yang melarang dari kemungkaran. Hendaknya dia menjadi orang yang penyayang kepada manusia. Ia harus memiliki rasa kasih sayang kepada mereka. Sebagaimana sifat yang disematkan oleh Allah Jalla wa ‘Ala kepada Nabi-Nya ’alaihi shalatu wa sallam dalam firman-Nya,
“Dan tidaklah Kami utus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi sekalian alam” (QS. Al Anbiyaa’ : 107) dan Allah juga berfirman tentang beliau,
“Dia sangat mengasihi dan menyayangi orang-orang yang beriman” (QS. At Taubah : 128).
Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan tatkala menggambarkan keadaan seorang da’i ilallah bersama kaum yang bermaksiat dan kaum yang meninggalkan kebenaran. Beliau mengatakan tentang hal itu (dalam sya’irnya) :
Jadikanlah di dalam relung hatimu ada dua pandangan mata
Yang keduanya menangis karena takut pada Ar Rahman
Seandainya Tuhanmu berkehendak niscaya engkau seperti mereka
Padahal hati itu berada diantara jari jemari Ar Rahman
Demikian pula tatkala hukum hudud harus ditegakkan dan diterapkan. Ia diterapkan sebagai bukti rahmah, bukan dalam rangka menyiksa. Hudud ditegakkan demi mewujudkan rasa sayang terhadap orang yang berhak menerima hukuman ini, disebabkan ulah iblis dan syaitan yang berhasil menguasai dirinya telah mengakibatkan dirinya berhak menerima hukuman itu. Hal ini sebagaimana apabila ada salah seorang yang anda cintai berhasil ditawan oleh musuh (tentu anda akan merasa kasihan kepadanya dan ingin dia terbebas darinya –pent).
Pengantar bermuatan do’a dari sang Imam rahimahullah ini mengandung penegasan tentang hal itu. Di dalam do’a yang beliau panjatkan beliau meminta supaya Allah menjadi kita sebagai orang yang bersyukur apabila diberi karunia, bersabar apabila ditimpa coba dan mohon ampun apabila terjatuh dalam dosa. Sesungguhnya tiga hal itulah lambang kebahagiaan.
Bersyukur apabila mendapatkan nikmat
“Apabila diberi bersyukur”. Itu disebabkan pemberian adalah nikmat yang bersumber dari Allah Jalla wa ‘Ala. Dan juga karena Allah Jalla wa ‘Ala mencintai hamba-hamba yang pandai bersyukur. Syukur itu bisa diwujudkan dengan lisan maqal (ucapan lisan) dan bisa juga dengan beramal. Seperti dalam ayat,
“Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu” (QS. Luqman : 14)
yakni bersyukurlah dengan ucapan dan amalan. Atau dalam ayat
“Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah).” (QS. Saba’ : 13) di sini rasa syukur berwujud amal. Adapun dalam ayat,
“Dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al Baqarah : 152) di sini syukur diwujudkan dalam bentuk ucapan dan amal.
Perbedaan antara syukur dengan pujian
Oleh karena itulah terdapat perbedaan antara syukur dengan pujian. Syukur dilakukan karena limpahan nikmat. Adapun pujian bisa saja terjadi karena adanya nikmat atau bukan karena adanya nikmat. Dalam keadaan seperti itu pujian diberikan murni sebagai sanjungan. Syukur bisa melalui lisan dan bisa melalui amal. Sedangkan pujian hanya melalui lisan, bukan amal. Dalam hal ini terdapat beberapa perbedaan yang ma’ruf diantara ahli ilmu. Perkara ini juga termasuk hal yang seharusnya diperhatikan. Seorang hamba apabila mendapatkan pemberian dari Allah maka dia harus bersyukur atas pemberian Allah Jalla wa ‘Ala. Mensyukuri pemberian itu sebagaimana telah kami singgung meliputi dengan perkataan dan perbuatan :
• Bersyukur dengan perkataan ialah dengan menyandarkan pemberian itu kepada Dzat yang telah menganugerahkannya. Dia memuji-Nya karena anugerah tersebut dan tidak berpaling kepada selain-Nya dalam menyandarkannya. Allah berfirman, “Nikmat apapun yang ada padamu maka semuanya itu berasal dari Allah” (QS. An Nahl : 53) Allah juga berfirman (tentang keadaan orang-orang yang mengingkari nikmat), “Mereka mengakui nikmat-nikmat Allah kemudian merekapun mengingkarinya” (QS. An Nahl : 83)
• Adapun dari sisi yang lain, yaitu bersyukur melalui perbuatan. Maka manifestasi rasa syukur itu terwujud dalam bentuk memanfaatkan nikmat dalam perkara-perkara yang dicintai oleh Sang pemberi nikmat.
Keteladanan Nabi Nuh dalam bersyukur
Perkara ini merupakan salah satu ibadah agung yang paling dicintai oleh Allah Jalla wa ‘Ala. Yaitu apabila seorang hamba menjadi orang yang pandai bersyukur. Oleh sebab itulah Allah berfirman, “Amat sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang pandai bersyukur” (QS. Saba’ : 13) Allah subhanahu juga berfirman, “Anak keturunan yang kami sertakan bersama perahu Nabi Nuh. Sesungguhnya dia (Nuh) adalah seorang hamba yang sangat pandai bersyukur” (QS. Al Israa’: 3) artinya wahai anak keturunan yang telah kami selamatkan bersama Nuh, sesungguhnya Nuh adalah hamba yang pandai bersyukur (maka teladanilah). Beliau adalah orang yang sangat banyak bersyukur kepada Allah Jalla wa ‘Ala. Para ulama tafsir mengatakan : Apabila menikmati makanan maka beliau bersyukur kepada Allah atasnya. Apabila menikmati minuman maka beliau bersyukur kepada Allah atasnya. Apabila mengenakan pakaian maka beliau bersyukur atasnya. Ini artinya kita berlepas diri dari penguasaan daya dan kekuatan dari seluruh nikmat atau kemudahan yang datang dari-Nya. Kita juga mengakui nikmat itu semua berasal dari Allah Jalla wa ‘Ala.
Kaitan syukur dengan tauhid
Syukur memiliki kaitan erat dengan tauhid. Tatkala sang Imam rahimahullah menyebutkan do’a untuk kita supaya bersyukur atas karunia, bersabar atas musibah dan istighfar ketika berbuat dosa, seolah-olah beliau sedang mengarahkan pandangan matanya kepada kondisi yang dialami kaum yang bertauhid. Beliau berbicara dengan mereka tentang suatu kewajiban yang harus senantiasa mereka tunaikan. Orang yang bertauhid telah mendapatkan karunia yang sangat besar, tidak ada lagi nikmat lain yang menandinginya. Nikmat itu adalah keberadaannya di atas ajaran Islam yang lurus. Nikmat itulah yang membuatnya bisa tegak di atas prinsip tauhid yang murni. Tauhid itulah yang menjadi sebab Allah menjanjikan kebahagiaan di dunia dan di akhirat kepada orang-orang yang merealisasikannya.
Bersabarlah…
Seorang muwahhid pasti akan menghadapi ujian. Oleh karenanya beliau memohon kepada Allah supaya dia bisa bersabar tatkala tertimpa cobaan. Cobaan terkadang muncul dari sisi perkataan yang ditujukan kepada dirinya. Dan terkadang muncul dari sisi gangguan fisik, atau dari sisi harta dan sisi-sisi yang lainnya.
Mohon ampun jika berdosa
Beliau berkata, “Apabila berdosa maka diapun bersitighfar”. Dalam diri seorang muwahhid pasti terdapat unsur tidak taat. Dia juga tidak bisa terlepas dari perbuatan dosa, baik dosa kecil mapun dosa besar. Sedangkan salah satu Asma’ Allah adalah Al Ghafuur (Maha Pengampun) maka pengaruh hukum dari Asma itu pasti terwujud pada alam serta kerajaan-Nya. Karena itulah Allah mencintai hamba-Nya yang bertauhid lagi ikhlash untuk senantiasa meminta ampunan. Seorang muwahhid pasti mengalami hal itu.
Seorang hamba apabila telah berani meninggalkan keagungan istighfar ini niscaya dia akan tertimpa kesombongan. Padahal kesombongan akan menghapuskan banyak pahala amal perbuatan. Karena latar belakang itulah beliau mengatakan di sini, “Apabila berdosa maka diapun beristighfar. Karena sesungguhnya ketiga hal itu adalah simbol kebahagiaan sejati”. Maka ini artinya hal itu pasti terjadi terhadap setiap muwahhid. Hal itu mencakup bersyukur ketika mendapat karunia, bersabar ketika tertimpa coba dan beristighfar ketika berbuat dosa dan maksiat. Semakin besar pengenalan seorang hamba terhadap Tuhannya niscaya ketiga hal inipun akan semakin kuat tertancap di dalam jiwanya. Dan semakin besar ruang tauhid dalam hati seorang hamba niscaya ketiga hal ini juga turut membesar. Dengan sikap demikian niscaya akan melahirkan seorang hamba yang tidak lagi memandang selain keridhaan Allah Jalla wa ‘Ala dalam melaksanakan amal maupun aktivitas hidupnya, dia tidak mau mempersembahkan sedikitpun amalnya untuk selain-Nya. Apabila dia telah lalai dari hal itu maka istighfar yang diucapkannya bukanlah istighfar yang sebenarnya.
Keteladanan Nabi dalam beristighfar
Oleh sebab itulah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sehari semalam beristighfar lebih dari seratus kali. Dalam kitab shahih diriwayatkan bahwa “Beliau beristighfar dalam suatu majelis sebanyak tujuh puluh kali”. Sedangkan seorang muwahhid pasti terancam bahaya. Bahaya ghurur (lupa diri) karena sudah merasa sebagai orang yang bertauhid atau merasa sudah termasuk orang-orang yang benar-benar mengikuti kaum salaf. Atau karena dia sudah merasa pandai tentang ilmu ini. Lantas di dalam hatinya tidak terdapat lagi ketundukan dan perendahan diri, karena Allah telah mencabutnya dari dalam dirinya. Padahal ketundukan dan perendahan diri itulah faktor yang bisa membuatnya menerima sarana ini, yaitu bertauhid kepada Allah Jalla Jalaaluhu. Sementara itu hak Allah terlalu agung, dan Dia hanya menuntut sedikit saja dari hamba-hamba-Nya. Oleh karena itulah perkara tauhid adalah perkara yang sangat besar. Dan syirik serta tindak lancang kepada-Nya adalah perbuatan yang sangat tercela.
Bersambung insya Allah
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar