MUHAMMADUR RASULULLAH

Makna persaksian Muhammad Rasulullah
Maknanya adalah mengimani bahwasanya beliau diutus dari sisi Allah. Oleh sebab itu kita benarkan berita yang beliau sampaikan, kita taati perintah beliau, kita tinggalkan larangan beliau dan kita beribadah kepada Allah dengan syari'at beliau (Syahadatul Islam, Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu)

Beliau diutus dari sisi Allah
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Hai orang yang berselimut. Berdirilah dan berikanlah peringatan. Dan Rabbmu maka agungkanlah. Pakaianmu maka sucikanlah. Dan patung-patung tinggalkanlah." (QS. Al Muddatstsir : 1-5) Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata : "Ini adalah ayat pertama yang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam diutus sebagai rasul dengannya. Terdapat riwayat yang sah dari Jabir bin Abdillah yang menceritakan bahwa beliau pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan tentang terputusnya wahyu. Di dalam kisah tersebut beliau bertutur : Tatkala aku sedang berjalan tiba-tiba aku mendengar suara dari langit kemudian akupun mengangkat pandanganku ke arah langit ternyata ada malaikat yang pernah menemuiku di gua Hira' sedang duduk di atas kursi diantara langit dan bumi. Aku pun dibuat takut karenanya sampai-sampai aku merunduk ke tanah. Lalu akupun pulang menemui istriku kemudian aku berkata kepadanya : Selimutilah aku, selimutilah aku. Maka dia pun menyelimutiku. Kemudian Allah menurunkan ayat, Yaa ayyuhal muddatstsir qum fa andzir hingga fahjur. Abu Salamah berkata : Ar Rujza adalah berhala-berhala. Kemudian setelah itu wahyu dijaga dan turun secara silih berganti. (HR. Bukhari (1/27 Fath), Muslim (255)(161)...)." (lihat Hushuulul ma'muul, hal. 162)

Allah ta'ala juga berfirman yang artinya, "Sesungguhnya telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sangat berat baginya penderitaan yang kalian rasakan dan ia sungguh bersemangat memberikan kebaikan untuk kalian serta kepada orang-orang beriman dia sangat lembut lagi penyayang." (QS. At Taubah : 128) Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan berkata : "Ayat ini merupakan dalil syahadat anna Muhammadar Rasulullah..." (Hushuulul ma'muul, hal. 115) Allah ta'ala juga berfirman yang artinya, "Bukanlah Muhammad itu ayah salah satu diantara kamu, akan tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup para Nabi." (QS. Al Ahzab : 40) Dalam ayat yang lain Allah berfirman, "Wahai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu sebagai saksi, pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, sebagai da'i ila Allah dengan izin-Nya dan menjadi lentera penerang..." (QS. Al Ahzab : 45-46)

Nabi sebagai saksi
Syaikh As Sa'di berkata : "Yakni beliau menjadi saksi bagi umatnya terhadap kebaikan dan kejelekan amal mereka. Hal itu sebagaimana firman Allah ta'ala, "Supaya kalian menjadi saksi atas seluruh umat manusia dan Rasul menjadi saksi atas kalian." "Maka bagaimanakah apabila saatnya tiba Kami datangkan saksi bagi setiap umat dan Kami datangkan engkau sebagai saksi atas mereka." Maka beliau shallallahu 'alaihi wa sallam adalah seorang saksi yang adil dan pasti diterima persaksiannya." (Taisir Karimir Rahman, hal. 667)

Nabi sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan
Syaikh As Sa'di berkata : "Kedua sifat ini mengharuskan disebutkannya golongan yang diberi kabar gembira dan yang layak diberikan peringatan serta sebab yang mengharuskan mereka diberi kabar gembira atau diperingatkan dan juga perbuatan-perbuatan yang menyebabkan munculnya hal itu. Adapun orang yang layak mendapat kabar gembira yaitu : orang-orang yang beriman dan bertakwa, yaitu orang-orang yang memadukan antara iman dan amal salih, meninggalkan kemaksiatan. Mereka itu layak mendapat kabar gembira di kehidupan dunia dalam bentuk balasan duniawi dan pahala diniyah sebagai akibat dari keimanan dan ketakwaan mereka, dan mereka juga layak mendapat kabar gembira di akhirat berupa kenikmatan yang langgeng..." (Taisir Karimir Rahman, hal. 667)

Syaikh As Sa'di berkata : "Sedangkan orang yang harus diperingatkan adalah para pendosa dan orang-orang zhalim yang suka berbuat zhalim lagi bodoh. Mereka berhak diperingatkan di dunia dengan berbagai ancaman hukuman duniawi maupun diniyah sebagai akibat dari kebodohan dan kezhaliman mereka, sedangkan di akhirat nanti mereka akan mendapatkan hukuman yang berat dan siksaan yang panjang." (Taisir Karimir Rahman, hal. 667)

Nabi sebagai da'i ila Allah
Syaikh As Sa'di berkata : "Allah mengutus beliau untuk mendakwahi segenap makhluk, untuk membimbing mereka menggapai kemuliaan-Nya, untuk memerintah mereka beribadah kepada-Nya yang itu merupakan tujuan penciptaan mereka...." (Taisir Karimir Rahman, hal. 667)

Nabi sebagai lentera penerang
Syaikh As Sa'di berkata : "Hal itu menunjukkan bahwa seluruh makhluk berada dalam kegelapan yang sangat pekat, tidak ada cahaya yang bisa menyinari mereka di dalam kegelapannya serta tidak ada ilmu yang bisa menunjuki mereka di tengah kebodohan yang menimpa sampai Allah mengutus Nabi yang mulia ini. Maka Allah memadamkan kegelapan-kegelapan itu dengan diutusnya beliau, Allah menerangi mereka dengan ilmu sehingga berhasil lolos dari kegelapan-kegelapan, Allah mengaruniakan hidayah melalui beliau sehingga mereka bisa selamat dari kesesatan untuk meniti jalan yang lurus..." (Taisir Karimir Rahman, hal. 668)

Berita Nabi adalah kebenaran
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan tidaklah yang dia ucapkan melainkan wahyu yang diwahyukan kepadanya." (QS. An Najm : 4) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidaklah keluar dariku melainkan kebenaran." (Hadits Shahih, dishahihkan Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 1196, lihat tafisr Ibnu Katsir VII/340, cet. Maktabah At Taufiqiyah) Oleh sebab itu kewajiban kita adalah membenarkan berita yang beliau sampaikan. Imam Bukhari meriwayatkan dari Imam Muhammad bin Syihab yang terkenal dengan julukan Az Zuhri rahimahullah bahwa beliau mengatakan, “Sumber risalah adalah Allah. Kewajiban Rasul adalah menyampaikan. Sedangkan kewajiban kita adalah bersikap pasrah dan tunduk.”

Kewajiban Rasul adalah menyampaikan risalah
Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Dan tidaklah kewajiban Rasul melainkan sekedar menyampaikan.” (QS. An Nuur : 54) Allah ta’ala juga berfirman yang artinya, “Apakah ada kewajiban bagi Rasul selain memberikan keterangan yang gamblang?” (QS. An Nahl : 35) Allah berfirman yang artinya, “Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul pun kecuali dengan bahasa kaumnya, agar dia menjelaskan (wahyu) bagi mereka. Sehingga Allah berhak menyesatkan orang yang dikehendaki-Nya serta memberikan petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (QS. Ibrahim : 4)

Semua kebaikan telah diterangkan
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab sebagai penjelas segala sesuatu, petunjuk dan rahmat serta kabar gembira bagi orang-orang yang pasrah." (QS. An Nahl : 89) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Wahai umat manusia, sesungguhnya tidak ada sesuatupun yang mendekatkan kalian ke surga dan menjauhkan dari neraka kecuali telah aku perintahkan kepada kalian. Dan tidak ada sesuatu pun yang mendekatkan kalian ke neraka dan menjauhkan dari surga kecuali telah aku larang dari kalian..." (HR. Al Baghawi dalam Syarhu Sunnah (14/303-305) lihat Hujjajul Qawiyyah, hal. 21)

Kewajiban kita adalah mentaati Rasul
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan tidaklah Kami mengutus seorang Rasul melainkan agar ditaati dengan izin Allah." (QS. An Nisaa' : 64) Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Apa saja yang dibawa Rasul maka ambillah dan apa saja yang dilarangnya maka tinggalkanlah." (QS. Al Hasyr : 7) Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang beriman apabila diajak kepada Allah dan Rasul-Nya demi memberikan keputusan hukum antara mereka maka ucapan mereka hanyalah 'Kami dengar dan kami taat.' Mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An Nuur : 51) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mentaati maka dia akan masuk surga, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku maka dia lah orang yang enggan (masuk surga)." (HR. Bukhari)

Ancaman bagi orang yang durhaka
Allah ta'ala berfirman tentang nasib kaum terdahulu yang durhaka kepada para rasul : "Maka masing-masing mereka kami siksa disebabkan dosanya. Ada diantara mereka yang kami timpakan hujan batu kerikil, dan ada diantara mereka yang ditimpa suara yang keras yang mengguntur, dan ada diantara mereka yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada diantara mereka yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri." (QS. Al 'Ankabuut : 40) Allah juga berfirman yang artinya, "Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan nyata." (QS. Al Ahzab : 36) Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuannya niscaya Allah akan memasukkannya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya, dan baginya siksa yang menghinakan." (QS. An Nisaa' : 14)

Kemaksiatan dalam bahasa Al Qur'an
Ketika menerangkan ayat di atas (QS. An Nisaa' : 14) Syaikh As Sa'di berkata : "Termasuk dalam istilah maksiat segala kekafiran dan kemaksiatan lain yang berada di bawahnya. Sehingga di dalam ayat ini sama sekali tidak tersisa syubhat bagi kaum Khawarij yang berpendapat bahwa pelaku maksiat dihukumi kafir sebab Allah ta'ala menjanjikan masuk surga bagi orang yang taat kepada-Nya dan taat kepada rasul-Nya. Dan Allah menjanjikan masuk neraka bagi orang yang durhaka kepada-Nya dan bermaksiat kepada Rasul-Nya. Oleh sebab itu orang yang taat secara sempurna kepada-Nya akan masuk surga tanpa merasakan siksa. Dan barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya dengan sempurna yang tercakup di dalamnya syirik dan dosa-dosa di bawahnya maka dia masuk neraka dan kekal di sana. Dan barangsiapa yang di dalam dirinya terkumpul maksiat dan taat maka di dalam dirinya terdapat faktor yang menuntut dia mendapat pahala dan juga hukuman berbanding lurus dengan ketaatan dan kemaksiatan yang dilakukannya. Dalil-dalil yang mutawatir menunjukkan bahwa kaum muwahhid yaitu yang memiliki ketaatan berupa tauhid adalah tidak kekal disiksa di neraka. Karena tauhid yang mereka miliki menjadi penghalang mereka kekal di dalamnya." (Taisir Karimir Rahman, hal. 170-171)

Laksanakan perintah dan jauhi larangan
Diriwayatkan dari Abu Hurarirah radhiyallahu'anhu beliau berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apapun yang kularang dari kalian maka jauhilah, dan apapun yang kuperintahkan maka laksanakanlah sekuat kemampuan kalian..." (HR. Bukhari (7288), Muslim (1337), Tirmidzi (2679), Nasa'i (5/110), Ibnu Majah (1,2), Ahmad (2/247,258,428,447,457,467,495,508), Daruquthni (2/281) dan Baihaqi (4/326) lihat Syarah Arba'in, hal. 42)

Beribadah hanya dengan syari'at Nabi
Allah ta'ala berfirman yang artinya, "..maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku maka dia tidak akan sesat dan tidak juga celaka." (QS. Thoha : 123) Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Dan bahwasanya yang kami perintahkan adalah jalanku yang lurus maka ikutilah ia dan jangan ikuti jalan-jalan itu karena ia akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Allah wasiatkan kepada kalian agar kalian bertakwa." (QS. Al An'aam : 153) Abu Nu'aim meriwayatkan di dalam Al Hilyah (3/293) dari Mujahid rahimahullah bahwa yang dimaksud dengan jalan-jalan (subul) di dalam ayat ini adalah bid'ah-bid'ah dan syubhat (lihat Hujjajul Qawiyyah, hal. 38) Allah ta'ala berfirman yang artinya, "Maka hendaklah merasa takut orang-orang yang menyelisihi urusan rasul kalau-kalau mereka tertimpa fitnah atau siksa yang pedih." (QS. An Nuur : 63) Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa yang dimaksud fitnah dalam ayat itu adalah : terdapat kekafiran, kemunafikan atau kebid'ahan di dalam hati mereka (dinukil dari Hujjajul Qawiyyah, hal. 39

0 komentar:

Posting Komentar