Keutamaan Ilmu

Keutamaan Ilmu
Dalil Al-Qur'an
Allah ta'ala berfirman,
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
"Katakanlah Wahai Rabbku tambahkanlah kepadaku ilmu." (QS. Thoha : 114)
Allah ta'ala berfirman,
هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ
"Katakanlah : apakah sama antara orang yang berilmu dengan orang yang tidak berilmu ?." (QS. Az-Zumar : 9)
Allah ta'ala berfirman,
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
"Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman diantara kalian dan yang diberi ilmu." (QS. Al-Mujaadalah : 11)
Allah ta'ala berfirman,
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ
"Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang berilmu." (QS. Fathir : 28)
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, "Dan telah diketahui pula bahwasanya setiap muslim pasti memiliki rasa takut kepada Allah, setiap mukmin juga pasti merasa takut kepada Allah. Akan tetapi rasa takut yang sempurna hanya dimiliki oleh para ahli ilmu, dan pemuka tertinggi mereka ialah para Rasul ‘alaihimush shalatu was salaam kemudian diikuti orang-orang sesudah mereka yaitu para ulama menurut tingkatan mereka masing-masing. Para ulama, mereka itulah pewaris para Nabi. Rasa takut kepada Allah adalah hak. Sedangkan rasa takut yang sempurna hanya ada pada diri ahli ilmu yang mengenal Allah dan memiliki bukti-bukti kuat tentang keesaan-Nya, dan mengetahui kesempurnaan Nama-nama-Nya, Sifat-Sifat-Nya dan menyadari betapa agung hak yang dimiliki-Nya yang Maha suci lagi Maha tinggi. Dan para Rasul dan Nabi ‘alaihimush shalatu was salam adalah orang-orang terdepan di antara mereka, kemudian diikuti sesudahnya oleh ahli ilmu dengan berbagai macam tingkatan pemahaman mereka dalam ilmu tentang Allah dan agama-Nya. Sudah sepantasnya bagi setiap alim dan penuntut ilmu untuk senantiasa memperhatikan perkara ini dan merasa takut kepada Allah di mana pun dia berada serta berusaha untuk terus mendekatkan dirinya kepada Allah dalam semua urusannya, baik dalam menuntut ilmu, mengamalkan ilmu, menyebarkan ilmu dan dalam setiap aspek hak Allah dan hak hamba yang harus ditunaikan olehnya." (Fadhlul 'ilmu wa syarafu ahlihi)

Dalil As-Sunnah
عن معاوية رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: من يرد اللَّه به خيراً يفقهه في الدين مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Mu'awiyah radhiyallahu'anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka akan dipahamkan dalam hal agama." (Muttafaq 'alaih)
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, "Ini menunjukkan bahwasanya salah satu ciri kebaikan dan tanda kebahagiaan ialah seorang hamba diberikan kepahaman dalam hal agama Allah. Setiap penuntut ilmu yang ikhlas di perguruan tinggi manapun atau di Ma’had ‘Ilmi manapun, atau di selain keduanya hendaknya menjadikan pemahaman seperti inilah yang dicari dan diinginkannya. Oleh sebab itu kita memohon kepada Allah supaya mereka mendapatkan taufik dan hidayah untuk menggapainya dan tercapai tujuan yang dicita-citakannya. Dan barangsiapa yang justru berpaling dari mempelajari ilmu agama maka itu merupakan salah satu ciri bahwa Allah menghendaki buruk pada dirinya, laa haula wa laa quwwata illa billaah." (Fadhlul 'ilmu wa syarafu ahlihi)
عن ابن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: لا حسد إلا في اثنتين: رجل آتاه اللَّه مالاً فسلطه على هلكته في الحق، ورجل آتاه اللَّه الحكمة فهو يقضي بها ويعلمها مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu, beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Tidak ada hasad kecuali dalam dua perkara : seorang yang diberi karunia harta oleh Allah kemudian dia mempergunakannya dengan sebaik-baiknya dalam urusan yang benar dan seorang yang diberi karunia hikmah (ilmu) dan dia memutuskan urusan berdasarkan ilmu serta mengajarkannya kepada orang." (Muttafaq 'alaih) Imam Nawawi berkata : yang dimaksud dengan hasad di sini adalah ghibthah : yaitu keinginan untuk bisa berbuat baik seperti orang lain tersebut.
عن أبي موسى رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال: قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: مثل ما بعثني اللَّه به من الهدى والعلم كمثل غيث أصاب أرضاً فكانت منها طائفة طيبة قبلت الماء، فأنبتت الكلأ والعشب الكثير، وكان منها أجادب أمسكت الماء، فنفع اللَّه بها الناس فشربوا منها وسقوا وزرعوا، وأصاب طائفة منها أخرى إنما هي قيعان لا تمسك ماءً ولا تنبت كلأ؛ فذلك مثل من فقه في دين اللَّه ونفعه ما بعثني اللَّه به فعلم وعلّم، ومثل من لم يرفع بذلك رأساً ولم يقبل هدى اللَّه الذي أرسلت به مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Abu Musa radhiyallahu'anhu, beliau berkata : Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diamanatkan kepadaku oleh Allah ialah sebagaimana air hujan yang menyirami bumi. Ada diantara tanahnya yang subur. Tanah itu mampu menyerap air dan kemudian menumbuhkan tanaman dan rumput yang banyak. Dan ada pula di sana tanah yang keras sehingga bisa menampung air dan dengan perantaranya Allah memberikan manfaat bagi umat manusia. Mereka minum, memberikan minum (untuk ternak) dan mengairi lahan pertanian dengannya. Dan air hujan itu juga turun menyirami bagian bumi yang lainnya, akan tetapi tanah itu tandus lagi licin sehingga tidak mampu menahan air serta tidak bisa menumbuhkan tanam-tanaman. Demikianlah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah dan dapat memetik manfaat dari ajaran Allah yang diamanatkan kepadaku, dia mengetahui dan mengajarkan ilmunya dan perumpamaan orang yang tidak mau ambil peduli serta tidak menerima petunjuk Allah yang diamanatkan kepadaku." (Muttafaq 'alaih)
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, " Maka para ulama yang mendapatkan taufik untuk mengemban ilmu ini terbagi ke dalam dua tingkatan : Tingkatan Pertama ialah mereka yang berhasil meraih ilmu, bisa mengamalkannya, terus mendalaminya dan mengambil berbagai macam kesimpulan hukum, sehingga mereka pun terlahir menjadi para Hafizh (penghafal hadits) dan Fuqaha/Ahli Fikih. Mereka menyampaikan ilmu dan mengajarkannya kepada orang-orang, dan mereka bisa memahamkan orang lain, memberikan pencerahan dan faidah kepada mereka. Di antara mereka ada yang berprofesi sebagai mu’allim (pengajar) dan ada yang menjadi muqri’ (pembaca), serta ada juga yang menjadi da’i ilallah ‘azza wa jalla atau menjadi mudarris (guru) yang mengajarkan ilmu…, dan profesi-profesi lainnya yang merupakan bentuk-bentuk pengajaran dan penularan pemahaman. Adapun Tingkatan Kedua ialah : mereka itu adalah orang-orang yang menghafalkan dan menukilkannya kepada orang lain yang sudah dibukakan pemahaman ilmu baginya, sehingga orang itu bisa menarik berbagai kesimpulan hukum dari berita yang didapatkannya itu. Maka dengan begitu kedua kelompok ini sama-sama memperoleh pahala dan ganjaran yang sangat besar dan melimpah serta bisa memberikan manfaat luas kepada umat. Adapun kebanyakan orang yang ada, perumpamaan mereka itu ialah seperti tanah yang keras dan licin sehingga tidak bisa menampung air dan tidak mampu menumbuhkan rerumputan. Itu terjadi disebabkan karena mereka berpaling, lalai serta tidak mau menaruh perhatian terhadap ilmu." (Fadhlul 'ilmi wa syarafu ahlihi)

Beliau juga berkata, "Oleh sebab itu maka para ulama dan penuntut ilmu yang aktif dalam berbagai aktifitas penyebaran ilmu syar’i memiliki kebaikan yang sangat banyak serta berada di atas jalan yang lurus. Segala puji bagi Allah untuk itu. Dan itu hanya berlaku bagi orang yang diberikan taufik oleh Allah untuk bisa mengikhlaskan niat dan bersungguh-sungguh dalam belajar. Sehingga datanglah para penuntut ilmu syar’i secara beramai-ramai untuk mendalami agama Allah dan berjuang untuk bisa meraih pencerahan dalam memahami ajaran Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam yang meliputi petunjuk dan ilmu pengetahuan. Dan hendaknya mereka saling berlomba untuk menuntutnya. Dan juga hendaknya mereka bersabar dalam meniti jalan tersebut, karena mereka harus bertemu dengan rasa letih dan menghadapi berbagai kesulitan. Hal ini dikarenakan sesungguhnya ilmu itu tidak akan bisa digapai apabila dicari dengan tubuh yang selalu santai-santai. Akan tetapi sangat dibutuhkan kesungguh-sungguhan, kesabaran, dan berani merasakan keletihan. Inilah yang diucapkan oleh Imam Muslim rahimahullah di dalam kitab Shahih beliau dalam bab-bab tentang Mawaqit (Waktu-Waktu Shalat) yang terdapat di dalam Kitab Shalat. Ketika beliau membawakan sekian banyak sanad, di antara riwayat yang beliau sebutkan adalah perkataan Yahya bin Abi Katsir rahimahullah. Yahya mengatakan, “Ilmu tidak akan bisa diraih dengan banyak mengistirahatkan badan.” Maksud beliau rahimahullah dengan ungkapan ini ialah sebagai catatan yang harus diingat bahwasanya untuk menggali ilmu dan mendalami agama itu sangat diperlukan kesabaran dan keteguhan. Selain itu dibutuhkan juga curahan perhatian dan pemeliharaan waktu dan senantiasa harus diiringi dengan keikhlasan dalam beramal karena Allah dan menginginkan wajah Allah subhanahu wa ta’ala." (Fadhlul 'ilmi wa syarafu ahlihi)
Beliau melanjutkan keterangannya, "Oleh karena itu maka keberadaan berbagai kegiatan daurah ilmiah yang di dalamnya diajarkan ilmu syar’i dan juga keberadaan masjid-masjid yang di sana diadakan berbagai halaqah ilmiah syar’iyah memiliki peranan yang sangat penting. Faidah yang bisa digali darinya juga amat besar. Karena sarana-sarana seperti itu memang dipersiapkan untuk menyebarkan manfaat bagi orang banyak dan bisa menguraikan berbagai macam kesulitan yang mereka hadapi. Orang-orang yang telah mengikuti kegiatan-kegiatan seperti itu sangat diharapkan sudah berhasil meraih kebaikan dan pelajaran yang banyak serta manfaat yang bisa disebarluaskan. Tidaklah seyogyanya bagi orang yang sudah diberikan anugerah berupa ilmu oleh Allah kemudian dia justru memisahkan diri dari upaya menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada umat manusia dan tidak ikut berusaha menanamkan pemahaman agama kepada mereka atau mengingatkan mereka tentang Allah, hak-Nya serta hak hamba-hamba-Nya. Dia bisa saja menempuh cara mengajar, atau melalui pengambilan keputusan peradilan, atau dengan memberikan nasihat dan peringatan, atau sekedar saling mengingat-ingat isi pelajaran bersama sahabat-sahabat dan saudara-saudaranya di dalam berbagai arena pertemuan yang bersifat umum maupun yang khusus."

"Demikian pula sudah semestinya bagi para ulama untuk turut bergabung dalam upaya menyebarkan ilmu melalui berbagai media informasi yang tersedia, karena dengan cara itu faidah yang didapatkan darinya akan sangat besar dan juga ilmu yang disampaikan akan bisa menjangkau segala penjuru bumi sejauh yang dikehendaki oleh Allah. Kebaikan sangat besar yang dicapai dengan menempuh metode semacam itu sudah sangat diketahui. Begitu pula dengan cara demikian maka kaum muslimin yang bisa merasakan manfaatnya semakin bertambah luas, terlebih lagi pada masa ini kebutuhan akan hal itu adalah sangat mendesak, bahkan di sepanjang masa hal itu selalu diperlukan. Hanya saja pada masa kita sekarang ini kebutuhan itu semakin memuncak karena begitu sedikitnya ilmu yang tersebar dan betapa banyaknya ajakan yang ditebarkan oleh para penyeru kebatilan. Oleh sebab itulah sudah menjadi kewajiban bagi orang yang diberikan rizki ilmu oleh Allah untuk berani mengambil resiko dan menanggung beban kesulitan untuk berupaya menyebarkan ilmu yang bermanfaat kepada orang banyak melalui media-media tersebut. Baik dengan cara ikut andil dalam mengambil keputusan peradilan, memberikan pengajaran, mendakwahkan agama Allah ‘azza wa jalla maupun cara lainnya yang menyangkut urusan-urusan kaum muslimin. Sehingga akan tercapailah manfaat yang begitu besar dan buah yang sangat agung sebagai hasil dari upaya ini." (Fadhlul 'ilmi wa syarafu ahlihi)

عن سهل بن سعد رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال لعليّ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ: فوالله لأن يهدي اللَّه بك رجلاً واحداً خير لك من حمر النعم مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Sahl bin Sa'ad radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada 'Ali radhiyallahu'anhu : "Demi Allah, sesungguhnya apabila Allah memberikan hidayah seseorang melalui tanganmu itu lebih baik bagimu daripada unta-unta yang merah." (Muttafaq 'alaih)
عن عبد اللَّه بن عمرو بن العاص رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال: بلغوا عني ولو آية، وحدثوا عن بني إسرائيل ولا حرج، ومن كذب عليّ متعمداً فليتبوأ مقعده من النار رَوَاهُ البُخَارِيُّ.
Dari 'Abdullah bin Amr bin Al-'Ash radhiyallahu'anhu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sampaikanlah dariku, meskipun hanya satu ayat. Dan ceritakanlah berita dari Bani Isra'il tanpa perlu merasa berat. Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mengambil tempat duduknya di neraka." (HR. Bukhari)
عن أبي هريرة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال: ومن سلك طريقاً يلتمس فيه علماً سهل اللَّه له طريقاً إلى الجنة رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menimba ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim)
عنه أيضاً رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال: من دعا إلى هدىً كان له من الأجر مثل أجور من تبعه لا ينقص ذلك من أجورهم شيئاً رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang mengajak menuju petunjuk maka dia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala-pahala orang yang mengikuti ajakannya, dan hal itu tidaklah mengurangi pahala-pahala mereka barang sedikitpun." (HR. Muslim)
عنه رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية، أو علم ينتفع به، أو ولد صالح يدعو له رَوَاهُ مُسلِمٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Apabila anak Adam meninggal maka akan terputuslah amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak salih yang mendoakan orang tuanya." (HR. Muslim)
عنه رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم يقول: الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر اللَّه تعالى وما والاه، وعالماً أو متعلماً رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu beliau berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Dunia itu terlaknat, dan isinya semua tercela kecuali dzikir kepada Allah ta'ala dan ketaatan kepada Allah, serta orang yang berilmu atau menuntut ilmu." (HR. Tirmidzi, dia berkata : hadits hasan)
عن أنس رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال: قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: من خرج في طلب العلم فهو في سبيل اللَّه حتى يرجع رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Dari Anas radhiyallahu'anhu beliau berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang berangkat dalam rangka menuntut ilmu maka sesungguhnya dia sedang dalam (berjihad) fi sabilillah hingga dia kembali." (HR. Tirmidzi, dia berkata : hadits hasan)
عن أبي سعيد الخدري رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ عن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال: لن يشبع مؤمن من خير حتى يكون منتهاه الجنة رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu'anhu, dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda, "Seorang mukmin tidak akan pernah merasa kenyang melakukan kebaikan sampai tempat persinggahan terakhirnya tiba di surga." (HR. Tirmidzi dan dia berkata : hadits hasan)
عن أبي أمامة رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ أن رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم قال: فضل العالم على العابد كفضلي على أدناكم ثم قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: إن اللَّه وملائكته وأهل السماوات والأرض حتى النملة في جحرها وحتى الحوت ليصلون على معلمي الناس الخير رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Dari Abu Umamah radhiyallahu'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Keutamaan orang 'alim dibandingkan dengan ahli ibadah adalah seperti halnya perumpamaan diriku dengan orang yang paling rendah di antara kalian (kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda) Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya serta penduduk bumi bahkan seekor semut di lubangnya dan bahkan ikan sekalipun akan mendoakan kebaikan bagi orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada umat manusia." (HR. Tirmidzi, dia berkata : hadits hasan)
عن أبي الدرداء رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم يقول: من سلك طريقاً يبتغي فيه علماً سهل اللَّه له طريقاً إلى الجنة، وإن الملائكة لتضع أجنحتها لطالب العلم رضاً بما يصنع، وإن العالم ليستغفر له من في السماوات ومن في الأرض حتى الحيتان في الماء، وفضل العالم على العابد كفضل القمر على سائر الكواكب، وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يورّثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورّثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ.
Dari Abud-Darda' radhiyallahu'anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menempuh jalan dalam rangka menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Dan sesungguhnya para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena ridha terhadap perbuatan menuntut ilmu. Dan sesungguhnya orang yang berilmu itu akan dimintakan ampun oleh segala makhluk yang ada di langit maupun di bumi bahkan ikan yang berada di dalam air. Keutamaan orang alim atas orang yang ahli ibadah adalah sebagaimana bulan dibandingkan dengan seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi. Para Nabi tidaklah mewariskan dinar maupun dirham, akan tetapi mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa yang menyerap ilmu itu maka sungguh dia telah mendapatkan bagian jatah warisan yang sangat banyak." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
عن ابن مسعود رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم يقول: نضّر اللَّه امرأ سمع منا شيئاً فبلغه كما سمعه فرب مبلغ أوعى من سامع رَوَاهُ التِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صحيح.
Dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu'anhu beliau berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Semoga Allah mencerahkan wajah orang yang mendengar sabda-sabdaku lalu dia menyampaikannya kepada orang lain seperti apa yang dia dengar. Terkadang orang yang diberitahu lebih paham daripada orang yang mendengar (yaitu yang menyampaikan tadi)." (HR. Tirimidzi, dia berkata : hadits hasan sahih)
عن أبي هريرة رَضيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: من سئل عن علم فكتمه ألجم يوم القيامة بلجام من نار رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ وَقَالَ حَدِيثٌ حَسَنٌ.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang ditanya tentang suatu ilmu kemudian justru menyembunyikannya maka dia akan dijerat dengan tali dari api pada hari kiamat nanti." (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi, dia berkata : hadits hasan)
عنه رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم: من تعلم علماً مما يبتغى به وجه اللَّه عز وجل لا يتعلمه إلا ليصيب به عرضاً من الدنيا لم يجد عرف الجنة يوم القيامة يعني ريحها. رَوَاهُ أبُو دَاوُدَ بإسناد صحيح
Dari Abu Hurairah radhiyallahu'anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Barangsiapa yang menuntut ilmu yang seharusnya dipelajari demi mengharapkan wajah Allah 'azza wa jalla akan tetapi dengan ilmu itu dia justru menginginkan kesenangan dunia maka dia tidak akan bisa mencium bau surga pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud dengan sanad sahih)
عن ابن عمرو بن العاص رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال سمعت رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم يقول: إن اللَّه لا يقبض العلم انتزاعاً ينتزعه من الناس، ولكن يقبض العلم بقبض العلماء، حتى إذا لم يبق عالماً اتخذ الناس رؤوساً جهالاً فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا مُتَّفَقٌ عَلَيهِ.
Dari Ibnu 'Amr bin Al-'Ash radhiyallahu'anhu dia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya Allah tidak akan mencabut ilmu secara langsung dari umat manusia. Akan tetapi Allah akan mencabut ilmu (secara bertahap) dengan cara mewafatkan para ulama, hingga tiba saatnya tidak tersisa lagi orang alim maka orang-orang pun mengangkat pemimpin-pemimpin yang bodoh. Maka mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu. Mereka itu sesat dan menyesatkan." (Muttafaq 'alaih)
Syaikh Bin Baz rahimahullah berkata, "Dengan demikian jelaslah bagi para ulama dan ahli iman tentang betapa besar bahaya dan akibat buruk yang muncul apabila ulama yang baik sudah lenyap atau apabila mereka sengaja meninggalkan perannya dan malah memberikannya kepada orang lain. Dan tidaklah tersembunyi bagi kita bahwasanya apabila seorang alim itu -entah menjabat sebagai hakim atau yang lainnya- berijtihad dan benar niscaya dia akan memperoleh dua pahala. Dan apabila dia berijtihad dan terjatuh dalam kesalahan maka dia mendapatkan satu pahala. Sebagaimana hal itu sudah tercantum dalam hadits shahih dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka sebenarnya tidak ada bahaya bagi dirinya apabila dia senantiasa bersikap jujur, ikhlas dan serius mencari kebenaran. Yang dikhawatirkan sebenarnya ialah orang-orang yang menerjuni dunia peradilan dengan tidak sebagaimana mestinya, juga orang yang berfatwa dengan landasan kebodohan, atau orang yang mengadili dengan tindakan curang. Hal itu sebagaimana telah disebutkan di dalam hadits Buraidah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Ada tiga macam hakim. Dua di antaranya berada di neraka dan satu berada di surga. Adapun yang berada di surga ialah seorang hakim yang mengetahui kebenaran dan memutuskan perkara dengannya. Sedangkan seorang hakim yang mengetahui kebenaran akan tetapi malah memutuskan perkara dengan curang maka dia berada di neraka. Kemudian seorang hakim yang memutuskan perkara di kalangan umat manusia dengan landasan kebodohan maka dia juga di neraka.” (HR. Abu Dawud, At Tirmidzi, An Nasa’i, Ibnu Majah dan dishahihkan Al Hakim) Adapun orang yang berusaha mencari kebenaran dan bersungguh-sungguh dalam menerapkannya serta mengusahakan tersebarnya manfaat bagi kaum muslimin maka dia berada di antara dua posisi; kalau tidak mendapat dua pahala, ya mendapat satu pahala, sebagaimana sudah diterangkan terdahulu di dalam hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam." (Fadhlul 'ilmi wa syarafu ahlihi)

Jagalah ketakwaan …

Syaikh bin Baz rahimahullah berpesan, "Kemudian aku juga hendak berpesan kepada seluruh saudaraku umat Islam secara umum serta kepada para ahli ilmu dan pelajar secara khusus begitu juga kepada diriku sendiri untuk senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wa jalla dalam setiap urusan, juga untuk beramal dengan ilmu yang sudah kita miliki dengan cara menunaikan berbagai kewajiban yang dibebankan Allah kepada kita dan supaya menjauhi berbagai hal yang diharamkan-Nya. Karena seorang penuntut ilmu adalah menjadi teladan bagi orang yang lainnya dalam melakukan atau meninggalkan sesuatu pada semua kondisinya; baik tatkala di dalam sidang peradilan maupun bukan, ketika berada di jalan maupun ketika berada di rumahnya, dalam pergaulan dan perkumpulannya dengan sesama manusia, ketika mengendarai angkutan, ketika berada di bandara, dan dalam semua situasi yang dialaminya. Sehingga seharusnya dia adalah contoh dalam kebaikan. Wajib baginya untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah dan beramal dengan ilmu yang diajarkan oleh Allah subhanahu dan mendakwahi manusia untuk mengikuti kebaikan dengan perkataan dan perbuatannya secara beriringan. Sehingga dia akan tampak jelas di antara manusia dengan ilmu dan keutamaan yang dimilikinya dan perjalanan hidupnya yang lurus serta metode yang diterapkannya yang berada di atas manhaj Nabawi yang dititi oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya yang mulia, semoga Allah meridhai mereka, dan mereka juga sangat menaruh perhatian yang dalam untuk memberikan kejelasan bagi umat tanpa diiringi maksud untuk menyombongkan diri di hadapan mereka."

"Seorang alim maupun bukan, maka sesungguhnya berada di tepi bahaya yang sangat menakutkan. Terkadang bahaya itu datang dari sisi riya’, dan terkadang dari sisi kesombongan, dan terkadang bersumber dari sebab yang lainnya atau maksud-maksud buruk lainnya. Maka kewajiban baginya adalah bertakwa kepada Allah dan mengikhlaskan amalan untuk-Nya. Dan hendaknya dia selalu mendekatkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala dalam seluruh urusannya. Dan hendaknya dia menjadi orang yang tawadhu’ di hadapan hamba-hamba Allah, tidak bersikap sombong kepada mereka dengan ilmu yang diberikan oleh Allah kepada dirinya dan tidak diberikan kepada kebanyakan orang. Maka hendaknya dia bersyukur kepada Allah karenanya. Dan salah satu bentuk syukur kepada Allah ialah dengan bersikap tawadhu’, tidak sombong. Termasuk bentuk syukur kepada Allah adalah menyebarkan ilmu di masjid-masjid atau di tempat-tempat lain…." (Fadhlul 'ilmi wa syarafu ahlihi)

Pelajari Al-Qur'an dan As-Sunnah

Syaikh bin Baz rahimahullah berpesan, "… Selain itu saya juga berpesan kepada saudara-saudaraku semuanya, terutama para ahli ilmu dan pelajar supaya menaruh perhatian besar terhadap Al-Qur’an Al-Karim. Karena ia adalah Kitab paling agung dan Kitab paling mulia yang telah memuat sebaik-baik ilmu pengetahuan dan ilmu yang paling bermanfaat seluruhnya, sebagaimana hal itu sudah tidak tersamar lagi. Al-Qur’an itulah pembantu terkuat sesudah Allah ‘azza wa jalla untuk bisa menopang upaya mendalami ilmu agama dan memahami seluk beluknya, dan juga untuk memupuk rasa takutnya kepada Allah ‘azza wa jalla. Ia juga menjadi sarana pendukung dalam rangka meneladani orang-orang baik. Oleh sebab itu aku mewasiatkan kepada semuanya dan juga kepada diriku sendiri untuk menaruh perhatian besar terhadap Kitab yang agung ini dengan cara merenungkan dan memahami makna-maknanya serta untuk memperbanyak membacanya di waktu siang maupun malam. Dan hendaknya kita selalu kembali merujuk kepadanya dalam memecahkan segala urusan. Dan hendaknya menelaah perkataan-perkataan ulama tafsir dalam memahami ayat-ayat yang belum dimengerti maksudnya, karena itu merupakan sarana terbaik untuk membantu memahami Kitabullah jalla wa ‘ala. Karena Kitab ini merupakan kitab yang terbaik, kitab yang paling utama dan kitab yang paling benar maka Allah Yang Maha suci pun berfirman tatkala mensifatinya, “Sesungguhnya Al-Qur’an ini akan menunjukkan kepada yang lebih lurus.” (QS. Al Israa’ : 9) Allah ‘azza wa jalla juga berfirman, “Dan Kami telah menurunkan kepadamu Al-Kitab sebagai penjelas segala sesuatu, sebagai petunjuk, rahmat dan kabar gembira bagi umat Islam.” (QS. An Nahl : 89) Allah jalla wa ‘ala juga berfirman, “Katakanlah : Ia (Al-Qur’an) merupakan petunjuk dan obat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Fushshilat : 44) Allah Yang Maha suci juga berfirman, “Tidak ada sesuatupun yang kami luputkan dari dalam Al-Kitab.” (QS. Al An’am : 38) Oleh sebab itulah maka sudah selayaknya bagi seluruh kaum muslimin dan muslimat dan terutama bagi ahli ilmu untuk mempelajarinya dengan penuh perhatian dan menggigitnya dengan gigi-gigi geraham mereka, dan berusaha keras dalam merenungkan, memahami dan mengamalkan isinya, dan juga dengan melihat penafsiran-penafsiran yang diberikan para ulama tentang masalah yang terasa sulit dipahami. Hal ini sesuai dengan firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh membawa barakah agar direnungkan ayat-ayatnya dan orang-orang yang berpikir mau mempelajarinya.” (QS. Shaad : 29) Allah subhanahu juga berfirman, “Apakah mereka tidak mau merenungkan Al-Qur’an, ataukah di atas hati mereka terdapat gembok-gembok yang menguncinya ?” (QS. Muhammad : 25)"

"Kemudian sesudah itu hendaknya ia juga mempelajari Sunnah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam, memperhatikan dan berusaha menghafalkan sebagiannya, sejauh yang mudah untuk dihafalkannya. Dengan tetap senantiasa memperbanyak mengulang dan menelaah hadits-haditsnya. Terutama hadits-hadits yang berkaitan dengan masalah akidah serta perkara lain yang wajib dikerjakan oleh hamba yang sudah terkena beban syari’at. Dan juga mempelajari Sunnah Nabi tentang amal diri pribadinya sendiri, karena hal itu lebih dekat jangkauannya dan lebih wajib baginya untuk menaruh perhatian tentangnya. Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman, “Katakanlah : Jika kalian mengaku mencintai Allah, maka ikutilah aku. Niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran : 31) Dan tidak ada jalan untuk bisa mengikuti beliau shallallahu 'alaihi wa sallam dengan sempurna melainkan dengan cara mempelajari hadits-hadits beliau, dengan menaruh perhatian terhadap hadits dan juga tetap menaruh perhatian terhadap Kitabullah ‘azza wa jalla secara beriringan. Aku nasihatkan kepada para ahli ilmu dan para pelajar agar mencurahkan perhatian kepada kitab-kitab hadits, dengan banyak membacanya, mengajarkannya dan mengulang-ulangnya… " (Fadhlul 'ilmi wa syarafu ahlihi)

Shalawat beriring salam semoga senantiasa terlimpah kepada Nabi kita Muhammad, kepada keluarganya dan para Sahabatnya. Alhamdulillaahilladzi bi ni’matihi tatimmush shalihaat

Disusun ulang 20 Shafar 1428
Hamba yang membutuhkan ampunan Rabbnya


Abu Muslih Ari Wahyudi

0 komentar:

Posting Komentar